JAKARTA — Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung, memberikan penjelasan menyeluruh terkait insiden perundungan yang terjadi dalam kegiatan kepramukaan di lingkungan sekolah pada akhir Agustus lalu. Menanggapi berbagai pertanyaan yang berkembang di masyarakat maupun di ruang publik, ia menegaskan bahwa penanganan peristiwa ini semata-mata berpedoman pada fakta, aturan, serta kepentingan terbaik bagi anak-anak, tanpa dipengaruhi hubungan pribadi maupun politik siapa pun.
Manajemen sekolah telah melakukan pemeriksaan internal, menjatuhkan sanksi kepada siswa maupun pembina yang terlibat, mempertemukan para orang tua, serta melaporkan peristiwa kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Langkah tersebut kini diikuti dengan upaya memastikan kelengkapan fakta sekaligus mencegah kejadian serupa terulang kembali. Terkait pertanyaan yang beredar luas mengenai identitas salah satu pihak yang diduga terlibat, Tamsil menegaskan tidak akan mengonfirmasi maupun membuka identitas anak tersebut.
Klaim yang menyebutkan nama atau latar belakang keluarga yang tersebar di media sosial belum terverifikasi secara resmi, sehingga tidak pantas dijadikan rujukan. Prinsip yang dipegangnya tegas: siapa pun orang tuanya, setiap siswa berhak diperlakukan sama, namun hak serta perlindungan identitas anak tetap harus dijunjung tinggi.
Tamsil menegaskan hubungan pribadi maupun politik dengan pihak mana pun tidak boleh menjadi ukuran dalam menyelesaikan persoalan yang menyangkut anak. Acuan yang dipakai adalah kebenaran yang terbukti, peraturan yang berlaku, serta kepentingan utama anak yang terdampak. Hal ini penting dijaga agar penanganan tidak teralihkan dari tujuan yang sesungguhnya.
Menyikapi keterangan keluarga korban yang menyebutkan sekolah lambat merespons hingga akhirnya siswa tersebut berpindah sekolah, Tamsil menyampaikan penghormatan atas pengalaman yang dialami keluarga serta keprihatinan yang mendalam. Ia telah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban dan menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi.
Mengenai perbedaan versi mengenai kronologi komunikasi dan pertemuan yang berlangsung, Tamsil menyatakan tidak pantas menyelesaikan perbedaan tersebut melalui media. Yang perlu dilakukan adalah memeriksa urutan kejadian secara menyeluruh serta memastikan anak yang terdampak mendapatkan perhatian dan pemulihan yang layak.
Ia juga menyampaikan bahwa dari pertemuan yang difasilitasi kepala sekolah, para pihak sempat mengakui peristiwa berawal dari candaan yang kemudian berujung pada luka yang tidak diinginkan, dan hal inilah yang paling disesalkan. Peristiwa ini pun tidak sepatutnya berkembang menjadi konflik antar keluarga atau wali murid.
Terkait keterbatasan pengawasan di lokasi kegiatan yang dikaitkan dengan belum terpasangnya alat perekam, Tamsil menyatakan akan memeriksa langsung kondisi yang sebenarnya. Pengamanan sekolah tidak boleh bergantung pada satu sarana saja, melainkan mencakup keseluruhan sistem: kehadiran pembina di lapangan, prosedur kegiatan yang jelas, mekanisme pengaduan yang mudah diakses, serta kelengkapan sarana pendukung. Seluruh aspek ini akan ditinjau secara menyeluruh.
Langkah perbaikan yang direncanakan tidak hanya berhenti pada penjatuhan sanksi kepada individu yang terlibat, melainkan menyasar sistem perlindungan anak secara menyeluruh, mulai dari pedoman kegiatan, pengawasan pendidik dan pembina, hingga jalur pengaduan yang aman bagi siswa maupun orang tua. Apabila diperlukan, keterlibatan pihak independen dalam proses evaluasi juga akan dipertimbangkan.
Terkait kemungkinan pergantian pimpinan sekolah, Tamsil menegaskan tidak akan mendahului hasil pemeriksaan. Evaluasi sistem diutamakan terlebih dahulu, dan jika ditemukan tanggung jawab yang harus dipikul, konsekuensi akan diambil secara proporsional sesuai temuan.
Ia juga menegaskan tidak akan berspekulasi mengenai kemungkinan adanya pihak lain yang terdampak, namun membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang memiliki informasi untuk menyampaikannya secara aman dan ditangani dengan serius. Menjawab kekhawatiran orang tua mengenai keamanan lingkungan sekolah saat ini, Tamsil menyatakan kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan pernyataan, melainkan harus dibuktikan melalui perbaikan nyata. Seluruh kelemahan yang ditemukan akan ditutup, pengawasan diperkuat, dan keselamatan anak dijadikan landasan utama setiap kebijakan sekolah.
Kepada anak yang menjadi korban beserta keluarganya, Tamsil menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Anak yang telah mengalami peristiwa berat demikian tidak seharusnya dibebani kembali oleh perdebatan di ruang publik. Pemulihan kondisi, perlindungan privasi, serta kelangsungan pendidikan anak itulah yang menjadi fokus utama.
Terkait waktu pernyataan ini disampaikan, Tamsil menjelaskan tidak ingin menambah keramaian ketika fakta masih berkembang. Namun ketika persoalan telah menjadi perhatian luas, sebagai Ketua Dewan Pembina ia merasa berkewajiban hadir untuk memastikan lembaga tidak menghindar dari tanggung jawab menjelaskan, mengevaluasi, dan memperbaiki diri demi kepercayaan masyarakat serta keamanan setiap anak yang belajar di lingkungan ICM.
















