Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Kucium Kau di Depan Ka’bah

×

Kucium Kau di Depan Ka’bah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Fatmawati Hilal (Guru Besar UIN Alauddin Makassar/Jamaah Haji Kloter UPG 5)

Makkah Al-Mukarramah – Pagi itu sebagaimana biasa, usai shalat shubuh berjamaah, diawali sarapan pagi bersama di lorong hotel Rwad Manasik lantai 8, sektor 3, kawasan Syisah. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, sementara obrolan hangat mulai mengalir di antara kami—jamaah dari rombongan 10, kloter UPG 5. Di sela tegukan kopi Malakaji yang hangat, seorang kawan membuka kisah yang kemudian mengundang gelak tawa sekaligus renungan.

Example 500x700

Ia bercerita tentang pengalamannya di pelataran Ka’bah, tepatnya saat berjuang mendekati Hajar Aswad. Ia datang bersama isterinya dan beberapa kawan dalam rombongan kecil mereka. Seperti kebanyakan jamaah, ada satu keinginan yang diam-diam menguat: bisa menyentuh, bahkan mencium Hajar Aswad.

Sang suami, dengan tenaga dan peluang yang ada, berhasil lebih dahulu. Ia mencium Hajar Aswad—sebuah momen yang sering dianggap sebagai pencapaian spiritual sekaligus kebanggaan tersendiri bagi sebagian jamaah. Namun di saat yang sama, isterinya dan beberapa perempuan lain masih berjuang di tengah arus manusia yang padat, berdesakan di bawah pengawasan askar, tepat di sekitar Multazam.

Tak lama setelah itu, terdengar instruksi dari pembimbing ibadah (bimbad) H. Zulkifli Hijaz, ” perempuan sebaiknya tidak mendekat. Situasi terlalu padat, risiko terlalu besar. Desakan jamaah yang sama-sama memiliki hasrat kuat mencium Hajar Aswad menjadikan area itu nyaris tak terkendali.

Mendengar itu, sang suami menoleh. Ia melihat isterinya masih berusaha, di antara himpitan manusia yang terus bergerak. Tanpa ragu, ia mendekat, menggenggam tangan isterinya, lalu menariknya keluar dari kerumunan. Dan di saat itulah, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Di tengah hiruk-pikuk pelataran Ka’bah, dengan spontan ia mencium isterinya.
Sang isteri terperanjat. Wajahnya memerah, antara kaget, malu, dan tak percaya. Kagetka bu, angngapai anne, ucapnya dalam dialek Makassar yang kental. Teman perempuan yang bersama mereka bahkan ikut terbawa suasana—grogi, lalu menangis. Menangiska liatki bu, karena kuingatki suamiku di kampung, ucap teman yang bersamanya.

Ketika cerita itu selesai, lorong hotel pagi itu pecah oleh tawa. Kami semua terbahak-bahak, membayangkan adegan yang begitu kontras: antara sakralitas tempat dan spontanitas rasa cinta.

Saya pun menimpali dengan nada bercanda kepada sang isteri,“Memang tidak sempatki mencium Hajar Aswad, tapi suamita sudahmi. Itumi tawwa naciumki, supaya pindah bekas cium hajar aswadnya ke kita. Jadi, biar tidak menciumki langsung, sudahmaki juga mencium hajar aswad”.

Tawa kembali pecah. Namun di balik canda itu, saya menambahkan,“Ini luar biasa. Tidak semua orang bisa dan punya nyali melakukan itu. Nanti saya akan buat tulisan yang berjudul: Kucium Kau di Depan Ka’bah”. Bukan lagi, kupinang kau di depan ka’bah”. Tawa kembali bergemuruh di lorong.

Kenangan mencium Hajar Aswad beberapa tahun silam pun berkelindan di depan mata. Tubuh kecilku menyeruak di tengah padatnya manusia “raksasa”, yang kadang menghimpit tanpa ampun. Kalimat hauqalah—lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh—terus terucap dari bibirku, seolah menjadi penopang di tengah gelombang manusia yang tak pernah benar-benar diam.

Dengan pertolongan Allah, tubuh kecil ini pun berkali-kali pernah merasakan nikmatnya mencium Hajar Aswad. Sebuah pengalaman yang sulit dilukiskan, meski kuyakini sepenuhnya bahwa itu hanyalah sebatas ittiba’ kepada Nabi Muhammad—mengikuti jejak beliau, bukan karena keyakinan bahwa batu itu memberi manfaat atau mudarat.

Namun, ada masa ketika jiwa berontakku ikut meradang. Di saat kurasakan beratnya perjuangan menggapainya—desakan, dorongan, bahkan sikut yang tak terhindarkan—muncul tanya dalam benak: mengapa tidak ada waktu khusus yang diatur bagi laki-laki dan perempuan untuk mencium Hajar Aswad? Agar tak ada lagi dorong-mendorong, agar tak ada lagi tubuh yang terhimpit dalam kerumunan yang begitu rapat.

Namun, kegelisahan itu perlahan mereda. Di tengah hiruk-pikuk dan kompleksitas jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia, aku tersadar—betapa indah negeriku, Indonesia. Negeri yang, dengan segala kekurangannya, masih menyisakan ruang-ruang keteraturan, kelembutan, dan tenggang rasa dalam beribadah.

Kisah ringan ini membuka satu kenyataan yang lebih dalam. Mencium Hajar Aswad memang sering menjadi “target emosional” bagi jamaah. Banyak yang merasa belum lengkap jika belum berhasil melakukannya. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai kebanggaan ketika kembali ke tanah air. Padahal, dalam perspektif fiqih, mencium Hajar Aswad bukanlah kewajiban. Ia adalah sunnah, yang sangat dianjurkan jika memungkinkan tanpa menimbulkan mudarat. Jika tidak mampu, cukup dengan istilam—mengangkat tangan dari kejauhan sambil bertakbir.

Secara filosofis, Hajar Aswad bukanlah objek yang disembah atau memiliki kekuatan intrinsik. Ia adalah simbol ketaatan. Sebagaimana Umar bin Khattab melakukan sebagai ittiba’ semata.

Kisah “kucium kau di depan Ka’bah” mungkin akan terus dikenang sebagai cerita lucu di antara kami. Namun di balik tawa itu, tersimpan pelajaran yang dalam: bahwa cinta, kepedulian, dan perlindungan terhadap pasangan juga bagian dari ibadah.
Pelajaran bahwa tidak semua keinginan harus dipaksakan, dan tidak semua yang diidamkan harus dicapai dengan cara yang berisiko.

Dan mungkin, dalam cara yang tak terduga, sang suami telah memberi tafsir lain tentang makna “mencium”. Bahwa di tengah kerumunan manusia yang mengejar simbol, ia justru memilih menjaga dan memuliakan orang yang ia cintai. Ia mengajarkan satu hal—bahwa tidak semua yang sakral harus diwujudkan dengan menyentuh simbol. Kadang, ia hadir dalam tindakan sederhana yang menjaga, melindungi, dan memuliakan orang yang dicintai.Sebuah ciuman yang sederhana—namun justru menjadi kisah yang tak terlupakan.(Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *