Oleh: Epenk Jawang
Perbedaan adalah kenyataan yang tidak mungkin kita hindari. Kita berbeda suku, agama, latar belakang, pilihan politik, cara berpikir, bahkan berbeda dalam melihat persoalan yang sama. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi saling memusuhi.
Indonesia dibangun bukan karena kita semua sama, tetapi karena para pendiri bangsa menyadari bahwa keberagaman adalah bagian dari kekuatan bangsa. Persatuan lahir dari kesediaan untuk hidup bersama di tengah perbedaan.
Karena itu, merawat persatuan membutuhkan kedewasaan. Kita harus belajar membedakan antara berbeda pendapat dengan bermusuhan, antara kritik dengan kebencian, dan antara memperjuangkan keyakinan dengan memaksakan kehendak.
Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pilihan adalah hal yang wajar. Hari ini kita bisa berada di barisan yang berbeda, tetapi bukan berarti kita kehilangan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat kita memutus hubungan kekeluargaan, persahabatan, bahkan persaudaraan. Demokrasi seharusnya mempertemukan perbedaan dalam ruang dialog, bukan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Persatuan juga tidak berarti kita harus diam terhadap kesalahan. Persatuan yang sehat justru membutuhkan keberanian untuk saling mengingatkan, mengkritik secara konstruktif, dan memperjuangkan kebenaran dengan cara yang bermartabat.
Yang harus kita lawan bukanlah saudara sebangsa yang berbeda pandangan, melainkan kebencian, fitnah, intoleransi, kekerasan, dan segala tindakan yang merusak kehidupan bersama.
Bangsa ini terlalu besar untuk dipecah hanya karena kepentingan sesaat. Jangan biarkan ego pribadi, kelompok, organisasi, maupun kepentingan politik membuat kita lupa bahwa di atas semua perbedaan itu, kita tetap memiliki rumah yang sama Indonesia.
Mari kita belajar untuk tidak selalu bertanya, “Apa yang membedakan kita?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang masih bisa menyatukan kita?”
Sebab persatuan tidak dibangun dengan memaksa semua orang berpikir sama.
Persatuan lahir ketika orang-orang yang berbeda tetap mampu saling menghormati, saling mendengar, dan memilih untuk berjalan bersama.
Berbeda pandangan boleh. Berbeda pilihan boleh. Berbeda cara berpikir boleh. Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.














