Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Wakil Rektor IV UMI Tekankan Etos Kerja Islami: Jangan Hanya Rajin Berdoa, tetapi Juga Bersungguh-sungguh Berusaha

×

Wakil Rektor IV UMI Tekankan Etos Kerja Islami: Jangan Hanya Rajin Berdoa, tetapi Juga Bersungguh-sungguh Berusaha

Sebarkan artikel ini

PADANGLAMPE — Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad, MA, menyampaikan taushiyah Subuh bertema “Etos Kerja Islami” di hadapan sekitar 450 mahasiswa peserta Pencerahan Qalbu UMI di Masjid Baiturrahman, Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlishin UMI Padanglampe, Kabupaten Pangkep,Sabtu, 24 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khusyuk tersebut dihadiri Direktur Pesantren, Dr. KH. Ahmad Basith, Lc., MA, Asisten Direktur, Dr. H. Ilyas Tahir, Lc., MA, sejumlah dosen pembina, serta ratusan mahasiswa peserta program Pencerahan Qalbu UMI.

Example 500x700

Dalam taushiyahnya, Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan umatnya untuk tekun beribadah, tetapi juga mendorong setiap Muslim memiliki etos kerja yang kuat, disiplin, jujur, amanah, profesional, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, mahasiswa UMI harus memahami bahwa keberhasilan hidup tidak cukup dibangun melalui kecerdasan intelektual dan kesalehan ritual semata, tetapi juga membutuhkan kesungguhan berusaha, kemampuan mengelola waktu, serta komitmen memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan hanya rajin berdoa, tetapi malas berusaha. Jangan hanya pandai berbicara tentang amanah, tetapi lalai menunaikannya. Etos kerja seorang Muslim harus terlihat dari kedisiplinan, kejujuran, kualitas pekerjaan, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain,” tegasnya.

Mengintegrasikan Doa, Ikhtiar, dan Tawakal

Mengawali pembahasannya, Wakil Rektor IV UMI mengajak mahasiswa memahami hubungan antara doa, ikhtiar, dan tawakal secara benar. Menurutnya, tawakal bukanlah sikap pasif dengan hanya menunggu pertolongan Allah tanpa melakukan usaha yang sungguh-sungguh.

Ia mengutip firman Allah Swt. dalam QS. An-Najm ayat 39:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Ayat tersebut, jelasnya, mengingatkan bahwa usaha merupakan bagian penting dalam perjalanan manusia mencapai keberhasilan. Doa memberikan kekuatan spiritual, sedangkan ikhtiar menjadi wujud nyata kesungguhan dalam menjalani kehidupan.

Untuk memperjelas pesannya, ia menyampaikan ilustrasi humor tentang seorang pegawai yang sangat rajin berdoa, tetapi ketika ditanya mengenai pekerjaan yang telah diselesaikannya, justru menjawab bahwa dirinya masih menunggu pertolongan Allah.

Kisah tersebut mengundang tawa mahasiswa. Namun, di balik kelucuannya terdapat pesan mendalam bahwa manusia tidak boleh menjadikan doa dan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan.

“Jangan sampai kita terus meminta pertolongan Allah, tetapi kita sendiri tidak bersungguh-sungguh melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Doa harus menguatkan ikhtiar, bukan menggantikannya,” ungkapnya.

Disiplin Bukan Sekadar Datang Tepat Waktu

Dalam bagian berikutnya, Dr. Ishaq Samad menyoroti pentingnya kedisiplinan sebagai salah satu fondasi etos kerja Islami.

Ia mengilustrasikan seorang pegawai yang merasa dirinya sangat disiplin karena selalu datang tepat waktu, beristirahat sesuai jadwal, dan pulang tepat waktu. Namun, pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya justru tidak pernah selesai sesuai target.

Kisah humor tersebut menjadi pengingat bahwa disiplin tidak cukup diukur dari ketepatan waktu kehadiran, tetapi juga dari kemampuan menyelesaikan tugas secara tuntas dan berkualitas.

Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 58:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Menurutnya, amanah merupakan prinsip fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, termasuk dalam menjalankan profesi sebagai dosen, tenaga kependidikan, pemimpin, maupun mahasiswa.

