Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

​Dari Aspal Jalanan Menuju Mimbar Akademi: Refleksi Ulang Tahun untuk Prof. Zakir Sabara

×

​Dari Aspal Jalanan Menuju Mimbar Akademi: Refleksi Ulang Tahun untuk Prof. Zakir Sabara

Sebarkan artikel ini
Screenshot

Oleh Arum Spink

​Ada orang-orang yang diciptakan untuk menjadi menara gading—indah dipandang dari kejauhan, namun dingin dan sulit disentuh. Namun, ada pula manusia yang memilih menjadi jembatan; ia kokoh menopang, menghubungkan yang terpisah, dan membiarkan dirinya dipijak demi kemaslahatan orang banyak. Di rumpun akademisi Sulawesi Selatan, jika saya harus menunjuk satu nama yang dengan sadar memilih menjadi jembatan itu, nama itu adalah Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara H. Wata.

Example 500x700

Hari ini, di hari miladnya, ingatan saya terlempar pada sebuah garis waktu yang panjang. Membaca rekam jejaknya adalah membaca sebuah metamorfosis yang langka sekaligus luar biasa.

​Kita yang mengenalnya sejak dulu tahu betul dari mana ia berangkat. Ia adalah rahim dari pergerakan jalanan. Jiwanya ditempa di atas aspal, suaranya parau meneriakkan keadilan di bawah terik matahari, dan energinya habis didekasikan sebagai aktivis yang berdiri paling depan membela hak-hak yang terpinggirkan. Lazimnya, panggung gerakan seringkali berjarak dengan panggung akademik yang kaku dan penuh sekat birokrasi. Namun, Zakir Sabara mematahkan stigma itu. Ia membuktikan bahwa ketajaman analisis seorang demonstran tidak harus tumpul ketika memasuki ruang-ruang ilmiah. Ia merawat idealisme itu, membawanya naik kelas hingga ke puncak tertinggi panggung akademik: menjadi seorang Guru Besar Teknik Kimia dan kini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor II UMI Makassar.

​Namun, setinggi apa pun tangga akademik yang ia daki, Zakir Sabara tidak pernah kehilangan “bau aspalnya”. Ia tidak berubah menjadi pejabat kampus yang berjarak.

​Sekitar setahun yang lalu, saya beruntung bisa bersua dengannya di sebuah warung kopi di bilangan Panakkukang. Di tengah kepulan asap kopi dan keriuhan khas Makassar, saya melihat sosok yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Tidak ada sekat protokoler, tidak ada jubah kebesaran profesor yang dipamerkan. Beliau tetaplah Zakir yang dulu: renyah dalam bergaul, hangat dalam menyapa, dan tajam dalam bertukar pikiran. Pertemuan di sudut Panakkukang itu mengonfirmasi satu hal dalam batin saya: manusia ini telah selesai dengan urusan egonya.

​Maka tidak heran, ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar, kalimat yang keluar dari lisannya justru sebuah refleksi yang menggetarkan: “Jabatan profesor ini beban sebenarnya, beban berat. Semoga karya-karya saya ke depan semakin bermanfaat.” Dan ketika takdir mengantarkannya kursi Wakil Rektor, ia menjalaninya dengan kepasrahan seorang sufi: “Kalau ditanya target ke depan, saya katakan tidak ada target khusus. Kita jalani saja takdir ini.”

​Kata “menjalani takdir” bagi seorang Zakir Sabara bukanlah kepasrahan yang pasif. Itu adalah kepasrahan yang bergerak. Saat bencana datang melanda, kita melihatnya turun ke kubangan lumpur, memimpin relawan, bertaruh keselamatan demi mengantarkan bantuan. Baginya, keilmuan teknik kimia atau ilmu lingkungan bukan sekadar deretan rumus di atas jurnal bereputasi, melainkan alat untuk memanusiakan manusia.

​Menariknya lagi, kelenturan jiwanya melampaui batas-batas generasi. Akhir-akhir ini, saya begitu menikmati bagaimana beliau melebur tanpa canggung dengan ekosistem digital baru: para konten kreator Makassar. Beliau merangkul anak-anak muda kreatif itu bukan sebagai objek, melainkan sebagai sahabat sekadar bertukar energi positif. Bahkan, publik dibuat tersenyum hangat menyaksikan sang Profesor turun langsung, meminjamkan wibawanya untuk menjadi “duta” atau juru bicara yang melamarkan seorang perempuan untuk salah satu konten kreator Makassar, Brocil.

​Itu adalah pemandangan yang puitis: seorang Wakil Rektor dan Guru Besar, dengan ketulusan seorang ayah sekaligus sahabat, berdiri di garis depan untuk merajut kebahagiaan anak muda. Di situlah kita melihat esensi kepemimpinan yang sesungguhnya—ia yang mampu berbicara dengan bahasa kekuasaan di ruang sidang, namun mampu berbicara dengan bahasa cinta di ruang-ruang sosial yang sederhana.

​Dalam pidato pengukuhannya tentang air, ia pernah memaparkan sebuah data ilmiah yang filosofis: bahwa molekul air membutuhkan waktu bertahun-tahun di laut lepas, membeku di gunung es, dan hanya sebentar berada di atmosfer sebelum akhirnya turun menjadi hujan yang menghidupkan bumi.

​Prof. Zakir Sabara adalah analogi dari siklus air itu. Perjalanan hidupnya yang panjang—dari kerasnya aspal jalanan, dinginnya ruang laboratorium, hingga hangatnya warung kopi di Panakkukang—adalah proses panjang untuk menjadikannya “hujan” yang sejuk bagi sekelilingnya.

​Barakallahu fii umrik, Prof. Zakir Sabara H. Wata.

​Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan yang prima, kekuatan yang tak kunjung surut, serta kebijaksanaan yang semakin jernih dalam mengemban beban berat akademik dan kemanusiaan. Teruslah menginspirasi, Prof. Teruslah menjadi pengingat bagi kami, bahwa sedalam apa pun ilmu, ia harus bermuara pada pengabdian. Dan setinggi apa pun jabatan, ia harus tetap membumi menjejak tanah.

​Selamat Ulang Tahun, S

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *