Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Dialog FKUB Makassar Bahas Posisi Strategis Perempuan dalam Bangun Kerukunan Umat Beragama di Makassar

×

Dialog FKUB Makassar Bahas Posisi Strategis Perempuan dalam Bangun Kerukunan Umat Beragama di Makassar

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR, 5 Juni 2026 – Perempuan memegang posisi yang sangat strategis dan memiliki peran vital dalam membangun, menumbuhkan, serta memperkuat kerukunan antarumat beragama. Hal ini tidak terlepas dari kedudukan perempuan yang sangat dekat dan menjadi pusat kehidupan dalam lingkaran keluarga, dunia pendidikan, komunitas, hingga kehidupan sosial masyarakat secara luas.

Gagasan tersebut menjadi inti utama yang diangkat dalam kegiatan Dialog Antarumat Beragama bagi Tokoh Perempuan yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, pada Jumat (5/6/2026).

Example 500x700

Mengusung tema “Beragama Maslahat dan Berkebudayaan Maju Untuk Makassar Mulia”, acara ini menjadi wadah penting bagi para tokoh perempuan untuk bertukar pandangan guna memperkokoh persatuan di tengah keberagaman yang ada di Kota Makassar.

Dalam sambutannya yang mewakili Ketua FKUB Kota Makassar, Wakil Ketua FKUB sekaligus Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Makassar, Hasan Pinang, mengapresiasi terselenggaranya dialog tersebut. Ia menegaskan tema yang diusung memiliki keselarasan erat dengan visi, misi, dan program strategis Pemerintah Kota Makassar yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Tema ini sangat relevan dan selaras dengan arah kebijakan pembangunan daerah. Kita ingin membangun masyarakat yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga membawa kemaslahatan bersama dan tetap memegang teguh nilai-nilai budaya untuk mewujudkan Makassar yang mulia,” ujar Hasan Pinang.

Perempuan sebagai Madrasah Pertama dan Penguat Harmoni

Hasan Pinang menekankan perempuan, khususnya ibu, adalah madrasah pertama bagi anak dalam keluarga. Sebelum anak mengenal lingkungan luar, nilai, akhlak, dan pemahaman keberagaman pertama kali tertanam dari sosok ibu di rumah.

“Keberadaan dan peran perempuan sangat krusial membentuk karakter anak sejak usia dini. Apa yang diajarkan dan dicontohkan perempuan di rumah menjadi bekal utama anak menghormati perbedaan saat bergaul di luar,” tegasnya.

Lebih jauh, Hasan Pinang menyoroti pengaruh tokoh perempuan di ruang publik. Di tengah keragaman Makassar, mereka memiliki peran luar biasa memelihara keharmonisan komunitas sosial.

“Tokoh perempuan sangat vital mempengaruhi dinamika komunitas sosial. Mereka adalah salah satu pilar terkuat memperkuat harmoni, mencegah konflik, dan menjaga toleransi tetap tumbuh subur di tengah masyarakat kita,” tambahnya.
Paparan Narasumber: Menjawab Tantangan Kekinian & Aksi Nyata

drg. Ita Isdiana Anwar, M.Kes – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, menyoroti pentingnya layanan dan program penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia menyampaikan fakta yang memrihatinkan sekaligus menjadi peringatan bagi semua pihak:

“Kekerasan sering kali dilakukan oleh oknum yang sama sekali tidak kita duga akan melakukannya, dan hal ini ternyata juga terjadi di lingkungan lembaga agama. Oleh karena itu, peran serta dan pengawasan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh perempuan, sangat dibutuhkan untuk memutus mata rantai kekerasan ini,” ungkapnya.

Prof. Dr. Hj. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kes – Akademisi UIN Alauddin Makassar dan Pendiri Yayasan Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (YPMIC), membawa perspektif baru: Alam sebagai Ciptaan yang Sakral.

Menurutnya, bumi, air, tumbuhan, dan hewan bukan sekadar “sumber daya”, melainkan ciptaan Tuhan yang bernilai luhur. Dalam pandangan ekoteologi, manusia berkedudukan sebagai khalifah atau pemegang amanah, bukan pemilik mutlak alam. Tugasnya adalah merawat, bukan merusak. Nilai ini tertanam kuat di semua agama.

“Krisis lingkungan seperti banjir dan polusi tidak sekadar masalah teknis, melainkan akibat rusaknya hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam. Solusinya pun harus bersifat spiritual: kasih sayang kepada seluruh makhluk. Dalam Islam misalnya, diajarkan hemat air saat wudhu dan membangun rumah ibadah yang hijau,” jelasnya.

Prof. Nur Hidayah menyarankan FKUB memperluas cakrawala kerja dengan menambahkan indikator “Rumah Ibadah Hijau”—mulai dari penanaman pohon, pemasangan papan pengingat pelestarian lingkungan, hingga merancang bangunan agar lebih mengandalkan sirkulasi udara alami daripada AC. Ia juga mengajak: “Lebih banyak ke dalam aksi nyata, mari kurangi sekadar dialog.”

Prof. Dr. Hj. Syamsudduha Saleh, M.Ag – Pengurus FKUB Kota Makassar, mengingatkan kembali sejarah panjang keberagaman Indonesia. Ia menegaskan:

“Perjalanan bangsa ini tidak terlepas dari peran perempuan yang senantiasa hadir. Kita wajib bersyukur sekaligus berusaha menjaga keragaman yang harmoni ini. Indonesia adalah anugerah; agama-agama tumbuh dan menyebar di bumi pertiwi bukan melalui jalan kekerasan, melainkan lewat kedamaian dan kasih sayang.”

Melalui dialog ini, diharapkan para tokoh perempuan semakin bersatu, tergerak, dan tampil sebagai garda terdepan menyebarkan nilai kedamaian, persatuan, dan toleransi demi terciptanya Kota Makassar yang makin damai, maju, dan bermartabat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *