Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Kronik Tanah Lontara – Trilogi Karaeng: Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah Tanah  Makassar Melalui Sastra

×

Kronik Tanah Lontara – Trilogi Karaeng: Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah Tanah  Makassar Melalui Sastra

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Jejak sejarah Sulawesi Selatan kembali dihadirkan melalui karya sastra  dalam Kronik Tanah Lontara – Trilogi Karaeng, karya Ethos Hamid, yang akan 

diluncurkan dalam sebuah acara launching di Jakarta. Peluncuran buku tersebut akan berlangsung pada: Minggu, 9 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB Warkop Phoenampungan Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 12, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Example 500x700

Kronik Tanah Lontara merupakan trilogi novel sejarah yang membawa pembaca  menyusuri dunia Sulawesi Selatan pada masa awal kejayaan di tanah Makassar. 

Kisahnya dibangun dengan memanfaatkan berbagai bahan riset, antara lain naskah lontara, literatur akademik, tradisi sejarah, serta berbagai sumber mengenai sejarah Sulawesi Selatan dan barat.

Namun, karya ini tidak dimaksudkan sebagai buku sejarah akademik. Riset menjadi  pijakan untuk membangun sebuah narasi fiksi sejarah yang mempertemukan fakta sejarah, latar budaya, tokoh, konflik, dan imajinasi sastra.

Melalui trilogi ini, pembaca diajak memasuki dunia ketika kekuasaan, perdagangan,  diplomasi, peperangan, kesetiaan, dan pengkhianatan menjadi bagian dari dinamika  kehidupan masyarakat di kawasan Sulawesi Selatan.

Bagi penulis, menulis sejarah dalam bentuk novel merupakan salah satu cara untuk  memperkenalkan kembali masa lalu kepada pembaca yang lebih luas.

“Ketika sejarah dibungkam oleh waktu, sastra menghidupkannya kembali.” — Ethos Hamid

Kalimat tersebut menjadi gagasan utama yang mengiringi kelahiran Kronik Tanah  Lontara. Melalui karya ini, sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai catatan masa lalu, 

tetapi juga sebagai ruang untuk memahami manusia, kebudayaan, kekuasaan, dan  perjalanan sebuah masyarakat.

Peluncuran Kronik Tanah Lontara – Trilogi Karaeng juga menjadi ruang pertemuan antara  penulis, pembaca, dan pemerhati sejarah untuk berbincang mengenai proses riset, 

penulisan novel sejarah, serta upaya menghadirkan kembali kekayaan sejarah Sulawesi  Selatan melalui sastra. ” Mari berbincang tentang sejarah sembari menyeruput kopi.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *