Oleh: Ismawan Amir, M.Sc.
Pemuda ICMI Sulsel
Minggu siang, 1 November 2026. Kompleks Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong, Bogor, menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan muda Muslim dari berbagai daerah. Forum itu bukan sekadar memilih ketua umum. Lima tahun perjalanan organisasi berikutnya ikut ditentukan di sana.
Munas akhirnya mempercayakan kepemimpinan kepada Nurfajri Budi Nugroho untuk periode 2026–2031. Ia menggantikan Ismail Rumadan yang telah memimpin sejak 2021.
Fajri didampingi ketua MPW Sulsel, Andi Alfian Zainuddin sebagai Sekretaris Jenderal dan Hendri Sabeth dari Jabar, sebagai Bendahara Umum.
Fajri bukan orang baru di dunia profesional. Ia pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Metrotvnews.com, ikut mendirikan Alinea.id, dan mengembangkan kiprahnya sebagai pengusaha di bidang komunikasi digital.
Dunia media mengajarkannya membaca perubahan dan menyampaikan gagasan. Dunia usaha mempertemukannya dengan tantangan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bernilai.
Kini pengalaman itu dibawa ke sebuah organisasi yang memiliki pekerjaan tidak kalah besar.
Dalam pesan awal setelah terpilih, Fajri menekankan pentingnya menghidupkan kembali tradisi kecendekiawanan.
Pemuda ICMI diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang ramai kegiatan, tetapi juga melahirkan gagasan dan karya.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang masih dibutuhkan adalah lebih banyak orang pintar yang mau turun tangan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Pemuda ICMI memiliki modal yang tidak kecil. Jaringannya tersebar di 32 provinsi dan 80 kabupaten/kota, bahkan menjangkau sejumlah negara di Eropa.
Di dalamnya berhimpun akademisi, peneliti, profesional, pengusaha, dan anak-anak muda dengan beragam keahlian.
Bayangkan jika seluruh potensi itu bergerak.
Kader di Aceh membantu petani kopi memperluas pasar. Anak-anak muda di Sulawesi mendampingi nelayan meningkatkan nilai jual hasil tangkapan. Kader di Jawa mengembangkan UMKM melalui teknologi digital.
Tidak harus dimulai dengan proyek besar. Mendampingi sepuluh UMKM hingga mampu memperluas pasar pun sudah menjadi pekerjaan yang berarti.
Jangan sampai organisasi memiliki banyak doktor, tetapi kesulitan menjawab persoalan pendidikan di sekitarnya.
Jangan sampai memiliki banyak pengusaha, tetapi tidak mampu melahirkan ekosistem kewirausahaan bagi kader dan masyarakat.
Ilmu pengetahuan seharusnya tidak berhenti di ruang seminar. Ia perlu berjalan ke desa, pasar, sekolah, sentra produksi, dan tempat-tempat masyarakat mencari penghidupan.
Saya melihat Pemuda ICMI memiliki kesempatan membangun tradisi baru, tradisi anak muda yang berpikir sekaligus berkarya.
Organisasi ini bisa menjadi ruang kolaborasi antara kampus, dunia usaha, pemerintah, dan komunitas masyarakat. Para peneliti bertemu pengusaha. Anak muda dengan kemampuan teknologi bertemu pelaku UMKM. Gagasan akademis dipertemukan dengan kebutuhan lapangan.
Hasilnya bukan sekadar rekomendasi, tetapi solusi yang bisa diuji dan dirasakan manfaatnya.















