Oleh: Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate
Dengan lantang, Presiden Donald Trump menyebut blokade laut Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai “tembok baja” (steel wall). Menteri Pertahanan Pete Hegseth pun dengan percaya diri menambahkan bahwa AS memiliki aset militer yang cukup untuk mempertahankan blokade ini “tanpa batas waktu” (indefinitely).
“Tidak ada negara lain di bumi, tidak ada angkatan laut lain di bumi yang memiliki kemampuan untuk memiliki tembok baja seperti Angkatan Laut AS,” tegas Hegseth di Panama (Anadolu Agency, 14 Agustus 2026).
Kapal-kapal perang AS, menurut mereka, akan terus digilir, menjaga operasi tetap berjalan seperti mesin yang tak pernah lelah. Namun di balik retorika itu, tersembunyi sebuah keangkuhan yang berbahaya—keyakinan bahwa kekuatan militer semata cukup untuk menaklukkan realitas geopolitik yang kompleks.
Trump pun tak kalah vokal. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan:
“AS memiliki kendali total atas Selat Hormuz. SAYA PIKIR KAMI AKAN MEMPERTAHANKANNYA! Blokade Angkatan Laut kita disebut, oleh semua orang, ‘DINDING BAJA,’ dan Iran tidak bisa berbuat apa-apa”.
(The USA has total control over the Strait of Hormuz. I THINK WE WILL KEEP IT! Our Naval Blockade is being called, by everyone, ‘A WALL OF STEEL,’ and there is nothing Iran can do about it.”)
Di hadapan awak media di Ruang Oval, ia bahkan menyebut blokade itu “infallible” (tak pernah gagal) dan mengklaim AS menguasai 100 persen Selat Hormuz. Namun klaim “kendali penuh” ini segera dibantah oleh komando militer Iran, yang menyebutnya “kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar”. Pihak berwenang Iran di Selat Hormuz pun menegaskan bahwa “klaim dan unggahan berulang dari pejabat AS tidak mengubah kenyataan”.
Sejarah telah mengajarkan kita bahwa blokade laut, sekokoh apa pun temboknya, tidak pernah menjadi solusi permanen. Ia adalah senjata yang melukai kedua belah pihak. AS mungkin memiliki “kendali penuh” atas permukaan air, tetapi Iran menguasai apa yang ada di bawahnya—rancangan ranjau cerdas, armada kapal cepat yang lincah, dan rudal-rudal anti-kapal yang bersembunyi di balik tebing-tebing pantai. Maka, “tembok baja” Trump adalah ilusi.
Sebab laut terlalu luas dan terlalu dalam untuk dikuasai sepenuhnya oleh siapa pun. Yang terjadi justru sebaliknya: blokade ini telah mengubah Selat Hormuz menjadi perangkap raksasa bagi AS sendiri. Bahkan Iran secara terbuka menyatakan strategi perang gesekan (war of attrition) untuk memperpanjang konflik hingga akhir masa jabatan Trump pada 20 Januari 2029. “Salah satu caranya adalah memperpanjang perang ini sampai kita mencapai masa kepresidenan berikutnya dan menyebabkan keausan,” kata Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, penasihat senior panglima IRGC.
Mari kita lihat fakta di lapangan. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 130 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, jumlah itu merosot drastis. Data Kpler menunjukkan hanya delapan kapal yang terpantau pada Selasa pekan ini, di bawah rata-rata 10 hari terakhir sekitar 12 kapal, dan merupakan jumlah harian terendah sejak 5 Agustus. Pada Senin sebelumnya, lalu lintas bahkan turun hingga enam kapal. Kapal-kapal dagang memilih menghindari perairan ini, bukan karena takut pada Iran, tetapi karena mereka tahu bahwa berada di antara dua kekuatan yang saling menembak adalah kematian yang tertunda.
Menariknya, dari tujuh kapal yang tercatat memasuki selat, semuanya menggunakan jalur yang diawasi Iran—bukan “perlindungan” yang ditawarkan AS. Ini adalah ironi yang memilukan: blokade yang dirancang untuk mengisolasi Iran justru mengisolasi perdagangan global itu sendiri. CENTCOM memang mengklaim telah mengalihkan 59 kapal komersial, melumpuhkan tiga, dan menaiki dua lainnya untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade. Namun angka itu justru menegaskan betapa banyak kapal yang berusaha menerobos—dan betapa blokade ini telah mengubah jalur perdagangan dunia menjadi medan pertempuran.
