JAKARTA — Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Tamsil Linrung menyampaikan keterangan resmi menanggapi pemberitaan dan perbincangan publik yang berkembang belakangan ini mengenai dua peristiwa di lingkungan ICM, yaitu dugaan tindak pelecehan yang kini ditangani aparat penegak hukum, serta insiden perundungan dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus lalu.
“Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua, dan yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya,” ujar Tamsil dalam keterangannya, Minggu (27/9) di Jakarta.
Tamsil menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh siswa dan keluarga yang terdampak dari kedua peristiwa tersebut. Menurutnya, tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dengan luka fisik maupun psikis, apalagi trauma yang membuatnya harus meninggalkan lingkungan belajar.
“Tidak ada kata yang cukup untuk menghapus rasa sakit akibat tindakan yang mencederai kemanusiaan dan keselamatan anak. Saya sudah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan, menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral. Kepada korban dugaan pelecehan dan keluarganya, kami memastikan pendampingan dan pemulihan diberikan sepenuhnya, serta proses keadilan dikawal sampai tuntas,” kata Tamsil.
Ia menegaskan, tidak ada ruang sedikit pun di ICM bagi tindakan yang mencederai kemanusiaan, keselamatan anak, dan akhlakul karimah. Pengelolaan sekolah berasrama, menurutnya, memang tidak sederhana, tetapi kerumitan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab.
Terkait penanganan kasus perundungan, Tamsil menjelaskan bahwa fungsi Dewan Pembina bukan mengelola operasional sekolah sehari-hari, melainkan memastikan nilai-nilai yang menjadi fondasi ICM benar-benar ditegakkan oleh manajemen. Ia menyebutkan manajemen sekolah telah melakukan pemeriksaan internal, memberikan sanksi kepada siswa dan pembina yang terkait, memfasilitasi pertemuan antar orang tua, serta melaporkan kejadian tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
“Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah, dan itulah yang akan kami telusuri lebih dalam,” ujarnya.
Adapun mengenai dugaan pelecehan, Tamsil menegaskan sikap ICM yang mendukung penuh proses yang bergulir di ranah aparat penegak hukum. “Tidak ada intervensi dari saya, dari yayasan, atau dari siapa pun. Tidak ada perlakuan istimewa bagi siswa mana pun, apa pun latar belakang orang tuanya,” tegas Tamsil.
Ia juga menepis anggapan bahwa ada perbedaan perlakuan di ICM berdasarkan latar belakang siswa. Menurutnya, ICM sejak awal didirikan sebagai sekolah yang terbuka bagi anak-anak dari berbagai kalangan, termasuk melalui program beasiswa penuh hingga uang saku bulanan bagi siswa dari kalangan dhuafa yang dijalankan bersama lembaga pengelola zakat nasional.
“Prinsip saya sederhana, begitu seorang anak masuk gerbang sekolah, ia tunduk pada aturan yang sama. Identitasnya cuma satu, sebagai pelajar yang ingin tumbuh dan berkembang bersama ICM, terlepas dari siapa pun orang tuanya. Relasi personal, jabatan, atau kedekatan politik tidak memengaruhi bagaimana persoalan seorang anak ditangani. Ukurannya adalah fakta, aturan, dan kepentingan terbaik bagi anak,” kata Tamsil.
Menanggapi simpang siurnya informasi di media sosial, termasuk spekulasi mengenai identitas dan latar belakang keluarga pihak-pihak tertentu, Tamsil menyatakan tidak akan mengonfirmasi maupun membuka identitas anak mana pun dalam kedua kasus tersebut, baik yang menjadi korban maupun yang diduga terlibat.
“Mereka adalah anak di bawah umur yang identitasnya dilindungi hukum, dan sepatutnya dilindungi pula oleh kita semua yang peduli pada pendidikan. Saya mengajak semua pihak lebih bijaksana dan menahan diri,” imbuhnya.
Sebagai wujud komitmen moral dan kelembagaan, Tamsil menyampaikan sejumlah langkah konkret yang telah diputuskan. Pertama, pemulihan korban sebagai prioritas utama, dengan yayasan menanggung sepenuhnya pendampingan psikologis dan pemulihan bagi seluruh korban tanpa syarat apa pun. Kedua, evaluasi menyeluruh atas sistem, bukan berhenti pada individu yang terlibat, mencakup kesiapan pembina di lapangan, SOP kegiatan luar kelas maupun asrama, mekanisme pengaduan, hingga fasilitas pengamanan. Ketiga, penguatan langkah mitigasi berupa larangan bimbingan satu lawan satu di ruang tertutup, dengan setiap kegiatan siswa didampingi minimal dua guru atau pembina dewasa.
“Ini SOP yang sudah berjalan sejak awal, saya pastikan implementasinya,” kata Tamsil. Keempat, ICM membuka ruang aman bagi siswa dan orang tua untuk bersuara melalui layanan pengaduan serta layanan konseling bagi siswa. “Semua laporan akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.
Kepada para orang tua siswa, Tamsil menyampaikan bahwa ia memahami kegelisahan yang dirasakan saat ini, dan kekhawatiran itu tidak akan dianggap ringan oleh pihak sekolah. Ia mengingatkan kembali bahwa sejak awal berdiri, ICM dirancang sebagai kolaborasi antara sekolah dan keluarga, bukan relasi satu arah.
“Sekolah punya wadah di mana guru dan orang tua bertemu, berkomunikasi mengenai perkembangan anak didik dan berbagai dinamika yang terjadi, secara rutin setiap term, bahkan dapat dilakukan setiap saat. Bapak dan Ibu adalah mitra kami dalam mendidik. Karena itu, saya tidak meminta Bapak dan Ibu untuk langsung percaya. Saya mengajak Bapak dan Ibu untuk melihat, menilai, dan mengawasi langsung perbaikan yang kami lakukan,” kata Tamsil.
Sebagai tindak lanjut, ICM akan mengadakan pertemuan langsung dengan seluruh orang tua, membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua dan pemerintah, menyampaikan laporan perkembangan secara berkala, serta membuka pintu sekolah bagi orang tua yang ingin berdialog langsung dengan pengelola kapan pun diperlukan.
Di akhir keterangannya, Tamsil turut membagikan refleksi pribadi sebagai pendiri ICM. Ia mengatakan ICM dibangun dari nol dengan mimpi sederhana, agar setiap anak mendapat akses pendidikan berkualitas. Setiap anak yang masuk melewati gerbang ICM, pulang dalam keadaan lebih baik dari saat ia datang. Lebih berilmu, lebih berakhlak, dan yang paling utama, merasa aman selama proses menimba ilmu di ICM.
Ia berterima kasih kepada para orang tua, alumni, dan masyarakat yang telah menyuarakan keprihatinan mereka, karena hal itu menunjukkan bahwa banyak pihak masih menaruh harapan pada ICM sebagai rumah pendidikan yang layak dipercaya.
“Harapan itulah yang akan kami jawab, bukan dengan kata-kata hari ini saja, melainkan dengan langkah-langkah yang bisa disaksikan dan ditagih oleh siapa pun. Sampai tuntas. Saya berdiri pada kepentingan masa depan anak-anak ICM, serta kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan yang kita bangun menjadi tempat nyaman dan aman bagi mereka,” tutup Tamsil.
















