MAKASSAR,- Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah tamu internasional bertajuk “Stroke Prevention and Control” pada Senin, 7 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini menghadirkan Dr. Michel-Elie Bachour dari St George’s University Hospital, London, United Kingdom, sebagai narasumber utama.
Kuliah tamu dibuka oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., dan dimoderatori oleh Dr. Wahyuni Salewe, S.ST., M.Kes. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa, dosen, tenaga kesehatan, peneliti, serta peserta dari berbagai institusi yang memiliki perhatian terhadap pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Prof. Sukri menyampaikan apresiasi kepada Dr. Michel-Elie Bachour yang telah bersedia membagikan pengetahuan dan pengalaman klinisnya kepada sivitas akademika Unhas. Pertemuan tersebut juga menjadi kelanjutan komunikasi akademik setelah keduanya bertemu dalam sebuah konferensi internasional di Qatar. Prof. Sukri berharap kerja sama yang terjalin dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan pendidikan dan penelitian serta membuka kesempatan bagi Dr. Bachour untuk berkunjung langsung ke Universitas Hasanuddin.
“Stroke merupakan persoalan kesehatan yang sangat penting karena dapat mengakibatkan kematian, kecacatan jangka panjang, dan beban besar bagi keluarga maupun sistem pelayanan kesehatan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong peningkatan pengetahuan tentang pencegahan, deteksi dini, dan penanganan stroke secara tepat,” ujar Prof. Sukri.
Dalam pemaparannya, Dr. Bachour menjelaskan bahwa stroke merupakan gangguan neurologis akut akibat masalah pada pembuluh darah otak. Secara umum, stroke dibedakan menjadi stroke iskemik akibat penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik akibat perdarahan. Keduanya dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak serta menimbulkan gangguan gerak, sensasi, kemampuan berbicara, penglihatan, keseimbangan, dan koordinasi.
Dr. Bachour memperkenalkan metode B-FAST untuk membantu masyarakat mengenali tanda-tanda awal stroke. Huruf B merujuk pada balance atau gangguan keseimbangan yang muncul secara tiba-tiba; E berarti eyes atau gangguan penglihatan; F berarti face atau wajah yang tampak tidak simetris; A berarti arms atau kelemahan pada lengan maupun tungkai, terutama pada satu sisi tubuh; S berarti speech atau gangguan berbicara; dan T berarti time, yaitu waktu untuk segera menghubungi layanan kegawatdaruratan.
“Apabila tanda atau gejala tersebut muncul secara akut dan tiba-tiba, sudah waktunya untuk segera memanggil ambulans. B-FAST bukan merupakan alat diagnosis, tetapi dapat membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya stroke,” jelas Dr. Bachour. Ia menekankan bahwa pengenalan gejala dan tindakan cepat sangat menentukan keberhasilan penanganan karena keterlambatan dapat meningkatkan risiko kerusakan otak, kecacatan, dan kematian.
Selain membahas penanganan akut, Dr. Bachour memberikan perhatian khusus pada faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Hipertensi, diabetes, kadar kolesterol yang tinggi, gangguan irama jantung, merokok, konsumsi alkohol, kelebihan berat badan, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor yang perlu dikendalikan. “Sebagian besar faktor risiko stroke dapat dicegah. Pola makan seimbang, hidrasi yang cukup, olahraga, pengendalian berat badan, serta menghindari rokok dan alkohol sangat penting untuk mencegah stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya,” ungkapnya.
Sesi diskusi membahas berbagai isu praktis, mulai dari kepatuhan pasien setelah keluar dari rumah sakit, rehabilitasi pascastroke, risiko stroke pada kehamilan dengan preeklamsia, hingga peran tenaga keperawatan dalam pelayanan stroke. Dr. Bachour menjelaskan bahwa rehabilitasi neurologis, fisioterapi berkelanjutan, pemantauan faktor risiko, dan pendampingan pasien sangat penting untuk meningkatkan kemampuan fungsional sekaligus mencegah terjadinya stroke berulang.
Ia juga menyoroti pentingnya pelayanan yang disesuaikan dengan karakteristik pasien. Pada pasien berusia lebih muda, tantangan dapat berupa kesulitan menghentikan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol, sedangkan pada pasien lanjut usia, masalah yang sering dijumpai adalah lupa atau tidak teratur mengonsumsi obat. Karena itu, edukasi, dukungan keluarga, tindak lanjut tenaga kesehatan, dan pelayanan berbasis komunitas diperlukan untuk mempertahankan perubahan perilaku dalam jangka panjang.
Dr. Wahyuni Salewe dalam penutupan kegiatan menyampaikan bahwa stroke bukan hanya kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan cepat, tetapi juga penyakit yang sangat memerlukan upaya pencegahan. Pengendalian berbagai faktor risiko, penerapan pola hidup sehat, pengenalan tanda peringatan sejak dini, dan akses tepat waktu terhadap pelayanan kesehatan menjadi komponen utama dalam menurunkan beban stroke di masyarakat.
Melalui kuliah tamu internasional ini, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin kembali meneguhkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan permasalahan kesehatan global. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik peserta, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan mendorong tindakan nyata dalam pencegahan serta pengendalian stroke di tengah masyarakat.
