Konsumsi persenjataan AS dalam konflik ini berbicara lebih keras daripada kata-kata. Hingga 17 Juli 2026, AS telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk ke Iran—pengeluaran terbesar dalam sejarah senjata tersebut. CBS melaporkan bahwa AS telah menghabiskan hampir seluruh stok rudal presisi jarak jauh globalnya, termasuk seluruh inventaris ATACMS. Sekitar setengah dari stok Tomahawk juga telah digunakan.
Untuk sistem pertahanan udara, AS telah mengonsumsi sekitar 80 persen rudal pencegat THAAD dan hampir setengah dari rudal Patriot (Pars Today, 5 Agustus 2026). Diperkirakan hampir dua pertiga rudal pencegat Patriot telah dihabiskan selama perang Iran. Industri pertahanan AS, sekalipun, tidak bisa memproduksi amunisi secepat perang mengkonsumsinya—lini produksi Tomahawk hanya membangun sekitar 90 rudal per tahun. Ini adalah perang gesekan, di mana Iran dengan sengaja memperpanjang konflik untuk menguras logistik lawan. AS mungkin memiliki teknologi, tetapi Iran memiliki kesabaran.
Dampak ekonomi blokade ini bahkan lebih menghancurkan. Sebelum perang, sekitar 21,6 juta barel minyak per hari keluar dari Selat Hormuz pada kuartal terakhir 2025. Pada kuartal kedua 2026, jumlah itu merosot menjadi hanya 4,9 juta barel per hari. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global akan turun 4,3 juta barel per hari pada 2026 (CBC Lite, 13 Agustus 2026).
Harga minyak juga melonjak. Minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar 89 dolar AS per barel. Harga gas rata-rata nasional di AS mencapai 4,04 dolar AS per galon, naik dari 3,14 dolar AS setahun sebelumnya. EIA menaikkan perkiraan harga bensin 2026 sebesar 3,7 persen dan harga diesel sebesar 5,4 persen (Idaho Statesman, 12 Agustus 2026).
Tekanan ekonomi yang dirasakan rakyat Amerika inilah yang mungkin menjadi senjata paling ampuh Iran—sebuah perang yang semakin tidak populer di dalam negeri, dengan harga bahan bakar yang tinggi menekan tingkat persetujuan Trump dan berpotensi mengikis kendali partainya di Kongres pada pemilu paruh waktu November.
Negosiasi pun berjalan di atas puing-puing retorika perang. Iran menetapkan syarat penting, yakni pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset-aset yang dibekukan. AS menjawab dengan ancaman memperluas serangan ke pembangkit listrik dan jembatan. Gencatan senjata yang ditengahi Pakistan pada April dan kesepakatan sementara pada 17 Juni kandas setelah perundingan macet.
Trump mendeklarasikan kesepakatan berakhir pada 7 Juli, dan Iran secara resmi menangguhkan partisipasinya sekitar seminggu kemudian. Kedua pihak saling menuduh melanggar komitmen. Jika sejarah Perang Irak dan Afghanistan mengajarkan sesuatu, itu adalah bahwa mimpi untuk menaklukkan sebuah negara dengan blokade dan bom hanyalah fatamorgana.
Selat Hormuz, pada akhirnya, bukanlah medan perang bagi kapal-kapal perang semata. Ia adalah cermin yang memantulkan keangkuhan kekuatan besar. AS mungkin memiliki “tembok baja”—dengan lebih dari 20 kapal perang dikerahkan di kawasan itu—dan klaim untuk mempertahankannya tanpa batas waktu.
Namun Iran memiliki “api bawah tanah” yang tak terlihat: strategi perang gesekan, kemampuan bertahan yang ulet, dan kesabaran untuk menunggu hingga 2029 jika perlu. Di tengah semua itu, hal yang penting bukanlah siapa yang menguasai selat hari ini, melainkan siapa yang masih bertahan ketika “tembok baja” itu mulai berkarat oleh waktu.
















