PONTIAN, JOHOR – Tim peneliti dari Universitas Negeri Makassar (UNM) bersama kolaborator dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertajuk “Comparative Study of Spatial Evolution in Bugis Wajo (Indonesia) and Bugis Diaspora in Pontian (Malaysia)”. Kegiatan berlangsung pada 15 Juli 2026 di Pejabat Homestay Tanjung Piai, Kukup, Pontian, Johor, Malaysia.
Penelitian ini merupakan kajian komparatif yang bertujuan mengkaji perkembangan serta perubahan tata ruang rumah tradisional Bugis di wilayah asalnya, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, sekaligus menelaah bagaimana bentuk dan pola ruang tersebut berkembang pada masyarakat Bugis diaspora di Pontian, Johor.
Tim peneliti utama dari UNM terdiri atas Dr.techn. Ar. Andi Abidah, S.T., M.T., IAI; Dr. Ir. Moh. Junaedy R., S.T., M.T.; serta Agung Alif Pratama Kappi, S.T., M.R.K. Sementara itu, peneliti kolaborator dari UTM adalah Prof. Madya Dr. Alice Sabrina Ismail. Kegiatan lapangan juga didukung Ar. Ivan Fachrul Marsa, S.T., S.Ars., IAI sebagai asisten peneliti, serta Abd. Hadi Bin Ambok Intang dan Andi Muhammad Batara Rezqi sebagai surveyor.
FGD ini dihadiri sekitar 30 peserta yang merupakan masyarakat keturunan Bugis dari berbagai wilayah di Pontian dan sekitarnya, meliputi tokoh masyarakat, pemilik rumah tradisional, pemerhati budaya, serta warga yang memiliki pengetahuan turun-temurun mengenai arsitektur dan sejarah permukiman Bugis di Johor.
Diskusi berlangsung secara interaktif dan menjadi wadah pertukaran pengetahuan yang mendalam. Tim peneliti memaparkan hasil observasi di sejumlah rumah Bugis tradisional di Wajo, mencakup perubahan tata ruang, fungsi ruang, serta elemen arsitektur yang masih bertahan hingga kini. Sebaliknya, peserta berbagi pengalaman mengenai tradisi membangun rumah yang diwariskan di Johor, mulai dari proses penentuan waktu pembangunan, pemilihan bahan, pemasangan tiang utama, hingga berbagai pantangan dan doa dalam tradisi konstruksi Bugis.
Peserta juga mengenalkan elemen khas rumah Bugis yang masih diingat dan dijalankan, seperti rakkeang, tamping, lego-lego, anjong bola, serta pembagian ruang berdasarkan fungsi dan hierarki keluarga. Menariknya, sejumlah istilah dan fungsi ruang tersebut masih terjaga meski bentuk fisiknya telah mengalami penyesuaian dengan lingkungan setempat.
Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah teridentifikasinya sejumlah rumah Bugis tua di Pontian yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun. Informasi ini menjadi data berharga untuk penelitian lanjutan terkait persebaran permukiman dan upaya pelestarian warisan arsitektur tradisional Bugis di Malaysia.
Tim peneliti menilai, pertukaran pandangan ini membuktikan bahwa meskipun telah terpisah batas negara selama beberapa generasi, masyarakat Bugis di Johor masih menyimpan ingatan kolektif yang kuat terhadap konsep ruang, elemen bangunan, serta nilai-nilai budaya yang melekat pada hunian tradisional.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan penelitian lintas negara mengenai arsitektur dan budaya Bugis, serta mendorong upaya pendokumentasian rumah tradisional di kedua wilayah. Melalui kolaborasi UNM dan UTM, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi akademik sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya Bugis di kawasan Asia Tenggara.
















