Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Krisis Makna Hijrah di Era Digital

×

Krisis Makna Hijrah di Era Digital

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr.Jumadi, S.Pd.I., M.Pd.I.

Yogyakarta,- Setiap datangnya bulan Muharram, umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut tahun baru Hijriah dengan beragam kegiatan keagamaan seperti ceramah, doa bersama, pawai, hingga unggahan media sosial menjadi pemandangan yang lazim dijumpai. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah makna hijrah masih dipahami secara utuh, atau justru mengalami penyempitan di era digital?

Example 500x700

Secara historis, hijrah merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam, perjalanan Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muhajirin dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan strategi peradaban yang melahirkan transformasi sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Peristiwa ini menjadi titik awal terbentuknya masyarakat Madinah yang menjunjung nilai keadilan, persaudaraan, toleransi, dan kemajuan. Oleh karena itu, para sahabat menjadikan peristiwa monumental ini sebagai penanda awal kalender Islam, bukan kelahiran Nabi atau kemenangan dalam peperangan.

Namun, di era digital, makna hijrah sering kali mengalami reduksi, ia kerap dipahami sebatas perubahan simbolik, seperti gaya berpakaian, identitas kelompok, atau aktivitas keagamaan yang ditampilkan di ruang publik digital. Media sosial telah menjadikan istilah ini sebagai tren yang mudah dipopulerkan, tetapi tidak selalu diikuti dengan perubahan substantif dalam perilaku, etika, dan tanggung jawab sosial, sehingga dampaknya berpotensi kehilangan dimensi transformasinya dan berubah menjadi sekadar simbol identitas.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis makna, banyak orang berlomba menampilkan citra religius di dunia maya, tetapi pada saat yang sama masih terjebak dalam praktik intoleransi, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan budaya saling menghakimi. Padahal, esensinya adalah perubahan menuju kualitas diri yang unggul, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dalam relasi sosial dengan sesama manusia.

Muharram seharusnya menjadi momentum refleksi kritis bagi umat Islam untuk melakukan perubahan yang lebih mendalam yaitu; aspek intelektual diperlukan agar umat mampu menghadapi tantangan zaman melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan literasi digital., aspek moral diperlukan untuk membangun integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan publik., dan aspek sosial menuntut kontribusi nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan pendidikan, kerusakan lingkungan dan berbagai problem sosial lainnya.

Oleh karena itu, peringatan Muharram tidak seharusnya berhenti pada seremonial tahunan atau unggahan penuh slogan di media sosial, tetapi harus menjadi titik tolok transformasi diri dan peradaban. Di tengah arus digital yang serba cepat, makna hijrah perlu dikembalikan pada substansinya yaitu berpindah dari ketertinggalan menuju kemajuan, dari kebencian menuju persaudaraan, dan dari simbolisme menuju perubahan yang nyata.(Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *