Oleh : Tamsil Linrung
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Qiyamah ayat 14: Yang Artinya Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.”
Dalam Ramadan ini kita dapat memahami bahwa ada proses tazkiyah dalam makna yang sangat konkret. Setiap kali dorongan biologis muncul lalu ditahan dengan kesadaran, sesungguhnya sedang berlangsung latihan pengendalian diri pada tingkat yang mendalam.
Dalam kajian ilmu saraf modern dikenal konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk dan memperkuat jalur baru berdasarkan kebiasaan yang diulang. Pengendalian impuls melibatkan bagian otak yang berperan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan rasional. Sementara dorongan instingtif berasal dari sistem yang lebih dasar dan reaktif. Ketika seseorang berpuasa, terjadi latihan berulang untuk memberi ruang bagi kendali rasional dan spiritual mengambil alih respons spontan.
Saya merasakan menjelang waktu berbuka justru kesadaran bekerja lebih aktif. Tubuh memberi sinyal lapar, pikiran menyadari dorongan itu, lalu ada keputusan sadar untuk tetap bertahan hingga waktu yang ditentukan. Di dalam proses sederhana itu, sesungguhnya sedang dibangun pola baru dalam diri.
Pengulangan selama sebulan penuh menjadikan Ramadan sebagai ruang rekonstruksi kebiasaan. Jalur kesabaran diperkuat. Disiplin ditanamkan. Kemampuan menunda kepuasan dilatih secara konsisten.
Ayat tentang penyucian jiwa dapat kita rasakan betul dalam proses ini. Penyucian bukan hanya pengalaman batin yang abstrak, tetapi juga pembentukan karakter yang terukur melalui latihan pengendalian diri. Dari individu yang mampu mengelola dirinya, lahir masyarakat yang lebih tertib dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Ramadan sejatinya adalah kesempatan untuk membangun ulang diri dari dalam, dengan kesadaran, dengan disiplin, dan dengan pengulangan yang konsisten.














