MAKASSAR — Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Munawir Kamaluddin, menegaskan pentingnya manajemen konflik horizontal sebagai kunci utama memelihara kondusivitas di tengah polarisasi kebangsaan yang semakin terasa saat ini.
Dalam tulisannya berjudul “Manajemen Konflik Horizontal: Strategi Memelihara Kondusivitas di Tengah Polarisasi Kebangsaan”, Munawir menyampaikan bahwa konflik antarwarga tidak selalu bermula dari kebencian yang besar, melainkan sering kali tumbuh dari prasangka kecil, perbedaan yang disalahpahami, ketidakadilan yang dibiarkan, serta sikap merasa paling benar.
“Perbedaan bukanlah satu-satunya penyebab konflik. Provokasi, manipulasi informasi, diskriminasi, dan ketidakadilan justru sering menjadi bahan bakar yang memperbesar pertentangan,” ujarnya.
Menurut Munawir, kondusivitas sejati bukanlah keheningan karena ketakutan, melainkan kedamaian yang lahir dari keadilan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik, sebagaimana kebebasan tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebencian.
Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak di ruang digital, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memancing emosi, serta menghidupkan kembali silaturahmi antarkelompok sebagai ruang perjumpaan yang menjaga kemanusiaan di tengah perbedaan.
“Kita boleh berbeda pilihan politik, keyakinan, dan pandangan, tetapi tetap dapat bekerja sama, bertetangga, dan saling menolong. Silaturahmi bukan tuntutan untuk menyamakan pikiran, melainkan kesediaan menjaga kemanusiaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan peran penting para pemimpin—baik politik, agama, maupun pendidikan—untuk menyejukkan keadaan, bukan mengeksploitasi perbedaan demi kepentingan golongan. Kepemimpinan yang bermartabat adalah yang merangkul semua pihak dan berlaku adil kepada siapa pun.
Di akhir pemikirannya, Munawir mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan dialog sebagai jembatan, silaturahmi sebagai pengikat, keadilan sebagai fondasi, dan nilai-nilai ilahiyah sebagai kompas moral.
“Kedamaian bukanlah keadaan ketika perbedaan menghilang, melainkan ketika perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling melukai. Kita boleh berdiri di sisi yang berbeda, tetapi jangan pernah kehilangan jalan untuk kembali menjadi saudara,” Tutupnya
















