Jakarta, 30 Mei 2026 – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Aquinas dengan bangga menyelenggarakan rangkaian peringatan Dies Natalis ke-79 yang berlangsung pada 25–29 Mei 2026. Mengangkat tema “Dari Viralitas ke Veritas: Meneguhkan Riset, Kepakaran, dan Kemanusiaan”, peringatan tahun ini menjadi momentum peneguhan komitmen PMKRI dalam melahirkan kader-kader intelektual yang berpijak pada kebenaran, kepakaran, dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah era digital yang kerap lebih mendahulukan viralitas daripada substansi.
Rangkaian Dies Natalis ke-79 PMKRI resmi dibuka pada Senin, 25 Mei 2026, bertempat di Margasiswa 1 PMKRI, Jl. Dr. Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat. Margasiswa, yang secara harfiah berarti “rumah bagi mahasiswa,” menjadi tempat yang tepat untuk memulai perjalanan merayakan ulang tahun organisasi yang telah menempa ribuan kader intelektual Katolik sejak tahun 1947 ini. Suasana kebersamaan dan semangat kekeluargaan mewarnai pembukaan rangkaian, sekaligus menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan panjang perjuangan PMKRI.
Puncak peringatan Dies Natalis ke-79 diselenggarakan pada Jumat, 29 Mei 2026, di Aula Teater Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia. Pemilihan venue di instansi pemerintahan ini mencerminkan peran strategis PMKRI sebagai organisasi mahasiswa yang tidak hanya bergerak di ranah intelektual-akademis, tetapi juga aktif mengambil bagian dalam kehidupan kebangsaan.
Malam puncak dibuka dengan sambutan oleh Susana Florika Marianti Kandaimu, Ketua Pengurus Pusat PMKRI St. Thomas Aquinas periode 2024–2026. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran mahasiswa Katolik dalam merespons tantangan zaman, khususnya di era disrupsi digital yang kerap mengaburkan batas antara kebenaran dan viralitas. Ia mengajak seluruh kader PMKRI untuk terus memperkuat budaya riset, menghargai kepakaran, dan menempatkan kemanusiaan sebagai landasan dalam setiap langkah perjuangan.
“Harapannya di usia ke-79 tahun, PMKRI terus mengakar dan memberikan masukan bagi bangsa. PMKRI adalah organisasi eksternal kampus yang juga memiliki fungsi kontrol terhadap pemerintah,” tegas Susan.
Dalam sambutannya juga Susan menegaskan peran PMKRI selama 79 tahun hadir untuk Bangsa Indonesia, dia juga mendorong agar pemerintah segera mengesahkan RUU masyarakat adat guna melindungi masyarakat adat terkhususnya di Papua.
“Tanah Papua perlu dilindungi, manusia Papua juga perlu dilindungi,” ucap Susan.
Momen refleksi yang mendalam disampaikan oleh Bapak Gaudensius Wodar, Anggota Penyatu PMKRI, yang membawa seluruh hadirin untuk menyelami perjalanan panjang dan makna mendalam dari perjuangan 79 tahun PMKRI. Refleksi tersebut menjadi momen pengingat bahwa eksistensi PMKRI bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan intelektual dan spiritual yang terus relevan dalam setiap era.
“79 tahun PMKRI adalah kisah panjang kader yang belajar, berdebat, jatuh, dan bangkit bersama rakyat. Dari ruang Margasiswa hingga pelosok Nusantara, kita ditempa bukan untuk nyaman, tapi untuk setia. Setia membaca tanda zaman, setia menjadi suara nurani, setia membela yang lemah. Perjalanan ini membuktikan bahwa PMKRI hidup karena kadernya berani berpikir kritis, beriman dalam tindakan, dan mengabdi tanpa pamrih,” jelas Bapak Gaudensius Wodar.
Salah satu momen paling bersejarah dalam malam puncak ini adalah peluncuran buku yang ditulis oleh para pengurus pusat PMKRI periode 2024–2026. Karya kolektif ini merupakan wujud nyata komitmen PMKRI terhadap tradisi intelektual dan budaya literasi. Buku ini diharapkan menjadi kontribusi konkret bagi pengembangan wacana kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan, sekaligus menjadi warisan intelektual dari kepengurusan periode ini bagi generasi PMKRI selanjutnya.
Malam puncak ditutup dengan tradisi pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas 79 tahun perjalanan PMKRI. Ritual budaya ini menjadi simbol rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan penyertaan-Nya, sekaligus pengharapan agar PMKRI terus bertumbuh dan memberikan kontribusi terbaik bagi gereja, bangsa, dan kemanusiaan.
Melalui tema “Dari Viralitas ke Veritas,” PMKRI menegaskan sikapnya sebagai organisasi yang tidak hanya mengikuti arus zaman, tetapi aktif membentuknya berdasarkan nilai-nilai kebenaran, kepakaran, dan kemanusiaan. Di tengah banjir informasi dan budaya viral yang mendominasi ruang publik, PMKRI hadir untuk mengingatkan bahwa kebenaran adalah fondasi yang tidak tergantikan.
Dengan semangat yang terbarukan, PMKRI menatap usia ke-79 ini bukan sebagai capaian yang menimbulkan kebanggaan semata, melainkan sebagai panggilan untuk terus bergerak lebih dalam, lebih kritis, dan lebih berani dalam memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan martabat manusia.














