“Mana Pipink?”
Pertanyaan itu meluncur pelan dari mulut Syahrul Yasin Limpo (SYL) sesaat setelah ia turun dari podium. Di sebuah perhelatan nasional Partai NasDem yang digelar di Makassar, saya diminta langsung oleh DPP untuk menghendel acara tersebut sebagai Steering Committee. Panitia kemudian memberitahunya bahwa saya berada di belakang panggung, dan SYL pun menyusul saya ke sana.
Begitu sampai, ia menyulut sebatang rokok, mengembuskan asapnya perlahan, lalu langsung menodong saya dengan pertanyaan yang tak terduga: “Pink, bagaimana materiku tadi?”
Bayangkan, seorang tokoh yang telah melewati asam garam panggung politik—mantan Bupati, Wakil Gubernur, Gubernur dua periode, hingga Menteri—masih mengejar seorang junior hanya untuk meminta penilaian atas orasinya. Ia baru saja bicara sebagai Menteri Pertanian yang menjelaskan kedaulatan pangan di hadapan sekitar 5.000 kader dari seluruh Indonesia, namun jiwanya masih haus akan umpan balik.
Saya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan lugas. “Saya tidak puas, Komandan. Mulai dari materi hingga metode penyajian, tadi itu bukan gaya SYL yang saya kenal selama ini.” Saya bahkan menjelaskan lebih jauh bahwa kesan menggugah dan sentuhan emosi khas NLP yang selama ini menjadi ciri khasnya, tidak saya temukan hari itu.
Mendapat “serangan” jujur dari saya, ia hanya menjawab singkat sembari menatap jauh, “Kau ini Pink… tidak fokuska ini, taulah ini saya lagi menghadapi masalah.” Saat itu, publik memang mulai mencium aroma perkara yang sedang melilitnya di KPK. Namun, yang menarik bagi saya bukan masalah hukumnya, melainkan kejujuran intelektualnya. Di tengah badai tekanan mental yang begitu hebat, instingnya sebagai seorang pembicara tetap bekerja: ia tahu ada yang salah dengan penampilannya dan ia merasa perlu mengevaluasinya.
Dari SYL saya belajar bahwa siapa pun yang ingin menjadi pembicara hebat, tidak boleh sedetik pun berhenti berlatih dan mengevaluasi kemampuannya. Jika sosok sekelas beliau, yang pilar ethos, pathos, dan logos-nya sudah menyatu di ribuan panggung, masih merasa perlu bertanya “bagaimana penampilan saya?”, maka tidak ada alasan bagi kita untuk berbangga diri dengan pencapaian hari ini. Public speaking adalah sebuah skill, dan setiap skill hanya akan tetap tajam jika terus-menerus diasah di atas batu ujian bernama evaluasi.
Kematangan seorang pembicara tidak hanya diukur dari tepuk tangan audiens, tetapi dari kerendahhatian untuk bercermin dan mengakui kekurangan. Jangan pernah merasa cukup, sebab di saat kita berhenti mengevaluasi diri, di saat itulah suara kita mulai kehilangan kekuatannya untuk menggerakkan jiwa.
Terlepas dari segala dinamika kehidupan yang kini menderanya, saya berdoa agar beliau tetap diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menjalani proses hukum yang menjeratnya hingga saat ini.
(Arum Spink)
















