Hidayat Said (Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan)
Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar momentum historis untuk mengenang lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Lebih dari itu, ia merupakan simbol kesadaran kolektif bangsa untuk bangkit dari keterbelakangan, penjajahan, dan krisis martabat kemanusiaan. Dalam perspektif dakwah dan peradaban, kebangkitan nasional adalah proses transformasi ruhani dan sosial yang menuntut hadirnya manusia-manusia berilmu, berakhlak, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap bangsa dan umat.
Kebangkitan sebuah bangsa sejatinya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kualitas spiritual dan moral masyarakatnya. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa banyak bangsa besar runtuh bukan karena lemahnya sumber daya, melainkan karena hilangnya nilai, etika, dan rasa tanggung jawab kolektif. Di sinilah dakwah memiliki posisi strategis sebagai energi moral yang menggerakkan kesadaran sosial menuju peradaban yang berkeadaban.
Dakwah dalam makna yang luas bukan hanya ceramah di mimbar atau pengajian di masjid, melainkan proses membangun manusia seutuhnya. Dakwah adalah upaya menghadirkan nilai-nilai tauhid, keadilan, ilmu, dan kasih sayang dalam kehidupan sosial. Karena itu, kebangkitan nasional yang tidak ditopang oleh nilai spiritual hanya akan melahirkan kemajuan material yang rapuh dan kehilangan arah kemanusiaan.
Dalam sejarah Islam, peradaban besar lahir dari tradisi ilmu dan akhlak. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah bukan hanya dengan kekuatan politik, tetapi dengan fondasi moral, persaudaraan, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pernah menjadi cahaya dunia ketika ulama, ilmuwan, dan pemimpin berjalan dalam satu visi: memuliakan manusia dan mendekatkan kehidupan kepada nilai ketuhanan.
Hari ini, tantangan kebangkitan nasional jauh lebih kompleks dibanding masa penjajahan fisik dahulu. Bangsa Indonesia menghadapi penjajahan gaya baru berupa krisis moral, disinformasi digital, budaya konsumtif, individualisme, dan melemahnya solidaritas sosial. Kemajuan teknologi yang semestinya menjadi alat pencerahan justru sering berubah menjadi ruang penyebaran kebencian dan kehilangan adab. Maka kebangkitan nasional abad ini memerlukan kebangkitan akhlak dan kesadaran spiritual.
Generasi muda memiliki posisi sentral dalam agenda kebangkitan tersebut. Mereka bukan hanya pewaris bangsa, tetapi juga penentu arah peradaban Indonesia di masa depan. Namun generasi muda tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Mereka harus dibimbing menjadi generasi yang memiliki integritas, empati sosial, dan kesadaran transendental bahwa ilmu pengetahuan adalah amanah untuk kemaslahatan umat manusia.
Perguruan tinggi, lembaga dakwah, dan institusi pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kesadaran kebangsaan yang religius dan inklusif. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat produksi gelar akademik, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan peradaban. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang melahirkan sarjana, tetapi bangsa yang melahirkan manusia-manusia yang memiliki hikmah dan kebijaksanaan.
Dalam konteks ini, dakwah harus tampil lebih dialogis, humanis, dan solutif. Dakwah tidak cukup berhenti pada retorika normatif, tetapi harus mampu menjawab problem nyata masyarakat seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, krisis lingkungan, dan degradasi moral. Dakwah yang membangkitkan adalah dakwah yang memberi harapan, memberdayakan umat, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh kehidupan.
Kebangkitan nasional juga membutuhkan keteladanan. Bangsa ini terlalu lama mengalami krisis figur yang mampu menyatukan nilai moral dengan tanggung jawab publik. Padahal sejarah perubahan selalu dimulai dari keteladanan orang-orang yang jujur, sederhana, dan mengabdi dengan ikhlas. Dalam Islam, keteladanan itu disebut uswah hasanah, yakni kehadiran pribadi yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu memberi contoh dalam tindakan.
Selain itu, semangat gotong royong sebagai identitas bangsa harus dihidupkan kembali. Individualisme yang lahir dari budaya modern perlahan mengikis kepedulian sosial masyarakat. Padahal kekuatan bangsa Indonesia sejak dahulu terletak pada solidaritas dan persatuan. Dakwah peradaban harus menghidupkan kembali semangat ukhuwah, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama sebagai fondasi kebangkitan nasional.
Kebangkitan nasional dalam perspektif dakwah pada akhirnya adalah upaya membangunkan kesadaran manusia tentang hakikat dirinya sebagai khalifah di muka bumi. Manusia bukan sekadar makhluk ekonomi atau politik, tetapi makhluk spiritual yang memikul amanah peradaban. Karena itu, pembangunan bangsa harus berjalan seiring dengan pembangunan jiwa dan moral masyarakat.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 hendaknya menjadi refleksi bersama bahwa bangsa ini tidak cukup hanya maju secara fisik, tetapi juga harus bangkit secara spiritual dan intelektual. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar berbicara tentang perubahan, tetapi juga bersedia menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Oleh karena itu, kebangkitan nasional sejati adalah ketika ilmu melahirkan kebijaksanaan, kekuasaan melahirkan keadilan, dan agama melahirkan kasih sayang bagi seluruh manusia. Dari sanalah peradaban besar akan tumbuh: peradaban yang bukan hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga meninggikan martabat kemanusiaan dan mendekatkan bangsa kepada nilai-nilai Ilahi. (*)
















