Oleh: Ira Munajirah (Business Executive PT.Gandum Mas Kencana )HoReCa Mahasiswi semester akhir di Pasca Sarjana Stiem Bongaya Makassar
Beberapa tahun terakhir ini, dunia usaha sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. Banyak perubahan terjadi secara cepat, mulai dari ketegangan global, gangguan rantai pasok, hingga kenaikan harga energi yang berdampak luas ke berbagai sektor.
Dampaknya terasa sampai ke level operasional sehari-hari. Tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha di sektor HoReCa—hotel, restoran, dan kafe—yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dan kestabilan harga.
Salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya bukan hanya pada biaya transportasi, tetapi juga merambat ke berbagai komponen lain, termasuk plastik sebagai bahan kemasan.
Dalam industri makanan dan minuman, kemasan bukan sekadar pelengkap. Kemasan berperan penting dalam menjaga kualitas, higienitas, dan daya tahan produk.
Ketika harga kemasan naik, biaya produksi otomatis ikut meningkat. Di sisi lain, menaikkan harga jual tidak selalu menjadi solusi karena daya beli konsumen tidak selalu mengikuti. Di titik inilah pelaku usaha dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Banyak yang akhirnya mengambil langkah cepat: mencari bahan baku yang lebih murah. Secara jangka pendek, keputusan ini terlihat masuk akal. Namun dalam praktiknya, dampaknya sering kali tidak langsung terasa. Rasa produk mulai berubah, kualitas tidak konsisten, dan perlahan pelanggan mulai menyadari perbedaannya.
Dalam bisnis kuliner, hal seperti ini sangat krusial. Pelanggan datang kembali bukan hanya karena harga, tetapi karena rasa yang sama, kualitas yang bisa dipercaya, dan pengalaman yang konsisten. Ketika kualitas mulai turun, yang hilang bukan hanya pelanggan, tetapi juga kepercayaan.
Di sinilah tantangan sebenarnya muncul. Persoalan yang dihadapi bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi bagaimana cara merespons kondisi tersebut. Banyak pelaku usaha masih fokus mencari yang paling murah, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Padahal, di situasi seperti sekarang, pendekatan seperti itu sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah cara pandang baru: tidak hanya melihat harga, tetapi juga nilai. Artinya, bagaimana memilih bahan baku yang tetap bisa menjaga kualitas, konsistensi, dan tetap masuk dalam perhitungan biaya.
Perubahan ini juga menuntut peran yang berbeda dari para penyedia bahan baku. Supplier tidak lagi cukup hanya menjual produk, tetapi perlu hadir sebagai partner yang membantu klien mencari solusi.
Dalam pengalaman saya di lapangan, percakapan dengan pelaku usaha sekarang sudah berubah. Bukan lagi
sekadar membahas harga, tetapi lebih kepada bagaimana menjaga kualitas dengan biaya yang tetap terkendali. Di sinilah peran sebagai Business Executive ikut berubah—tidak hanya menjual, tetapi juga membantu.
Beberapa langkah sederhana sebenarnya bisa dilakukan, seperti membantu memilih bahan yang tepat sesuai kebutuhan, memberikan alternatif yang lebih efisien tanpa menurunkan kualitas, serta mendukung pengelolaan penggunaan bahan agar lebih optimal.
Bagi pelaku usaha, terutama chef, hotel, dan kafe yang sedang berkembang, kondisi ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat identitas bisnis. Karena pada akhirnya, pelanggan tidak kembali karena harga paling murah, tetapi karena kualitas yang bisa mereka percaya.
Krisis global memang tidak bisa kita hindari. Namun cara kita meresponsnya akan menentukan apakah bisnis kita hanya bertahan atau justru bisa berkembang.
Pelaku usaha yang mampu beradaptasi, menjaga kualitas, dan membangun hubungan yang kuat dengan partner bisnis akan memiliki posisi yang lebih baik ke depan.
Dan di tengah kondisi seperti sekarang, mungkin hal yang paling penting untuk diingat adalah ini: Yang dibutuhkan bukan sekadar bahan baku dengan harga murah, tetapi solusi yang mampu menjaga kualitas dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
















