Makassar, 11 September 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kuliah tamu internasional bertajuk “Trustworthy AI for Critical Systems and Health Innovation” pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini menghadirkan Professor Alan Wee-Chung Liew, Head of the School of Information and Communication Technology, Griffith University, Australia. Kuliah tamu diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, tenaga kesehatan, serta peserta dari berbagai institusi.
Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, *Prof. Sukri Palutturi, S.KM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence merupakan salah satu isu paling aktual yang berkembang sangat pesat dan telah diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu kesehatan. Oleh karena itu, sivitas akademika perlu memahami bukan hanya manfaat AI, tetapi juga tantangan dan risiko yang menyertai penggunaannya.
Prof. Sukri mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Sekolah Pascasarjana Unhas dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan dan penelitian. “Universitas Hasanuddin terus berupaya meningkatkan program internasionalisasi dalam berbagai aspek, termasuk melalui profesor tamu, konferensi internasional, penelitian bersama, dan publikasi kolaboratif,” ujar Prof. Sukri. Ia juga berharap pertemuan tersebut dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Universitas Hasanuddin dan Griffith University pada masa mendatang.
Dalam pemaparannya, Professor Alan menjelaskan bahwa kemampuan AI telah berkembang sangat pesat seiring dengan kemajuan deep learning, large language models, generative AI, dan agentic AI. Namun, tingginya akurasi sebuah model belum cukup untuk menjamin bahwa teknologi tersebut aman digunakan dalam kehidupan nyata. “Akurasi yang tinggi memang diperlukan, tetapi belum cukup untuk menjamin penerapan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam kondisi dunia nyata,” jelasnya.
Menurut Professor Alan, AI kini telah menjadi bagian dari infrastruktur penting dan digunakan dalam layanan kesehatan, industri, pemerintahan, perbankan, dan berbagai sistem publik. Kegagalan sistem AI dalam bidang-bidang tersebut dapat menimbulkan konsekuensi operasional, etis, finansial, bahkan mengancam keselamatan manusia. Karena itu, sistem AI harus memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu andal, dapat dijelaskan, tangguh terhadap gangguan, aman dari serangan, mampu melindungi privasi, dan dilengkapi mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Dalam bidang kesehatan, AI menawarkan peluang besar untuk membantu diagnosis dini, mendukung pemilihan terapi yang lebih personal, menganalisis citra medis dalam jumlah besar, dan memprediksi risiko pasien. Meskipun demikian, penerapannya juga membawa risiko berupa bias, kesalahan interpretasi, pelanggaran privasi, serta rekomendasi yang tidak sesuai dengan kondisi klinis. “AI dalam bidang kesehatan menghadirkan peluang sekaligus risiko. Apabila tidak dikembangkan secara hati-hati, bias dan kesalahan interpretasi dapat menyebabkan atau bahkan memperbesar bahaya bagi pasien,” tegas Professor Alan.
Professor Alan juga memaparkan berbagai penelitian yang dikembangkan melalui TrustAGI Lab dan AI for Health Lab di Griffith University. Penelitian tersebut mencakup analisis citra medis, patologi, dermatologi, neurosains, informatika kesehatan, rekam medis elektronik, serta pemanfaatan AI untuk mendukung keputusan klinis. Salah satu proyek yang dikembangkan berfokus pada penggunaan AI untuk membantu memprediksi hasil intervensi pada anak dengan cerebral palsy berdasarkan data kesehatan dan pendekatan penalaran kausal.
Sesi diskusi yang dipandu oleh Dr. Wahyuni, M.Kes. berlangsung interaktif dan membahas langkah awal bagi peneliti kesehatan yang belum memiliki pengalaman dalam mengembangkan sistem AI. Menanggapi pertanyaan tersebut, Professor Alan menekankan pentingnya kolaborasi multidisiplin. “Langkah terbaik adalah mempertemukan tenaga medis yang memahami permasalahan klinis dengan ilmuwan AI yang memiliki keahlian teknis. Kedua bidang tersebut harus bekerja bersama untuk menghasilkan sistem yang benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak,” jelasnya.
Prof. Sukri menyambut baik peluang kolaborasi antara Sekolah Pascasarjana Unhas dan Griffith University dalam bidang pendidikan, penelitian, serta publikasi ilmiah. Dengan keberadaan 17 program studi yang mencakup ilmu lingkungan, biomedik, teknik biomedis, manajemen transportasi, kebidanan, dan kajian pembangunan, Sekolah Pascasarjana Unhas memiliki potensi besar untuk mengembangkan penelitian AI secara multidisiplin. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Melalui kuliah tamu internasional ini, Sekolah Pascasarjana Unhas menegaskan komitmennya dalam mempersiapkan sivitas akademika menghadapi perkembangan teknologi digital secara kritis dan bertanggung jawab. Kemajuan AI perlu diiringi dengan transparansi, keamanan, perlindungan privasi, akuntabilitas, serta tata kelola yang kuat agar inovasi teknologi benar-benar dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat yang aman serta berkeadilan bagi masyarakat.
