Mahasiswa, misalnya, harus menunjukkan etos kerja melalui kesungguhan mengikuti perkuliahan, ketepatan waktu, kejujuran akademik, kedisiplinan menyelesaikan tugas, dan keseriusan mempersiapkan diri menjadi lulusan yang kompeten.

“Jangan hanya tepat waktu masuk kelas, tetapi tidak serius belajar. Jangan hanya mengejar nilai, tetapi melupakan proses membangun ilmu, karakter, dan tanggung jawab,” pesannya.

Ikhlas Bukan Berarti Bekerja Asal-asalan

Wakil Rektor IV UMI juga mengangkat ilustrasi humor tentang seorang dosen yang mengajarkan keikhlasan kepada mahasiswa. Seorang mahasiswa kemudian bertanya apakah keikhlasan berarti kewajiban membayar uang kuliah juga dapat diabaikan.

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bahwa ikhlas tidak berarti menghilangkan kewajiban dan tanggung jawab.

Sebaliknya, keikhlasan harus tercermin dalam kesungguhan memberikan yang terbaik. Dosen berkewajiban mengajar secara profesional, mahasiswa bertanggung jawab memenuhi kewajibannya, dan institusi pendidikan harus memberikan layanan pendidikan yang bermutu.

Ia mengingatkan bahwa niat yang baik harus diwujudkan melalui tindakan yang benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Dr. Ishaq Samad, niat karena Allah semestinya menjadi sumber motivasi untuk bekerja lebih sungguh-sungguh, bukan alasan untuk menurunkan kualitas pekerjaan.

“Kalau kita mengajar, mengajar dengan baik. Kalau kita belajar, belajar dengan serius. Kalau kita memimpin, memimpin dengan amanah. Ikhlas bukan berarti bekerja seadanya, tetapi memberikan yang terbaik karena Allah,” jelasnya.

Rezeki Harus Dijemput dengan Usaha yang Halal

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan kisah humor tentang seorang pemuda yang mengeluhkan kehidupannya karena merasa rezekinya belum membaik, padahal ia mengaku rajin berdoa setiap malam. Ketika ditanya berapa banyak lamaran pekerjaan yang telah dikirimkan, pemuda itu menjawab bahwa dirinya belum pernah mengirim satu pun lamaran.

Kisah tersebut menyentil kebiasaan sebagian orang yang mengharapkan perubahan hidup tanpa melakukan langkah nyata.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.”

Ayat ini, jelasnya, mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan aktivitas produktif. Seorang Muslim tidak boleh mempertentangkan kehidupan spiritual dengan kerja keras, sebab usaha mencari rezeki yang halal, dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang dibenarkan, dapat bernilai ibadah.

Ia mengajak mahasiswa mempersiapkan masa depan sejak dini melalui peningkatan kompetensi, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembentukan karakter, serta keberanian mengambil peluang yang halal dan bermanfaat.

“Jangan hanya menunggu pintu rezeki terbuka. Bangunlah, ketuk pintunya, dan berusahalah masuk melalui jalan yang halal. Masa depan tidak dibangun hanya dengan harapan, tetapi dengan doa, ilmu, kerja keras, dan ketekunan,” pesannya.

Kesalehan Harus Menghadirkan Manfaat bagi Sesama

Bagian lain yang mendapat perhatian mahasiswa adalah ilustrasi tentang seorang pimpinan yang mengajak seluruh pegawainya untuk bersama-sama meraih surga. Ia kemudian menghubungkan cita-cita tersebut dengan kedisiplinan, tanggung jawab, dan peningkatan kualitas kerja.

Melalui kisah itu, Dr. Ishaq Samad menegaskan bahwa ibadah dan pekerjaan tidak seharusnya dipertentangkan. Seorang Muslim harus menjaga ibadahnya sekaligus menunaikan tanggung jawab profesionalnya.

Menurutnya, kesalehan pribadi seharusnya melahirkan kepedulian sosial. Seseorang tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus jujur, ramah, kompeten, dan memberikan pelayanan terbaik kepada orang lain.

