Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Scroll, Setuju, Repost: Masih Rasional atau Sekadar Ikut Terasa?

×

Scroll, Setuju, Repost: Masih Rasional atau Sekadar Ikut Terasa?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Faisal Ardiansyah

Perkembangan dunia digital membuat manusia semakin mudah terhubung

Example 500x700

dan mengakses informasi dalam hitungan detik. Paradoksnya akses semakin mudah, tetapi pemahaman tidak ikut membaik. Informasi melimpah, tetapi kebingungan juga ikut meningkat. Kondisi ini tidak hanya mempermudah koneksi, tetapi juga secara halus memproduksi kebingungan massal seolah semakin banyak tahu, semakin sulit membedakan mana yang benar.

Konten digital hari ini banyak dibangun dari cerita pribadi yang dibungkus secara emosional. Pengalaman individu dikemas seolah-olah berlaku untuk semua orang. 

Masalahnya, audiens sering langsung percaya dan ikut menyebarkan tanpa berpikir apakah konteksnya sama atau tidak. Akibatnya, pengalaman yang sebenarnya sangat pribadi bahkan unik diperlakukan seperti kebenaran umum sehingga sudut pandang pribadi tidak lagi sekadar opini, tetapi seringkali diperlakukan seperti standar kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Pada titik ini, konten bukan lagi sekadar alat berbagi informasi, tetapi menjadi cara halus untuk mencari pengakuan. Banyak orang merasa apa yang mereka alami pasti benar, lalu berharap orang lain membenarkannya juga. Repost dan share bukan lagi soal akurasi, tapi soal apakah orang lain ikut merasa “sama”. Dalam proses itu, konteks sering diabaikan, bahkan tanpa sadar menyinggung orang lain. Akhirnya, ruang digital berubah jadi ajang saling klaim kebenaran bukan karena paling benar, tapi karena paling banyak yang repost, share dan setuju.

Konten yang terus bermain di emosi pelan-pelan membentuk cara berpikir yang bias. Orang lebih mudah percaya pada sesuatu yang “terasa benar” dari pada yang benar-benar bisa dibuktikan. Akibatnya, cara berpikir rasional tidak hilang, tapi makin melemah karena kalah oleh perasaan.  Dari pada merenung dan memahami pengalaman sendiri, banyak orang justru mengambil jalan pintas dengan cukup menemukan konten yang “relate”, lalu merasa itu sudah mewakili dirinya. Dampaknya, proses berpikir digantikan oleh kebiasaan konsumsi cepat, dan pengalaman pribadi tidak lagi dipahami secara mendalam, hanya sekadar dicocok-cocokkan dengan narasi dari luar yang belum tentu relevan.

Di titik ini, yang “berkomunikasi” bukan lagi orang, tapi konten. Satu konten dibalas dengan konten lain, bukan dengan dialog yang benar-benar dipikirkan. Akibatnya, komunikasi bukan lagi antar individu, melainkan antar konten yang saling di repost dan share tanpa henti. Individu hanya jadi perantara yang meneruskan arus, tanpa benar-benar memahami apa yang dibagikan. 

Dalam situasi ini, siapa yang berbicara jadi tidak penting yang penting adalah konten mana yang paling viral dan bertahan. Konten seolah punya “nyawa” sendiri, sementara manusia justru kehilangan kendali atas apa yang ia sampaikan.

Di kondisi ini, sensasi jauh lebih penting dari pada KENYATAAN yang dialami individu. Konten tidak lagi dinilai dari masuk akal atau tidak, tapi dari seberapa cepat membuat orang merasa sesuatu. Bahkan, sensasi justru sering muncul dari hal yang tidak masuk akal, kontradiktif, dilebih-lebihkan, bahkan dipelintir. Anehnya, ini bukan dianggap masalah, tapi justru jadi strategi agar menarik perhatian. Akibatnya, muncul semacam “irasionalitas baru” dimana orang tidak lagi peduli apakah sesuatu itu benar atau tidak, selama konten tersebut cukup menyentuh emosi dan membuatnya ingin terus terlibat.

Dalam situasi ini, sifat narsis manusia justru berubah menjadi “KOMODITAS” di dunia digital. Ekspresi diri bukan lagi soal jati diri, tapi soal bagaimana tampil agar dilihat, disukai, dan divalidasi. Orang tanpa sadar menjadikan dirinya sendiri sebagai objek yang dikemas untuk konsumsi publik. Platform pun memfasilitasi hal ini, bahkan mengubahnya menjadi nilai baik secara simbolik maupun ekonomi. Ironisnya, semakin sering orang menampilkan diri, bukan semakin dekat, tapi justru semakin terasa kosong. Terhubung di layar, tapi jauh secara nyata. 

Pada akhirnya, batas antara diri yang asli dan yang dibuat-buat semakin kabur, hingga orang sendiri sulit membedakan mana dirinya, mana sekadar peran yang terus diulang.

Pada tahap ini, benar atau salah sudah tidak terlalu penting. Yang dinilai bukan lagi kesesuaiannya dengan fakta, tapi seberapa berguna konten itu untuk membangun citra diri. Orang menggunakan konten bukan untuk menyampaikan kebenaran, tapi untuk terlihat benar. Akibatnya, batas antara fakta dan rekayasa jadi kabur selama bisa mendukung citra, semuanya dianggap sah. kebenaran tidak perlu dibuktikan, cukup ditampilkan dan selama banyak yang menonton, merepost dan share, maka dianggap benar.

Pada akhirnya, realitas hanya jadi bahan mentah untuk membentuk citra yang terus mencari pengakuan.

Ketika sentimen emosi lebih diutamakan daripada verifikasi, dan citra lebih penting dari pada isi, ruang publik perlahan kehilangan fungsinya sebagai tempat berpikir bersama yang sehat. Tantangannya bukan hanya pada bagaimana arus informasi dikendalikan oleh algoritma, tapi bagaimana membuat individu kembali berpikir kritis sehingga mampu menempatkan pengalaman, emosi, dan informasi secara proporsional. Tanpa itu, dunia digital hanya akan terus mengulang pola yang sama yakni irasionalitas yang bukan lagi dianggap masalah, tapi justru diterima sebagai hal yang wajar.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *