MAKASSAR — Perjalanan pendidikan 35 santri kelas IX SPIDI Female Boarding School memasuki babak baru. Selasa (13/10/2026), mereka bertolak menuju Jeddah, Arab Saudi, untuk memulai pengalaman belajar selama 2,5 bulan melalui SPIDI Makkah Leadership Program (SMLP).
Keberangkatan perdana ini membawa rombongan berjumlah 40 orang. Selain 35 santri, terdapat lima pendamping dari unsur guru, direksi, dan yayasan. Rombongan dipimpin Ustazah Muhlisah Arif, Direktur Utama SPIDI Female Boarding School.
Mereka menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan rute Makassar–Jakarta–Jeddah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.
Bagi para santri, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat belajar. Mereka akan memasuki lingkungan baru, berinteraksi dengan masyarakat setempat, dan mendalami nilai-nilai keislaman langsung di kota yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam.
Makkah sebagai Ruang Belajar
SPIDI Makkah Leadership Program dirancang untuk memperluas pengalaman pendidikan pesantren melalui konsep Living and Learning in Saudi Arabia. Program ini memberi kesempatan kepada santri untuk tinggal dan belajar di Makkah selama 2,5 bulan.
Ada tiga fokus utama yang menjadi fondasi program tersebut, yakni Al-Qur’an, bahasa Arab, dan kepemimpinan.
Ketiganya dirancang saling melengkapi. Pembelajaran Al-Qur’an memperkuat hubungan santri dengan sumber utama ajaran Islam. Penguasaan bahasa Arab membantu mereka memahami bahasa yang digunakan dalam keseharian masyarakat setempat sekaligus memperdalam akses terhadap khazanah keislaman.
Sementara itu, pendidikan kepemimpinan diarahkan untuk membentuk pribadi yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan.
Dengan belajar langsung di lingkungan Makkah, para santri diharapkan tidak hanya menerima materi pembelajaran, tetapi juga memperoleh pengalaman yang memperkaya cara pandang dan kedewasaan mereka.
Bahasa Arab yang Hidup dalam Keseharian
Salah satu tantangan sekaligus peluang dalam program ini adalah penggunaan bahasa Arab di luar ruang kelas.
Interaksi dengan penutur asli memberikan kesempatan bagi santri untuk mempraktikkan bahasa dalam situasi nyata. Mereka dapat belajar memahami percakapan, menyesuaikan cara berkomunikasi, serta mengenali konteks budaya yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran formal.
Pengalaman semacam ini penting bagi pembentukan kepercayaan diri. Bahasa tidak lagi hanya menjadi mata pelajaran, tetapi juga alat untuk membangun hubungan dan memahami lingkungan.
Di sisi lain, pengalaman tinggal di luar negeri menuntut kemampuan beradaptasi. Perbedaan kebiasaan, ritme kehidupan, dan lingkungan sosial menjadi bagian dari proses belajar yang perlu dihadapi dengan keterbukaan dan kedisiplinan.
Mendekatkan Santri dengan Sejarah Rasulullah
Makkah juga menyimpan jejak penting perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Karena itu, pengalaman belajar di kota ini memiliki dimensi sejarah dan spiritual yang kuat.
Pendalaman sejarah Rasulullah menjadi salah satu bagian yang diharapkan memperkaya pemahaman santri terhadap perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pengetahuan sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menjadi sumber keteladanan dalam kehidupan.
Pengalaman beribadah di Tanah Suci juga memberi ruang bagi santri untuk memperkuat kedisiplinan dan penghayatan keagamaan.
Dengan memadukan pembelajaran, interaksi sosial, sejarah, dan ibadah, program ini berupaya menghadirkan pendidikan yang menyentuh aspek pengetahuan sekaligus pembentukan karakter.
Dari Peluncuran Menuju Pembuktian
SPIDI Makkah Leadership Program diperkenalkan dalam rangkaian SPIDI Islamic Edufest dan Grand Launching SMLP di Makassar pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Dalam peluncuran tersebut, pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina SPIDI Female Boarding School, Muzayyin Arif, menjelaskan bahwa gagasan program ini terinspirasi dari diskusi dengan Imam Syamsi Ali, ulama asal Sulawesi Selatan yang telah lama berkiprah di Amerika Serikat.
Direktur SPIDI Makkah, Muthahhir Arif, sebelumnya menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memperkuat pembelajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, dan kepemimpinan melalui pengalaman tinggal serta belajar langsung di Makkah.
Peluncuran program menjadi langkah awal. Keberangkatan 35 santri kini menandai dimulainya pelaksanaan di lapangan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman selama 2,5 bulan itu memberikan hasil yang nyata. Kemampuan bahasa, kedalaman pemahaman Al-Qur’an, kemandirian, kedisiplinan, dan kematangan kepemimpinan menjadi aspek penting yang dapat diperhatikan dalam menilai dampak program.
Bagi SPIDI, perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk menerjemahkan gagasan pendidikan berwawasan global ke dalam pengalaman belajar konkret.
Membawa Pulang Pengalaman, Bukan Sekadar Kenangan
Setelah menyelesaikan program, para santri akan kembali ke lingkungan pendidikan dengan pengalaman yang berbeda. Harapannya, pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, foto, atau kenangan selama berada di Tanah Suci.
Nilai program justru akan terlihat dari perubahan yang dibawa pulang: kemampuan berbahasa yang lebih baik, kedekatan dengan Al-Qur’an, kedisiplinan dalam keseharian, serta keberanian menghadapi tantangan.
Perjalanan dari Makassar menuju Makkah pun menjadi awal dari proses yang lebih panjang. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tempat seseorang belajar, tetapi juga dari apa yang dipahami, karakter yang terbentuk, dan manfaat yang dapat diberikan setelah kembali.
Melalui SMLP, SPIDI menempatkan Makkah bukan semata-mata sebagai tujuan perjalanan, melainkan sebagai ruang pembelajaran untuk menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memiliki wawasan global. ($)
















