Oleh: Toto Izul Fatah
Sudah terlanjur akrab di telinga kita, bahwa menjadi akademisi itu tak bisa kaya, dan sebaliknya, kalau mau jadi pengusaha, tak bisa jadi profesor. Begitu juga dengan akademisi yang dianggap hanya kaya teori, tapi miskin eksekusi saat mendapat tugas di birokrasi.
Itulah mitos yang ternyata berhasil dipatahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Putra kelahiran Bugis-Makassar ini juga dianggap berhasil menggugurkan sejumlah mitos sosial, intelektual, dan birokratik yang selama ini telanjur dianggap sebagai kebenaran umum.
Mitos pertama, pengusaha sulit menjadi akademisi. Dalam banyak pandangan konvensional, pengusaha kerap dibayangkan sebagai manusia praktis, berorientasi laba, bergerak dalam kalkulasi pasar, dan jauh dari tradisi keilmuan yang sabar, metodologis, dan reflektif.
Tetapi, Amran membantah stereotip itu. Ia berhasil lulus jalur akademik secara lengkap di Universitas Hasanuddin, mulai sarjana pertanian, magister pertanian, hingga doktor ilmu pertanian. Bahkan, ia tercatat sebagai dosen ilmu pertanian di Universitas Hasanuddin.
Saat ini, Amran bukan sekadar pengusaha yang kemudian memperoleh gelar akademik. Ia adalah contoh bahwa dunia usaha dan dunia ilmu tidak harus dipertentangkan. Justru, dalam dirinya, keduanya bertemu.
Itulah sebabnya, rekam jejaknya dalam bidang pertanian tidak berhenti pada teori, tetapi masuk ke ranah aplikasi: teknologi, pestisida, pengendalian hama, paten, merek, izin produk, dan industrialisasi sektor pertanian.
Prestasi akademik lainnya, selain punya 6 paten/HAKI, Amran juga berhasil menulis 33 judul buku dan 23 jurnal. Termasuk, Amran mempunyai Indeks Scopus; 5
Mitos kedua, akademisi sulit menjadi kaya raya. Dalam kultur kita, akademisi sering diletakkan dalam citra asketik, yaitu, pintar, sederhana, tetapi jauh dari kemampuan membangun kekayaan. Seolah-olah ilmu dan kemakmuran adalah dua jalan yang saling berseberangan.
Amran mematahkan mitos itu dengan cara yang elegan. ia menunjukkan bahwa ilmu, bila dipadukan dengan keberanian mengambil risiko, ketekunan, inovasi, dan etos kewirausahaan, justru dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Jejak bisnis Amran memperlihatkan hal itu. Sebelum kembali menjadi pejabat negara, ia pernah berkarier di PTPN XIV, lalu mendirikan Tiran Group yang bergerak di berbagai sektor, termasuk perkebunan, pertambangan, perdagangan, serta pengembangan solusi pertanian.
Kesuksesan bisnis Amran juga diperlihatkan dengan memiliki 88 perusahaan yang meliputi pertambangan, perkebunan dan peternakan, perdagangan, SPBU, kawasan industri, transportasi dan distributor.
Mitos ketiga, birokrasi selalu lamban dan sulit berubah. Di mata publik, birokrasi sering dicitrakan sebagai ruang yang penuh prosedur, lambat, kaku, dan terlalu banyak pertimbangan. Intinya, tiidak seindah seperti teori dalam berbagai macam jenis buku.
Tetapi, Amran hadir dengan gaya yang berbeda. Ia membawa karakter pengusaha ke dalam birokrasi. Yaitu, cepat, tegas, berani mengambil keputusan, dan berorientasi hasil. Pada saat yang sama, ia membawa disiplin akademik yang berbasis data, memahami sektor, dan tidak asing dengan logika riset.
Pengalaman Amran selama 15 tahun di PTPN menjadi fondasi penting. Ia bukan orang yang tiba-tiba masuk ke dunia pertanian dari luar. Ia tumbuh dari lapangan, memahami kerja korporasi perkebunan, mengenal logika produksi, distribusi, manajemen sumber daya manusia, hingga problem teknis pertanian.
Kini, sebagai Menteri Pertanian, Amran telah dipercaya memimpin kementerian itu dalam dua periode pemerintahan berbeda: pertama pada 2014–2019, lalu kembali dipercaya sejak 25 Oktober 2023.
Dalam sosok Amran, terlihat sintesis tiga dunia. Yaitu, dunia usaha, dunia akademik, dan dunia birokrasi. Sebagai pengusaha, ia memahami risiko dan efisiensi. Sebagai akademisi, ia memahami ilmu dan inovasi. Sebagai birokrat, ia memahami negara, regulasi, dan kepentingan publik. Kombinasi ini jarang dimiliki oleh satu figur secara relatif utuh.
Tidak mengherankan jika perjalanan Amran juga ditandai oleh sejumlah penghargaan. Ia pernah menerima Satyalancana Pembangunan di bidang Wirausaha Pertanian pada 2007, FKPTPI Award pada 2011, Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (2026) serta Bintang Mahaputera Adipradana pada 2020.
Profil Badan Pangan Nasional juga mencatat penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden Prabowo Subianto pada 2025.
Sebelumnya ia juga memperoleh penghargaan sebagai alumni Fakultas Pertanian yang berprestasi bidang enterpreneur, di Bali (2011).
Selain prestasi di dalam negeri, Amran juga memperoleh aneka penghargaan internasional seperti dari FAO. Sebut saja, Agri Cola Medal, South-South and Triangular Cooperation (SSTC) Award. Termasuk, terpilih sebagai dalam Most Popular Leader Awards 2026 yang diberikan The Economics dalam ajang CEO Forum & Indonesia Best CEO Awards 2026.
Bahkan, Amran masuk dalam kandidat potensial World Food Prize 2026, yang kerap dijuluki “Nobel Pertanian”. Termasuk, Amran sempat ramai diberitakan meraih Rekor MURI atas keberhasilannya melibatkan 416 ribu petani milenial dalam bergai forum pertanian.
Seluruh capaian dan penghagragaan tersebut, cukup memberi banyak contoh bagaimana Amran memimpin kementerian pertanian. Ia sering tampil dengan gaya langsung, lugas, dan keras terhadap penyimpangan.
Bagi sebagian orang, gaya seperti ini mungkin terasa tidak biasa. Tetapi dalam birokrasi yang terlalu lama dibebani kelambanan, keberanian seperti itu justru menjadi energi pembeda.
Dengan demikian, Amran Sulaiman adalah figur yang layak dibaca bukan hanya sebagai Menteri Pertanian, tetapi sebagai simbol pemimpin multidimensi. Ia membuktikan bahwa pengusaha bisa menjadi akademisi.
Begitu juga Akademisi bisa menjadi kaya tanpa kehilangan martabat ilmu. Birokrat bisa bekerja cepat bila punya keberanian, ketegasan, dan orientasi bersih.
Yang pasti, seluruh yang diperolehnya, termasuk kekuasaan, justru menjadi jalan Amran untuk pengabdian.
Atas dasar itulah, Amran Sulaiman layak disebut sebagai menteri yang mematahkan mitos.
Jakarta, Mei 2026
Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
