“Jangan sampai kita rajin beribadah di masjid, tetapi orang lain justru mengalami kesulitan karena pelayanan kita yang buruk. Jangan sampai kita berbicara tentang akhlak mulia, tetapi orang lain tidak merasakan manfaat dari kehadiran kita,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan harus membangun integritas sejak berada di bangku kuliah. Kebiasaan menepati janji, menghargai waktu, menghormati orang lain, bekerja sama, dan menyelesaikan tanggung jawab merupakan bagian penting dari pembentukan karakter unggul.

Dalam perspektif tersebut, keberhasilan seorang Muslim tidak semata-mata diukur dari jabatan, penghasilan, atau prestasi pribadi, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi keluarga, institusi, bangsa, dan umat manusia.

Lima Pesan Etos Kerja Islami bagi Mahasiswa UMI

Menutup taushiyahnya, Dr. KH. Muhammad Ishaq Samad merangkum lima pesan utama yang perlu ditanamkan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, doa harus disertai ikhtiar. Mahasiswa perlu membangun kebiasaan berusaha secara sungguh-sungguh, bukan hanya berharap memperoleh keberhasilan.

Kedua, disiplin harus dibuktikan melalui penyelesaian tanggung jawab. Ketepatan waktu harus berjalan seiring dengan produktivitas dan kualitas hasil kerja.

Ketiga, ikhlas harus melahirkan profesionalisme. Niat yang benar perlu diwujudkan melalui kesungguhan belajar, kejujuran, dan komitmen memberikan hasil terbaik.

Keempat, rezeki dan keberhasilan harus diperjuangkan melalui jalan yang halal. Mahasiswa perlu membekali diri dengan ilmu, keterampilan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah.

Kelima, kesalehan harus menghadirkan manfaat. Keberadaan seorang Muslim semestinya memberikan kebaikan bagi orang lain, bukan justru menyulitkan atau merugikan sesama.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (berbuat sebaik-baiknya) atas segala sesuatu.”

(HR. Muslim).

Menurutnya, prinsip ihsan harus menjadi landasan dalam setiap aktivitas, baik dalam beribadah, menuntut ilmu, bekerja, maupun melayani masyarakat.

“Jangan hanya bertanya, berapa banyak yang akan kita terima, tetapi tanyakan juga, berapa banyak manfaat yang bisa kita berikan. Jangan hanya bertanya apakah manusia melihat pekerjaan kita, tetapi tanyakan pula apakah Allah meridai cara kita menunaikan amanah,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa etos kerja Islami bukan sekadar kesibukan, melainkan perpaduan antara niat yang lurus, ilmu yang memadai, kerja yang sungguh-sungguh, akhlak yang mulia, dan tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pencerahan Qalbu sebagai Penguatan Karakter Mahasiswa

Taushiyah Subuh ini menjadi bagian dari pembinaan spiritual dan karakter dalam program Pencerahan Qalbu UMI yang diselenggarakan di Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlishin UMI Padanglampe.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh penguatan dalam aspek keimanan dan ibadah, tetapi juga mengembangkan karakter disiplin, amanah, tangguh, mandiri, dan produktif.

Nilai-nilai tersebut penting untuk mempersiapkan lulusan UMI agar mampu menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat dengan landasan ilmu, iman, dan akhlak karimah.

Pencerahan Qalbu juga menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa pendidikan tinggi bukan hanya proses memperoleh gelar akademik, melainkan perjalanan membentuk manusia berilmu, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

Dengan demikian, mahasiswa UMI diharapkan mampu mengintegrasikan kesalehan spiritual dengan keunggulan akademik dan profesionalisme, sehingga kelak hadir sebagai generasi yang berdaya saing, berkarakter Islami, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Taushiyah ditutup dengan doa agar Allah Swt. menjadikan seluruh mahasiswa sebagai generasi yang tekun beribadah, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, jujur dalam menjalankan amanah, dan senantiasa memberikan manfaat bagi sesama.

“Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang rajin beribadah, sungguh-sungguh bekerja, jujur dalam amanah, dan bermanfaat bagi sesama. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.” (Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *