Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Merawat Literasi dan Menghidupkan Kembali Tradisi Masjid

×

Merawat Literasi dan Menghidupkan Kembali Tradisi Masjid

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR — Masjid Usman Yaqub menjadi salah satu ruang yang terus dihidupkan oleh kader KAMMI Makassar, khususnya KAMMI Komisariat Al-Furqon, melalui berbagai aktivitas keislaman, pembinaan, literasi, diskusi, dan agenda sosial kemasyarakatan.

Masjid tersebut tidak secara kelembagaan merupakan masjid milik KAMMI Makassar. Namun, intensitas berbagai kegiatan kebaikan yang dilakukan oleh kader KAMMI di dalamnya membuat masjid ini kerap disebut sebagai “Masjid Peradaban.” Sebutan tersebut merupakan gambaran atas semangat untuk menjadikan masjid sebagai ruang tumbuhnya ilmu, dakwah, pembinaan generasi, dan aktivitas sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Example 500x700

Keterlibatan kader KAMMI juga hadir dalam kehidupan kemasjidan. Imam Masjid Usman Yaqub, misalnya, merupakan kader KAMMI yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Kaderisasi KAMMI Komisariat Al-Furqon.

Ketua Umum KAMMI Daerah Makassar, Sahrul Ariansyah, mengatakan bahwa menghidupkan masjid di tengah perkembangan ruang-ruang berkumpul anak muda merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas dan tradisi gerakan.

«“Kader KAMMI berkumpul di masjid bukan berarti kita ketinggalan zaman karena tidak berkumpul di warkop-warkop yang banyak di Kota Makassar. Kita bisa berada di mana saja, berdiskusi di mana saja, dan berkolaborasi dengan siapa saja. Tetapi KAMMI Makassar harus tetap menghidupkan masjid-masjid sebagai ruang berkumpul, belajar, membina diri, dan melahirkan gagasan,” ujar Sahrul.»

Menurutnya, masjid memiliki posisi penting dalam sejarah lahirnya gerakan mahasiswa Muslim Indonesia. KAMMI sendiri lahir pada 29 Maret 1998 dari momentum konsolidasi aktivis dakwah kampus dalam FSLDK Nasional X di Malang. Karena itu, tradisi menjadikan masjid sebagai ruang pembinaan dan aktivitas intelektual memiliki keterkaitan historis dengan akar gerakan KAMMI.

«“Jangan sampai ketika zaman berubah, kemudian kita merasa bahwa berkumpul di masjid itu tidak keren atau tidak relevan lagi. Justru kita ingin menunjukkan bahwa masjid bisa menjadi tempat yang hidup: tempat anak muda membaca buku, berdiskusi, membangun jaringan, berbicara tentang umat, bangsa, bahkan merancang masa depan,” lanjutnya.»

Ia menambahkan, menghidupkan masjid bukan berarti menutup diri dari ruang-ruang sosial lainnya. Kader KAMMI tetap perlu hadir di kampus, ruang publik, komunitas, warung kopi, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat.

Namun, masjid tetap perlu menjadi salah satu rumah spiritual dan intelektual bagi kader.

“Kalau kita ingin membangun peradaban Islam, maka kita tidak boleh jauh dari masjid. Dari masjid kita membangun ruhiyah, dari buku kita membangun wawasan, dari diskusi kita membangun gagasan, dan dari masyarakat kita belajar menghadirkan kebermanfaatan,” katanya.

Semangat tersebut yang terus diupayakan di Masjid Usman Yaqub. Berbagai kegiatan yang dilakukan kader KAMMI Komisariat Al-Furqon diharapkan dapat menjadikan masjid sebagai ruang yang terbuka bagi aktivitas kebaikan, literasi, pembinaan, dan penguatan kehidupan keislaman masyarakat.

Masjid bukan sekadar tempat singgah untuk beribadah. Ia dapat menjadi tempat bertumbuhnya ilmu, kader, gagasan, dan peradaban.

KAMMI Makassar
Merawat Literasi, Menghidupkan Masjid, Menumbuhkan Peradaban.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *