Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

AMCG Kecam Seruan Geruduk Fenny Frans, Ilyas: Kritik Boleh, Intimidasi Jangan!

×

AMCG Kecam Seruan Geruduk Fenny Frans, Ilyas: Kritik Boleh, Intimidasi Jangan!

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Ketua Aliansi Makassar Cerdas Digital (AMCG), Ilyas Maulana, mengecam keras seruan untuk menggeruduk Fenny Frans di tengah polemik yang berkembang di media sosial. Ia menilai, ajakan tersebut tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk penyampaian pendapat karena berpotensi mengarah pada intimidasi dan mengancam rasa aman seseorang beserta keluarganya.

Menurut Ilyas, Fenny Frans tidak seharusnya dihakimi hanya karena reaksinya di media sosial, tanpa melihat konteks persoalan yang melatarbelakanginya. Ia menilai, respons Fenny perlu dipahami sebagai reaksi seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya ketika kehormatan sang anak dinilai telah direndahkan.

Example 500x700

“Fenny Frans adalah seorang ibu yang memiliki naluri untuk melindungi anaknya. Ketika anaknya menjadi sasaran ejekan atau perlakuan yang dianggap merendahkan martabat, wajar jika seorang ibu merasa terpanggil untuk membela. Jangan hanya melihat reaksinya, tetapi pahami juga apa yang melatarbelakangi sikap tersebut,” ujar Ilyas.

Ia menegaskan, membela martabat anak bukanlah sesuatu yang patut langsung dijadikan alasan untuk menghakimi seorang ibu di ruang publik. Menurutnya, setiap persoalan harus dilihat secara utuh, bukan berdasarkan potongan pernyataan atau konten yang beredar di media sosial.

Ilyas juga mengecam segala bentuk ajakan yang berpotensi mengerahkan massa untuk mendatangi atau menekan Fenny Frans. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi tindakan yang menimbulkan ketakutan, apalagi sampai mengancam keselamatan pribadi dan keluarga.

“Kalau ada yang tidak setuju dengan sikap Fenny Frans, silakan menyampaikan kritik secara terbuka dan bertanggung jawab. Namun, jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai pembenaran untuk menggeruduk seseorang. Kritik itu berbeda dengan intimidasi. Tidak ada persoalan di media sosial yang seharusnya diselesaikan dengan menciptakan tekanan massa,” tegasnya.

Bagi Ilyas, Fenny Frans juga memiliki hak untuk menyampaikan sikap dan membela keluarganya, sebagaimana setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Karena itu, publik perlu memberikan ruang bagi penyelesaian persoalan secara proporsional, tanpa menjadikan seseorang sebagai sasaran persekusi di ruang nyata maupun digital.

Sebagai Ketua AMCG, Ilyas mengingatkan bahwa kecerdasan digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi atau aktif di media sosial. Kecerdasan digital juga menuntut kedewasaan dalam memahami konteks, menghormati martabat orang lain, serta mempertimbangkan dampak dari setiap unggahan dan seruan yang disebarluaskan.

Ia menilai, masyarakat seharusnya tidak mudah terseret arus penghakiman massal hanya karena sebuah polemik menjadi viral. Sebaliknya, publik perlu mengedepankan empati, memeriksa persoalan secara menyeluruh, dan menghindari penyebaran konten provokatif yang dapat memperbesar konflik.

“Jangan sampai kita begitu mudah menghakimi seorang ibu yang berusaha membela anaknya, tetapi justru mengabaikan persoalan martabat anak itu sendiri. Fenny Frans tidak boleh dijadikan sasaran tekanan massa hanya karena polemik yang berkembang di media sosial. Hentikan seruan penggerudukan, hormati hak setiap pihak, dan selesaikan persoalan ini dengan kepala dingin serta tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tutup Ilyas Maulana.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *