Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Ketika Indonesia Terlihat Baik-Baik Saja

×

Ketika Indonesia Terlihat Baik-Baik Saja

Sebarkan artikel ini

By A. Syahruni Aryanti , Founder Rumah Jiwa Warani 

Indonesia hari ini tampak sibuk memperbaiki banyak hal. Program berjalan, bantuan disalurkan, dan angka-angka ditampilkan dengan rapi. Dari kejauhan, semuanya terlihat seperti sedang menuju arah yang benar.

Example 500x700

Namun, semakin dekat kita melihat, semakin terasa ada sesuatu yang tidak benar-benar selesai.

Ada anak-anak yang makan, tetapi bukan karena mereka merasa cukup melainkan karena hari itu mereka masuk dalam daftar penerima. Ada keluarga yang bertahan, bukan karena hidup mereka membaik, melainkan karena mereka telah terlalu terbiasa dengan kekurangan. Dan ada begitu banyak suara yang tidak pernah terdengar, bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak pernah benar-benar ditanya.

Indonesia tidak kekurangan kebijakan. Indonesia juga tidak kekurangan niat baik. Namun, yang kerap hilang adalah kemampuan untuk sungguh-sungguh memahami manusia.

Di banyak tempat, bantuan hadir sebagai program. Ia menawarkan solusi, tetapi tidak selalu menghadirkan pengertian. Ia menyentuh angka, tetapi belum tentu menyentuh kehidupan.

Kita mulai terbiasa mengukur keberhasilan dari apa yang tampak: berapa banyak yang dibagikan, seberapa luas jangkauan, dan seberapa cepat pelaksanaan. Namun, kita jarang berhenti untuk bertanya: apakah yang menerima benar-benar merasa terbantu? Apakah yang dibutuhkan telah dipahami dengan tepat? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang meyakinkan diri bahwa sesuatu telah dilakukan?

Dari berbagai perjumpaan dengan mereka yang hidup jauh dari sorotan, muncul satu kesadaran sederhana: yang sering kali gagal bukanlah programnya, melainkan cara kita melihat manusia.

Kita terlalu cepat ingin memperbaiki, tanpa cukup waktu untuk memahami. Kita terlalu sibuk memberi, tanpa benar-benar hadir.

Di situlah barangkali terletak jarak yang selama ini luput kita sadarijarak antara niat baik dan dampak yang nyata.

Barangkali, persoalannya bukan pada seberapa banyak yang telah kita lakukan, melainkan pada cara kita memahami apa yang kita lakukan. Sebab ketika bantuan hanya berhenti sebagai distribusi, dan kebijakan hanya selesai sebagai laporan, maka yang tersisa hanyalah ilusi keberhasilan terlihat bergerak, tetapi tidak benar-benar mengubah.

Jika kita jujur, yang sering kita kejar bukanlah dampak, melainkan rasa lega bahwa kita telah berbuat sesuatu. Di situlah ironi itu tumbuh: ketika niat baik justru menjauh dari kenyataan yang ingin diperbaiki. Dan selama kita masih lebih sibuk merasa benar daripada benar-benar mendengar, Indonesia akan terus terlihat baik-baik saja tanpa pernah benar-benar menjadi baik.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *