Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Ketika Jalan Pengabdian Diuji

×

Ketika Jalan Pengabdian Diuji

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nuzri Isla (Kepala Sekertariat Bawaslu Kabupaten Luwu)

Senin pagi, 27 Juli 2026, seharusnya menjadi awal dari pekan kerja yang biasa. Matahari perlahan muncul di ufuk timur, seolah mengiringi langkah saya menuju tempat tugas sebagai Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Luwu. Di dalam mobil penumpang yang saya tumpangi, pikiran saya telah dipenuhi berbagai agenda yang harus diselesaikan. Sebuah perjalanan yang telah berkali-kali saya lalui, tanpa pernah membayangkan bahwa pagi itu akan mengubah banyak hal dalam hidup saya.

Example 500x700

Jalanan tampak lengang. Kendaraan melaju dengan kecepatan yang wajar, sementara percakapan ringan sesekali mengusir kebisuan. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa detik kemudian, kehidupan akan memperlihatkan sisi yang begitu rapuh.

Semuanya terjadi begitu cepat. Dari arah berlawanan, sebuah mobil pikap tiba-tiba masuk ke jalur kendaraan kami. Sopir berusaha menghindar, tetapi ruang untuk menyelamatkan diri sudah tidak ada lagi. Dalam hitungan detik terdengar benturan yang sangat keras. Logam beradu, kaca-kaca pecah, dan tubuh kami terhempas oleh dahsyatnya tabrakan.

Dalam kepanikan itu, saya merasakan nyeri yang luar biasa pada paha kiri. Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuat saya sulit bergerak. 

Di tengah suara orang-orang yang berusaha memberikan pertolongan, saya hanya mampu memanjatkan doa. Saat itulah saya menyadari bahwa hidup manusia benar-benar berada dalam genggaman Allah SWT. Tidak ada jabatan, pengalaman, ataupun rencana yang mampu menunda takdir ketika waktunya telah tiba.

Perjalanan yang semula bertujuan untuk menjalankan amanah berubah menjadi perjalanan menuju ruang gawat darurat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa paha kiri saya mengalami cedera berat yang mengharuskan tindakan operasi. Kalimat itu terasa berat didengar, namun saya memahami bahwa inilah ikhtiar yang harus dijalani agar harapan untuk pulih tetap ada.

Operasi akhirnya dilakukan. Ketika efek pembiusan perlahan menghilang, rasa nyeri datang silih berganti. Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan keterbatasan. 

Saya yang terbiasa bergerak cepat kini harus belajar menerima kenyataan bahwa untuk duduk, berdiri, bahkan menggerakkan kaki pun memerlukan bantuan. Hingga hari ini, saya masih menjalani perawatan intensif dan proses pemulihan yang panjang.

Di ruang perawatan, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sanalah saya memiliki kesempatan untuk merenungkan banyak hal. Saya menyadari bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering kali baru terasa nilainya ketika Allah mengambil sebagian darinya. Kesibukan pekerjaan yang dahulu begitu menyita perhatian kini berganti dengan pelajaran tentang kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan menerima ketentuan-Nya.

Saya juga merasakan betapa berharganya kehadiran keluarga, sahabat, serta rekan-rekan kerja yang tidak pernah berhenti memberikan doa, dukungan, dan semangat. Setiap kunjungan, setiap pesan yang dikirimkan, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi kekuatan yang menghidupkan optimisme di tengah rasa sakit. Saya menyadari bahwa dalam setiap musibah, Allah menghadirkan banyak tangan yang menjadi perpanjangan kasih sayang-Nya.

Peristiwa ini bukanlah akhir dari perjalanan pengabdian saya. Justru di atas ranjang perawatan, saya belajar bahwa mengabdi kepada negara bukan hanya tentang hadir di balik meja kerja atau memimpin rapat. Pengabdian juga berarti mampu menerima ujian dengan lapang dada, menjaga harapan ketika tubuh sedang lemah, dan tetap memelihara keyakinan bahwa setiap cobaan pasti mengandung hikmah.

Saya percaya, akan tiba saatnya langkah ini kembali tegak. Luka di paha kiri akan perlahan pulih, rasa sakit akan berganti menjadi kenangan, dan ruang perawatan akan menjadi bagian dari kisah hidup yang mengajarkan arti kesabaran. Ketika hari itu tiba, saya ingin kembali melangkah menuju Kantor Bawaslu Kabupaten Luwu dengan semangat yang lebih kuat, hati yang lebih bersyukur, dan keyakinan yang semakin kokoh bahwa setiap amanah adalah ibadah, dan setiap ujian adalah cara Allah mendewasakan hamba-Nya.

Musibah pada 27 Juli 2026 mungkin telah menghentikan langkah kaki saya untuk sementara. Namun, musibah itu tidak akan pernah mampu menghentikan semangat, harapan, dan tekad saya untuk terus mengabdi. Sebab saya percaya, setelah setiap kesulitan, Allah selalu menyiapkan kemudahan bagi mereka yang tetap bersabar dan tidak kehilangan harapan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *