Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

 PP KAMMI Sesalkan Pembubaran Kopdar di UGM: Kritik Semestinya Dilawan dengan Gagasan, Bukan Tekanan

×

 PP KAMMI Sesalkan Pembubaran Kopdar di UGM: Kritik Semestinya Dilawan dengan Gagasan, Bukan Tekanan

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Wakil Ketua Umum  KAMMI Pusat, Herianto, menyayangkan terjadinya pembubaran forum diskusi “Kopdar” yang mengangkat tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak sejalan dengan semangat demokrasi, kebebasan akademik, dan nilai-nilai Pancasila yang justru menjunjung tinggi dialog serta persatuan di tengah perbedaan.

“Forum yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan, memperkaya gagasan, dan memperkuat komitmen kebangsaan. Karena itu, sangat disayangkan ketika forum tersebut tidak diberi kesempatan untuk berlangsung secara utuh,” ujar Herianto, Selasa, 16/06/2026.

Example 500x700

Ia menegaskan bahwa kampus merupakan ruang intelektual yang dibangun di atas tradisi diskusi, perdebatan, dan pertukaran gagasan. Kehadiran para pejabat negara dalam forum tersebut seharusnya menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan kritik, pertanyaan, maupun pandangan yang berbeda secara langsung dan terbuka.

“Jika ada ketidaksetujuan terhadap narasumber atau materi yang disampaikan, maka jawabannya bukan membubarkan forum. Gunakan kesempatan itu untuk menguji gagasan mereka, mempertanyakan kebijakan yang dianggap bermasalah, dan menyampaikan kritik dengan data serta argumentasi yang kuat. Itulah esensi kehidupan akademik dan kedewasaan dalam berdemokrasi,” tegasnya.

Menurut Herianto, demokrasi tidak hanya memberikan hak untuk berbicara, tetapi juga mengajarkan pentingnya menghormati hak orang lain untuk didengar. Pemaksaan kehendak, intimidasi, maupun tindakan yang menghalangi berlangsungnya dialog hanya akan mempersempit ruang demokrasi dan menghilangkan kesempatan publik untuk mendapatkan klarifikasi langsung dari para pengambil kebijakan.

“Mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual yang kritis dan berani menyampaikan kebenaran. Karena itu, kritik harus tetap hidup dan terus disuarakan. Namun kritik yang paling kuat adalah kritik yang disampaikan melalui argumentasi, adu data, dan dialog terbuka, bukan melalui pembubaran forum atau tindakan represif,” lanjutnya.

Herianto berharap peristiwa ini menjadi refleksi bersama bahwa perbedaan pandangan tidak boleh berujung pada pembungkaman. Justru di tengah beragam pandangan dan kepentingan, nilai-nilai Pancasila harus menjadi landasan untuk membangun ruang dialog yang sehat, beradab, dan saling menghormati.

“Pancasila mengajarkan kita untuk bermusyawarah, berdialog, dan mencari titik temu dalam setiap perbedaan. Karena itu, mari kita jaga kampus sebagai ruang pertarungan gagasan, bukan pertarungan untuk saling meniadakan. Semakin terbuka ruang diskusi, semakin kuat pula demokrasi dan persatuan bangsa yang kita cita-citakan bersama,” tutup Herianto.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *