MAKASSAR (4/11/2026) – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pattimura, Ervan Togatorop, S.TP., M.M., berhasil meraih Juara Harapan Kategori Umum dalam ajang Akselerasi Ekonomi Sulawesi, Maluku, dan Papua (Aksinomi) Sulampua 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas karya tulis ilmiah berjudul “Carbon-to-Sovereignty: Integrasi Carbon Trading dan Hilirisasi Energi Baru Terbarukan untuk Mewujudkan Swasembada Energi dan Akselerasi Pertumbuhan Sulampua yang Inklusif dan Berdaya Saing.”
Dalam kompetisi tersebut, Ervan berkolaborasi dengan Simon Hendrik Leasa dan Christy Clayde Latupeirissa, yang juga berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura. Karya ilmiah yang dihasilkan mengangkat isu strategis mengenai potensi ekonomi karbon dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai instrumen untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).
Aksinomi merupakan singkatan dari Akselerasi Ekonomi Sulawesi, Maluku, dan Papua, yaitu forum ekonomi regional yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Makassar. Forum ini menjadi wadah pengembangan gagasan, penelitian, dan inovasi untuk merespons berbagai isu strategis pembangunan ekonomi di kawasan Sulampua. Kegiatan Aksinomi melibatkan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi, serta masyarakat umum melalui kompetisi karya tulis ilmiah (Call for Paper), presentasi gagasan, seminar, dan diskusi multipemangku kepentingan. Gagasan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan mendorong percepatan pembangunan ekonomi kawasan.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Aksinomi mengangkat tema umum “Hilirisasi dan Swasembada untuk Mendorong Akselerasi Pertumbuhan Sulampua yang Inklusif dan Berdaya Saing.” Tema tersebut menekankan pentingnya penguatan kemandirian pangan dan energi, optimalisasi hilirisasi sektor unggulan daerah, serta penguatan rantai pasok dan distribusi perdagangan antarpulau. Fokus tersebut diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Dalam karya ilmiahnya, Ervan bersama tim mengembangkan gagasan Carbon-to-Sovereignty, sebuah model yang mengintegrasikan perdagangan karbon (carbon trading) dengan hilirisasi energi baru terbarukan. Gagasan ini menawarkan pendekatan agar potensi ekonomi karbon tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pembiayaan investasi hijau melalui pembentukan Green Investment Fund. Dana tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembangunan infrastruktur energi terbarukan dan pengembangan industri berbasis energi bersih di kawasan Sulampua.
Kajian tersebut juga menyoroti besarnya potensi energi baru terbarukan di kawasan Sulampua yang diperkirakan mencapai 775,82 GW. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya di Maluku yang pemanfaatan potensi EBT-nya masih sekitar 0,019%. Selain itu, penelitian ini mengangkat potensi karbon biru (blue carbon) di Papua yang diperkirakan dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga USD105,8 juta per tahun dengan asumsi harga karbon sebesar USD20 per ton CO₂e. Temuan tersebut memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi karbon yang dapat dihubungkan dengan agenda transisi energi dan pembangunan ekonomi daerah.
Melalui pendekatan analisis kebijakan dan spasial yang dipadukan dengan metode campuran, penelitian ini menekankan pentingnya membangun keterkaitan antara potensi sumber daya alam, mekanisme pembiayaan karbon, dan pengembangan industri energi terbarukan.
Dengan demikian, perdagangan karbon diharapkan tidak berhenti pada transaksi pengurangan emisi, tetapi dapat menjadi instrumen pembiayaan pembangunan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Dalam daftar finalis Aksinomi Sulampua 2026, Kategori Mahasiswa diikuti oleh Selvi Murdiyani dari Institut Pertanian Bogor, Christoper Jhonatan Reyes dari Universitas Indonesia, Sessa Tiara Maretaniandini dari PKN STAN, serta Grace Bintang Debora Marpaung dari PKN STAN. Sementara itu, pada Kategori Umum terdapat Ervan Togatorop dari Universitas Pattimura, Immanuel Nicholas Fransepta Samosir dari BPS Kabupaten Kepulauan Anambas, Yongky Choirul Aham dari BPS Provinsi Jawa Timur, serta Dede Yoga Paramartha dari BPS Pusat.
Capaian ini menunjukkan kontribusi akademisi Universitas Pattimura dalam menghadirkan gagasan dan solusi berbasis kajian ilmiah terhadap isu-isu strategis pembangunan ekonomi kawasan. Melalui penelitian yang mengangkat potensi lokal dan pendekatan inovatif, FEB Universitas Pattimura diharapkan terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi ekonomi, hilirisasi sumber daya, serta pembangunan berkelanjutan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.















