DENPASAR, BALI — 26 Oktober 2026. Forum Pimpinan Pascasarjana Indonesia (FORPIMPAS) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional pada 26–27 Oktober 2026, bertempat di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Jalan P.B. Sudirman, Denpasar, Bali. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi, meningkatkan kualitas pendidikan pascasarjana, dan mengembangkan kolaborasi akademik antarp erguruan tinggi di Indonesia.
Pertemuan yang dirangkaikan dengan perayaan Dies Natalis Pascasarjana Universitas Udayana ini menghadirkan para pimpinan sekolah dan program pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Rapat kerja membahas sejumlah agenda penting, termasuk penguatan tata kelola organisasi FORPIMPAS, pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penyusunan program kerja bersama, serta pengembangan kerja sama strategis dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Salah satu agenda strategis dalam rangkaian pertemuan ini adalah penguatan Perjanjian Kerja Sama (PKS) multipihak yang melibatkan 13 institusi pascasarjana perguruan tinggi di Indonesia.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan pendidikan dan pembelajaran, penelitian bersama, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan tata kelola kelembagaan pascasarjana.
Melalui kerja sama ini, institusi yang terlibat diharapkan dapat mengembangkan berbagai kegiatan konkret, seperti pertukaran dosen, kuliah tamu, pembimbingan bersama mahasiswa magister dan doktor, promotor dan ko-promotor lintas universitas, penguji eksternal, penelitian kolaboratif, serta publikasi ilmiah bersama.
Kerja sama juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa, memperluas jejaring akademik nasional, dan mendorong peningkatan kualitas serta daya saing pendidikan pascasarjana Indonesia.
Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, S.K.M., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., yang turut terlibat dalam forum tersebut, menekankan pentingnya membangun kolaborasi antarpascasarjana yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi menghasilkan manfaat akademik dan kelembagaan yang nyata.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu mengembangkan pola kerja sama yang lebih terintegrasi, inovatif, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan pembangunan nasional.
“Kolaborasi antarpascasarjana harus bergerak dari sekadar penandatanganan dokumen menuju implementasi program bersama yang terukur. Kita perlu memperkuat penelitian kolaboratif, publikasi internasional, pembimbingan bersama mahasiswa doktoral, dan pengembangan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” demikian usulan pernyataan Prof. Sukri Palutturi untuk dikonfirmasi sebelum publikasi.
Ketua FORPIMPAS Indonesia, Prof. Dr. Richard Benny Luhulima, S.T., M.T., bersama para pimpinan pascasarjana yang hadir, mendorong penguatan forum sebagai wadah komunikasi, koordinasi, dan kerja sama kelembagaan.
Agenda rapat kerja juga mencakup pemaparan mengenai Sistem OASE Universitas Udayana serta penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), yang menjadi bagian penting dari transformasi mutu pendidikan tinggi.
Melalui pembahasan tersebut, FORPIMPAS diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis dalam pengembangan pendidikan magister dan doktor yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dan tantangan global.
Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan ekosistem pendidikan pascasarjana Indonesia yang lebih kolaboratif, inklusif, dan berdaya saing internasional.
Dengan mengoptimalkan potensi sumber daya akademik dari berbagai perguruan tinggi, FORPIMPAS berpeluang menjadi penggerak transformasi pendidikan pascasarjana melalui kerja sama penelitian, penguatan kapasitas kelembagaan, dan pengembangan sumber daya manusia unggul.
Kolaborasi yang kuat antarpascasarjana merupakan fondasi penting untuk menghasilkan pendidikan berkualitas, penelitian berdampak, dan kontribusi nyata perguruan tinggi bagi pembangunan Indonesia.
















