Oleh: Rizkia Hidayati, M. Psi., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar)
Selama ini sekolah sering dipahami sebagai tempat anak memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan akademik melalui berbagai proses pembelajaran. Namun, kita jarang melihatnya dari sudut pandang psikologis: bagaimana perasaan siswa selama berada di sekolah? Apakah mereka merasa aman, nyaman, diterima, dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri?
Rasa aman yang dirasakan siswa ketika berada di sekolah dapat mendukung kesiapan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran sekaligus berkaitan dengan kesejahteraan psikologisnya. Siswa yang merasa aman memiliki ruang psikologis yang lebih baik untuk berkonsentrasi, bertanya ketika belum memahami materi, menyampaikan pendapat, berdiskusi dengan teman, dan nyaman saat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, ketika siswa merasa takut, terancam, atau terus-menerus khawatir terhadap perlakuan dari lingkungan sosialnya, perhatian mereka dapat terbagi antara menghadapi persoalan tersebut dan mengikuti pembelajaran. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengganggu proses belajar dan performa akademik mereka.
Maraknya kasus bullying yang terjadi di sekolah menjadi salah satu contoh yang memperlihatkan bagaimana lingkungan sekolah dapat memengaruhi pengalaman psikologis siswa. Berbagai sosialisasi mengenai bahaya bullying sudah sering dilakukan di sekolah. Siswa diajarkan untuk mengenali bullying, memahami dampaknya, dan tidak menjadi pelaku. Namun, kenyataannya, kasus bullying masih terus muncul.
Hal ini perlu membuat kita berpikir lebih jauh. Jika sosialisasi sudah berulang kali dilakukan, tetapi persoalan masih terjadi, apa yang menjadi akar permasalahannya? Mungkin persoalannya bukan semata-mata karena siswa tidak mengetahui bahwa bullying merupakan perilaku yang salah. Bullying juga dapat tumbuh dalam lingkungan yang membiarkan perilaku mengejek, merendahkan, mengucilkan, atau mempermalukan dianggap sebagai candaan yang biasa. Ketika perilaku tersebut berulang dan tidak mendapatkan respons yang tepat, batas antara bercanda dan menyakiti orang lain menjadi semakin kabur.
Bayangkan seorang siswa yang setiap hari datang ke sekolah dengan rasa khawatir karena takut diejek oleh teman-temannya. Saat guru menjelaskan pelajaran, pikirannya bukan hanya memikirkan materi, tetapi juga bertanya-tanya apakah ia akan kembali dipermalukan saat istirahat. Secara fisik ia memang berada di kelas, tetapi secara psikologis belum tentu sepenuhnya hadir dalam pembelajaran. Di sisi lain, siswa yang mengalami bullying belum tentu berani melapor.
Mereka mungkin takut dianggap lemah, takut tidak dipercaya, atau khawatir diperlakukan lebih buruk setelah bercerita. Pada kondisi seperti ini, persoalan bullying dapat terus berlangsung tanpa terlihat oleh orang dewasa. Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan mengajarkan siswa mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sekolah juga perlu melihat bagaimana budaya interaksi terbentuk dan bagaimana sistem perlindungan terhadap siswa berjalan.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apakah siswa sudah mendapatkan sosialisasi tentang bullying?”, tetapi juga, “Apakah siswa merasa aman untuk berbicara ketika mengalami bullying?” Apakah mereka tahu kepada siapa harus bercerita? Apakah mereka merasa akan dipercaya ketika melapor? Apakah guru dan pihak sekolah mampu memberikan respons yang tepat? Dan yang tidak kalah penting, apakah siswa merasa bahwa meminta bantuan tidak akan membuat situasinya menjadi lebih buruk?
Rasa aman bukan berarti sekolah harus menjadi tempat yang bebas dari konflik atau perbedaan pendapat.
Konflik merupakan bagian dari interaksi sosial. Yang lebih penting adalah siswa mengetahui bahwa ketika menghadapi masalah, terdapat orang dewasa dan sistem yang dapat dipercaya untuk membantu mereka. Ketika rasa aman terbentuk, siswa memiliki ruang psikologis yang lebih baik untuk belajar dan berkembang. Sebaliknya, ketika sebagian energi psikologis mereka harus digunakan untuk menghadapi ketakutan, penolakan, atau ancaman sosial, proses belajar dapat menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung kesehatan mental siswa bukanlah tugas tambahan di luar pendidikan.
Ia justru merupakan bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Upaya tersebut tentu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, guru, orang tua, hingga siswa sendiri. Sebab, sebelum kita bertanya apakah siswa sudah siap belajar, mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Apakah siswa merasa aman untuk belajar?”
Sekolah seharusnya bukan hanya menjadi tempat anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat mereka merasa aman untuk tumbuh dan berkembang.
















