Jakarta — Ketua Umum DPP BKPRMI, Nanang Mubarok, melakukan pertemuan strategzis dengan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, guna membahas program nasional dalam memuliakan guru ngaji Al-Qur’an sekaligus penguatan pemuda remaja masjid sebagai pilar utama pembangunan generasi emas Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh menegaskan bahwa guru ngaji Al-Qur’an merupakan profesi yang sangat mulia dan menjadi “garda terdepan” dalam menyiapkan generasi berakhlak mulia. Melalui peran mereka, nilai-nilai akhlak, karakter, moral, dan etika ditanamkan secara fundamental sejak usia dini.
Ketua Umum DPP BKPRMI, Nanang Mubarok, menekankan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap guru ngaji.
“Negara harus hadir dalam memuliakan guru ngaji Al-Qur’an dengan menjadikan mereka sebagai profesi yang diakui secara resmi, memiliki nomenklatur yang jelas, serta mendapatkan hak-hak dasar yang layak,” tegas Nanang Mubarok.
Ia juga menegaskan komitmen BKPRMI dalam memperjuangkan kesejahteraan para guru ngaji di seluruh Indonesia.
“BKPRMI akan terus berikhtiar dalam memperjuangkan hak-hak dasar bagi guru ngaji Al-Qur’an, termasuk mendapatkan jaminan perlindungan sosial dan kesejahteraan yang layak,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para guru ngaji yang telah berkontribusi besar dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
“Guru ngaji adalah penjaga moral bangsa. Mereka tidak hanya mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang luhur. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan dan keberlangsungan peran mereka menjadi sangat penting,” ujar Nasaruddin Umar.
Selain isu guru ngaji, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya penguatan pemuda remaja masjid sebagai bagian dari bonus demografi Indonesia yang harus mendapatkan perhatian khusus. Pemuda masjid dinilai sebagai agen perubahan yang memiliki posisi strategis dalam menjaga arah peradaban bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Ketua Umum DPP BKPRMI, Nanang Mubarok, menegaskan bahwa tanpa pembinaan yang kuat, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban demografi.
“Pemuda remaja masjid harus diperkuat secara ideologis, spiritual, dan sosial. Mereka adalah benteng utama dalam menangkal dampak negatif globalisasi, termasuk budaya hedonisme, individualisme, dan krisis moral,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa masjid harus kembali dioptimalkan sebagai pusat pembinaan generasi muda, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban, pendidikan, dan pemberdayaan.
Sejalan dengan itu, Menteri Agama RI juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membina generasi muda berbasis masjid.
“Kita harus menjadikan masjid sebagai pusat penguatan karakter generasi muda. Dari masjid, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, ditegaskan bahwa guru ngaji Al-Qur’an dan pemuda remaja masjid merupakan dua pilar kekuatan bangsa dan negara yang sangat menentukan masa depan Indonesia.
“Jika guru ngajinya kuat dan pemudanya baik, maka akan baik sebuah bangsa dan negara. Namun jika keduanya lemah dan rusak, maka dampaknya akan sangat besar terhadap rusaknya masa depan bangsa,” tegas Nanang Mubarok.
Oleh karena itu, penguatan kedua sektor ini harus menjadi prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.
BKPRMI mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengambil peran:
1. Kepada Pemerintah: Segera merumuskan kebijakan yang mengakui guru ngaji sebagai profesi resmi, berikan hak-hak dasar kesejahteraan dan jaminan perlindungan sosial serta memperkuat program pembinaan pemuda remaja masjid secara sistematis dan berkelanjutan.
2. Kepada Kementerian/Lembaga Terkait: Mendorong kolaborasi lintas sektor dalam program pemberdayaan masjid, penguatan karakter pemuda, dan peningkatan kesejahteraan guru ngaji.
3. Kepada Dunia Usaha dan Filantropi: Berkontribusi melalui program CSR dalam mendukung pendidikan Al-Qur’an dan aktivitas kepemudaan berbasis masjid.
4. Kepada Masyarakat: Meningkatkan kepedulian terhadap guru ngaji dan aktif mendukung kegiatan remaja masjid di lingkungan masing-masing.
5. Kepada Pemuda Indonesia: Ambil peran aktif di masjid, bangun karakter, tingkatkan kapasitas diri, dan jadilah generasi yang siap memimpin masa depan bangsa.
Dengan sinergi seluruh pihak, diharapkan guru ngaji Al-Qur’an semakin dimuliakan dan pemuda remaja masjid semakin diperkuat, sehingga mampu menjadi fondasi kokoh dalam membangun peradaban bangsa yang berakhlak, berkarakter, dan berdaya saing global.
















