MAKASSAR — Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan kuliah tamu internasional dengan mengangkat tema pemanfaatan bahan pertanian yang belum diolah secara maksimal sebagai solusi ketahanan pangan, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan bertajuk “Food Innovation from Underutilized Agriculture Materials: Food Security Solution Approach” ini menghadirkan Assoc. Prof. Mansoor Abdul Hamid dari Universiti Malaysia Sabah (UMS), Malaysia, sebagai pembicara utama.
Berlangsung secara hibrida di Aula Prof. Dr. Ir. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Unhas, serta melalui platform Zoom mulai pukul 10.00 WITA, sesi ini dipandu oleh Dr. Andi Muliarni Okasa, S.P., sebagai moderator. Forum tersebut mempertemukan dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk membahas pengembangan produk pangan bernilai tambah sekaligus menjajaki peluang kolaborasi akademik lintas negara.
Dalam sambutan pembukaan, Wakil Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas bidang riset, inovasi, dan kerja sama, Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan ketahanan pangan saat ini. Bahan pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai melalui penelitian ilmiah dan penerapan teknologi yang tepat.
Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkuat kerja sama antara Unhas dan UMS, khususnya dalam bidang penelitian, inovasi, publikasi, serta pertukaran akademik. Mahasiswa pascasarjana dan para peneliti didorong untuk memanfaatkan forum ini secara aktif guna bertukar gagasan dan memperluas wawasan.
Dalam pemaparannya, Mansoor Abdul Hamid menyoroti keterkaitan antara ketersediaan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan sumber daya yang ada. Ia menegaskan bahwa tersedianya pasokan belum serta merta menjamin kecukupan pangan apabila bahan tersebut sulit dijangkau atau belum diolah secara baik. Keamanan pangan dan pemenuhan gizi menjadi aspek penting yang harus diintegrasikan dalam setiap upaya pengembangan produk.
Ia kemudian memaparkan berbagai contoh bahan pertanian yang selama ini kurang mendapat perhatian, termasuk bagian buah dan hasil samping dari proses pengolahan. Nangka dan mangga disebut sebagai komoditas yang pemanfaatannya umumnya hanya berpusat pada daging buah, padahal bagian lainnya masih menyimpan potensi kandungan gizi yang dapat dikaji dan diolah lebih lanjut.
“Inovasi pangan dapat lahir dari pengkajian sumber daya yang sudah ada di sekitar kita. Penelitian terhadap bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan membuka peluang untuk meningkatkan nilai guna komoditas sekaligus memperkaya ragam bahan baku pangan,” ujar Mansoor.
Ia juga menekankan potensi besar Indonesia sebagai negara dengan kekayaan sumber daya pertanian yang beragam. Penguasaan teknologi pengolahan dinilai kunci untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Namun, tantangan tetap ada, salah satunya adalah memastikan ketersediaan pasokan bahan baku yang merata dan berkelanjutan, mengingat sumber daya tersebut tersebar di berbagai wilayah.
Kuliah tamu ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan yang memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara inovasi pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan ketahanan pangan nasional. Di samping itu, forum ini juga membuka jalan bagi kolaborasi riset antara Unhas dan UMS dalam mengembangkan gagasan yang berakar dari kekayaan sumber daya masing-masing negara.
















