Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Menata Ulang Hasrat di Bulan Ramadhan

4
×

Menata Ulang Hasrat di Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini


Oleh : Tamsil Linrung ( Wakil Ketua DPD RI) 

Hikmah Ramadhan Hari Ke : 5 : Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an,  Surah Al-A’raf ayat 31: “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Example 500x700

Ramadan adalah ruang evaluasi batin.
Bukan semata ritual menahan lapar, melainkan proses panjang membangun kendali diri yang utuh. Kendali atas dorongan, atas selera, atas hasrat yang sering kali menyamar sebagai kebutuhan.

Menjelang magrib, kita selalu menyaksikan meja-meja mulai dipenuhi hidangan. Pasar lebih padat dari biasanya. Iklan promo berbuka berseliweran di berbagai ruang digital. Diskon, paket keluarga, menu spesial Ramadan. 

Saya lalu bertanya dalam hati: bukankah Ramadan mengajarkan kita menahan diri? Mengapa justru menjelang berbuka hasrat konsumsi meningkat?

Di situlah kita menemukan satu paradoks yang jarang dibicarakan. Di siang hari kita belajar menahan. Di malam hari, godaan untuk meluapkan justru menguat. Seakan-akan lapar yang ditahan seharian menuntut balas dalam bentuk hidangan yang berlebihan.

Padahal ayat ini sangat jernih: “wa lā tusrifū” “jangan berlebih-lebihan”. Islam tidak melarang makan dan minum. Bahkan Allah mempersilahkannya. Tetapi batas itu penting. Karena di sanalah letak kematangan spiritual: mampu menikmati tanpa kehilangan kendali.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata. 

Sebuah peringatan : apakah dorongan itu benar-benar kita latih? Ataukah sekadar kita pindahkan waktunya?

Menahan lapar di siang hari bisa saja berubah menjadi kompensasi berlebihan di malam hari. Puasa lalu kehilangan kedalaman maknanya. Ia cuma menjadi jeda secara teknis, bukan transformasi batin.

Ramadan sesungguhnya bukan hanya mengajarkan kita menahan, tetapi menata ulang hasrat. Dari yang impulsif menjadi proporsional. Dari yang berlebihan menjadi cukup. 


Ramadan adalah ajang memantapkan seberapa jujur kita mengelola keinginan.

Wallahu a’lam bishawab.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *