MAKASSAR – Upaya menekan angka agresivitas dan perundungan (bullying) di kalangan remaja kini dilakukan dengan cara yang unik, yakni melalui pendekatan kearifan lokal. Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) bekerja sama dengan UPTD PPA Kota Makassar dan SMPN 20 Makassar menggelar “Festival Budaya” dengan tema utama “Revitalisasi Nilai Siri’ Na Pacce Untuk Menurunkan Tingkat Agresivitas Pada Remaja”.
Kegiatan yang berlangsung di SMPN 20 Makassar ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan bentuk implementasi praktis Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Psikologi Budaya. Hadir langsung memberikan pendampingan, dosen pengampu mata kuliah tersebut, Muhrajan Piara, S.Psi., M.Sc., guna memastikan intervensi psikoedukasi yang diberikan mahasiswa tepat sasaran secara metodologis.
Mengubah Teori Menjadi Aksi nyata Dalam festival ini, para siswa diajak memahami kembali nilai Siri’ Na Pacce (Harga diri dan Empati) melalui berbagai pos interaktif. Program ini mencakup rekonstruksi nilai melalui psikoedukasi, latihan regulasi diri, hingga kampanye prinsip hidup Taro Ada Taro Gau. Selain itu, siswa juga mengeksplorasi permainan tradisional untuk mengasah keterampilan psikososial dan menanamkan nilai Sipakatau (Saling memanusiakan) sebagai benteng pertahanan melawan perilaku agresif.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 20 Makassar menyatakan bahwa revitalisasi nilai budaya sangat relevan dengan tantangan remaja saat ini. Menurutnya, kolaborasi ini membantu siswa mempraktikkan cara menjadi pribadi yang berintegritas dan saling menghargai dalam pergaulan sehari-hari.
Suara Siswa: Lebih Dari Sekadar Pelajaran di Kelas Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta. Nabila, siswa kelas 8E, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pengendalian emosi.
“Kegiatannya sangat menghibur. Saya jadi lebih mengerti pentingnya tanggung jawab dan menahan amarah melalui games yang tadi dimainkan,” ungkap Nabila.
Senada dengan hal tersebut, Adel, rekan sekelas Nabila, menyoroti pentingnya nilai harga diri untuk menjaga martabat diri dan keluarga.
“Awalnya saya kurang mengerti arti Siri’ Na Pacce, tapi setelah penjelasan kakak-kakak mahasiswa, saya jadi paham contoh perilakunya untuk kehidupan sehari-hari agar tidak merusak nama baik sendiri,” kata Adel.
Melalui sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah, Festival Budaya ini diharapkan menjadi model berkelanjutan dalam membangun ketahanan mental remaja di Kota Makassar dengan tetap berpijak pada akar budaya lokal.
















