Dr. Hasbullah, M.Pd.I
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Dunia hari ini seolah sedang menonton sebuah teater kehancuran yang dipentaskan di panggung Timur Tengah. Ketegangan segitiga antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan lagi sekadar urusan diplomasi meja makan atau gertakan di media massa. Ia telah menjelma menjadi sebuah mesin penggiling kemanusiaan yang digerakkan oleh satu bahan bakar utama yaitu Ego Geopolitik.
Dalam narasi besar yang dibangun oleh para pemimpin di Washington, Teheran, dan Tel Aviv, kita sering mendengar kata-kata mulia seperti “pertahanan diri”, “kedaulatan”, atau “keamanan nasional”. Namun, di balik retorika yang dipoles rapi tersebut, terdapat realitas yang jauh lebih kelam. Kemanusiaan bukan lagi prioritas; ia hanyalah variabel kecil yang dengan mudah dikorbankan demi dominasi regional dan hegemoni global (Mearsheimer, 2001).
Labirin Kepentingan dan Obsesi Kekuasaan
Akar dari konflik ini seringkali disederhanakan sebagai perseteruan ideologi atau agama. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ini adalah murni tentang ego kekuasaan. Amerika Serikat, dengan doktrin “kepentingan nasionalnya”, seringkali merasa perlu menjaga stabilitas global dengan cara yang justru menciptakan instabilitas dan kerusakan semesta. Di sisi lain, Iran membangun narasi “perlawanan” sebagai cara untuk mengamankan pengaruh rezimnya di kawasan. Sementara itu, Israel, dengan trauma sejarah dan ambisi keamanannya, kerap mengambil langkah militer yang agresif dengan dalih pencegahan.
Ketiga aktor ini terjebak dalam apa yang dalam teori hubungan internasional disebut sebagai Security Dilemma (Herz, 1950). Namun, dalam konteks ini, dilema tersebut diperparah oleh ego yang besar mereka. Setiap langkah “pertahanan” dari satu pihak dianggap sebagai “ancaman” bagi pihak lain. Hasilnya adalah perlombaan senjata, sanksi ekonomi yang mencekik, dan retorika perang yang tak kunjung padam.
Rakyat Sipil; Pion dalam Papan Catur Berdarah
Hal yang paling menyedihkan dari ego geopolitik ini adalah posisi masyarakat sipil. Dalam setiap rudal yang meluncur atau sanksi yang dijatuhkan, mereka yang paling menderita justru adalah mereka yang tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan. Penderitaan itu antara lain:
Pertama, Sanksi yang Membunuh Perlahan. Di Iran, sanksi ekonomi yang dipelopori AS mungkin bertujuan melemahkan rezim, namun kenyataannya, ia justru menghantam rakyat kecil. Akses terhadap obat-obatan, pangan, dan kehidupan yang layak menjadi barang mewah. Ego untuk “menekan” lawan politik telah menggadaikan hak hidup jutaan orang.
Kedua, Ketakutan yang Menetap. Di Israel dan wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan konflik, warga sipil hidup dalam bayang-bayang sirene serangan udara dan dentemuna bom. Ketakutan menjadi bagian dari keseharian, sebuah beban psikologis yang tak ternilai harganya bagi generasi masa depan.
Ketiga, Bencana Kemanusiaan di Wilayah Proksi. Ego ketiga negara ini seringkali tumpah ke negara-negara tetangga seperti Lebanon, Suriah, atau Yaman. Di sana, perang bukan lagi soal ideologi, melainkan tentang siapa yang bisa menanamkan pengaruh paling besar di atas puing-puing rumah warga sipil dan derita berkepanjangan. Laporan Human Rights Watch (2024), menegaskan bahwa eskalasi di wilayah proksi ini telah menciptakan krisis kemanusiaan paling akut di abad ke-21.
Kemunafikan Narasi Moral
Satu hal yang harus dikritisi dengan tajam adalah kemunafikan moral yang ditampilkan ke publik. Setiap pihak mengklaim memegang standar moral tertinggi. Amerika berbicara tentang demokrasi, Iran tentang keadilan bagi yang tertindas, dan Israel tentang hak hidup bangsa yang terancam.
Namun, bagaimana mungkin kita berbicara tentang demokrasi sambil mendukung blokade yang membuat anak-anak kelaparan? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang keadilan sambil membiayai kelompok-kelompok bersenjata yang mengacaukan negara tetangga? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang hak hidup sambil meluncurkan serangan udara ke pemukiman padat penduduk?. Semua jelas terlihat jauh dari kata bermoral. Michael Walzer (1977) dalam karyanya Just and Unjust Wars mengingatkan bahwa moralitas dalam perang seringkali hanya menjadi topeng untuk melegitimasi kekejaman.
Ego geopolitik telah menciptakan standar ganda. Nyawa manusia dihargai berdasarkan paspor yang mereka miliki atau di pihak mana mereka berdiri. Jika korban berada di pihak “kita”, maka itu adalah tragedi, namun jika korban berada di pihak “lawan”, maka itu adalah “kerusakan kolateral” (collateral damage).
Masa Depan yang Digadaikan
Jika konflik ini terus dipelihara oleh ego, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa kini, tapi juga masa depan. Anggaran triliunan dolar yang seharusnya bisa digunakan untuk mengatasi krisis iklim, kemiskinan global, atau riset kesehatan, justru dialihkan untuk memproduksi alat-alat pembunuh yang lebih canggih.
Dunia sedang menghadapi krisis eksistensial, namun para pemimpin ini lebih memilih bertarung memperebutkan pengaruh di atas tanah yang kering. Ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan soal ketidakmampuan kolektif untuk melihat bahwa kita semua berbagi planet yang sama.
Sudah saatnya kita berhenti melihat konflik Iran-AS-Israel sebagai pertandingan olahraga di mana kita harus memilih satu tim untuk didukung. Kita harus berani mengkritik ketiganya. Kita harus berani mengatakan bahwa ego negara tidak boleh lebih tinggi dari martabat manusia.
Dunia membutuhkan diplomasi yang didasari oleh empati, bukan hanya kalkulasi kekuatan militer. Kemanusiaan tidak boleh terus-menerus digadaikan di pasar gelap geopolitik. Jika para pemimpin tidak mampu meredam ego mereka, maka tugas masyarakat global penulis, aktivis, dan warga dunia untuk terus menyuarakan bahwa nyawa manusia jauh lebih berharga daripada peta kekuasaan manapun.
Perang bukanlah sebuah keniscayaan, ia adalah pilihan yang dibuat oleh manusia-manusia yang terlalu sombong untuk berdamai. Keangkuhan ini memaksa dunia untuk terus membayar harga yang tidak pernah mereka pesan melalui air mata dan darah. Selama ego masih dianggap sebagai lambang kedaulatan, maka selama itu pula kemanusiaan akan terus menjadi tumbal di altar kekuasaan..
















