MAKASSAR – Tim dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Literasi Kesehatan dan Kenyamanan Lingkungan dengan Bank Sampah” di Kantor Lurah Wala-Walaya, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Kegiatan diketuai oleh Dr. Muh. Nur Yamin, M.Si., dengan anggota tim Dr. Haerul, S.Pd., M.Pd., M.Si. dan Dr. Sutrisman Basir, S.Sos., M.I.Kom. Peserta yang hadir terdiri atas pengurus RT dan RW se-Kelurahan Wala-Walaya serta warga setempat, didampingi aparat kelurahan.
Kegiatan dibuka secara langsung oleh Sulaeha, S.E., Kepala Seksi Pemerintahan, Ketenteraman dan Ketertiban Umum Kelurahan Wala-Walaya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim dosen UNM dan menegaskan bahwa persoalan sampah di wilayahnya membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada petugas kebersihan.
Berangkat dari Kondisi TPA Tamangapa
Dalam paparannya, ketua tim pengabdi menyoroti kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa yang telah melampaui daya tampungnya. Timbulan sampah yang terus mengalir tanpa pemilahan memperberat beban lingkungan, sementara kebiasaan warga masih banyak yang membakar, membuang ke lahan kosong, saluran air hingga laut.
“Persoalan sampah bukan semata soal pengangkutan, melainkan soal tata kelola dan perilaku. Selama tidak dipilah dari sumber, berapa pun armada yang disediakan tidak akan pernah cukup,” tegas Dr. Muh. Nur Yamin.
Tim juga memaparkan payung hukum mulai dari UU No.18/2008, PP No.81/2012, Permen LHK No.14/2021, Perda Kota Makassar No.4/2011, hingga Surat Edaran Wali Kota Nomor 271 Tahun 2025 tentang Bank Sampah dan SE Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penghentian Open Dumping di TPA Tamangapa.
Materi Praktis: Pemilahan hingga Pembentukan Bank Sampah
Narasumber teknis Muhammad Taufik, S.Pd., M.Pd., memperkenalkan sistem pemilahan tiga wadah: organik (hijau), anorganik (kuning), dan residu (abu-abu), serta prinsip 3R. Ia menjelaskan pengolahan sampah organik mulai dari maggot, komposter, biopori hingga eco enzyme, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi diarahkan ditabung melalui bank sampah.
“Memilah itu sederhana tapi dampaknya besar. Jika setiap rumah memilah, sampah yang harus dibawa ke TPA jauh berkurang,” ujar Taufik.
Sesi berikutnya membahas tahapan pembentukan Bank Sampah Unit mulai dari rapat warga, pendampingan DLH, pemilihan pengurus, hingga pengesahan SK Lurah dan kerja sama dengan Bank Sampah Induk.
“Bank sampah bekerja bukan karena gedungnya, tapi karena pengurus yang aktif, pencatatan tertib, dan kepercayaan warga,” jelas Dr. Haerul.
Sementara itu, Dr. Sutrisman Basir menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada pembentukan, melainkan keberlanjutan melalui komunikasi yang terus terjalin antara pengurus, RT/RW, dan warga.
Antusiasme dan Harapan Keberlanjutan
Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan warga seputar jenis sampah, mekanisme tabungan, hingga penanganan residu. Pihak kelurahan menyambut baik kegiatan ini dan berharap pendampingan berlanjut guna memantapkan pembentukan bank sampah di setiap lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan warga Kelurahan Wala-Walaya tidak hanya memahami pentingnya menjaga kesehatan lingkungan, tetapi juga mampu mengelola sampah menjadi nilai ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan bersama. Kegiatan ini menjadi bukti nyata kontribusi UNM mendukung pembangunan masyarakat yang sehat, asri, dan berdaya guna.
















