Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Memaknai Ulang Pemurnian Islam: Menjernihkan Iman, Menguatkan Kemanusiaan

×

Memaknai Ulang Pemurnian Islam: Menjernihkan Iman, Menguatkan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Andy Hadiyanto – Dosen PAI UNJ / Ketua Asosiasi Dosen PAI Seluruh Indonesia (ADPISI)

Dalam realitas keberagamaan hari ini, kita sering menyaksikan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Cara pandang dikotomis menguat—dunia dibelah menjadi “kita” dan “mereka”, “yang benar” dan “yang salah”, dengan batas yang kaku dan nyaris tanpa ruang dialog. Kebenaran seolah dipersempit menjadi milik satu kelompok, sementara yang lain dengan mudah ditempatkan sebagai pihak yang harus diwaspadai, bahkan dilawan. Dari sini lahir sikap eksklusif, mudah menghakimi, dan dalam situasi tertentu, agresivitas yang mencari pembenaran keagamaan.

Example 500x700

Pada saat yang sama, keberagamaan juga kerap tampil dalam bentuk yang jumud dan monolitik. Semangat merujuk pada generasi awal sering tidak diiringi dengan keluasan cara berpikir, sehingga agama kehilangan daya hidupnya dalam merespons perubahan zaman. Keragaman pandangan yang dahulu menjadi kekayaan tradisi intelektual Islam menyempit, digantikan oleh satu corak pemahaman yang dianggap paling sahih. Akibatnya, Islam tampil dengan wajah yang kaku, rigid, dan kurang ramah terhadap kompleksitas kehidupan manusia.

Kondisi ini semakin dipengaruhi oleh arus materialisme yang kuat. Cara beragama tidak jarang terseret ke dalam logika pragmatis—berkelindan dengan ambisi politik, kepentingan kekuasaan, dan dorongan untuk mendominasi. Nilai-nilai luhur yang seharusnya mengarahkan manusia pada kedalaman batin justru mengalami penyempitan makna. Dalam situasi seperti ini, bahkan konflik dan kekerasan dapat diberi pembenaran religius. Dampaknya luas: Islam yang pada dasarnya membawa pesan rahmat, keadilan, dan perdamaian, dalam sebagian persepsi justru tampak sebagai agama yang keras, garang, dan berjarak dari semangat kemanusiaan.

Jika ditarik lebih dalam, fenomena-fenomena tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada satu persoalan mendasar: pengerasan hati. Ketika hati kehilangan kejernihannya, cara pandang terhadap realitas ikut menyempit. Orang tidak lagi mampu melihat kompleksitas, melainkan hanya hitam dan putih. Dari sinilah lahir dikotomi yang kaku. Hati yang keras juga kehilangan kepekaan, sehingga tidak lagi mampu merasakan penderitaan orang lain. Akibatnya, empati melemah, sementara sikap menghakimi menguat. Dalam kondisi ini, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan, dan konflik terasa lebih mudah dibenarkan.

Pengerasan hati juga berdampak pada cara memahami agama. Ketika batin tidak lagi lentur, pemahaman keagamaan pun cenderung membeku. Teks dipahami secara kaku tanpa kedalaman makna, tradisi dipegang tanpa ruang refleksi, dan perbedaan dianggap sebagai penyimpangan. Di sinilah muncul keberagamaan yang jumud dan monolitik. Hati yang keras cenderung mencari kepastian yang sederhana, bukan kebenaran yang mendalam. Ia lebih nyaman dengan keseragaman daripada keragaman, lebih memilih kepatuhan formal daripada pemahaman substansial.

Lebih jauh lagi, hati yang keras mudah terseret oleh kepentingan duniawi. Karena kehilangan orientasi batin yang mendalam, agama menjadi rentan digunakan sebagai alat—baik untuk kekuasaan, pengaruh, maupun legitimasi. Ambisi dan hasrat mendominasi menemukan ruangnya dalam keberagamaan yang dangkal secara spiritual. Dalam kondisi ini, nilai-nilai luhur dapat dengan mudah direduksi, bahkan tindakan keras sekalipun bisa dibungkus dengan justifikasi religius. Di sinilah kita melihat bagaimana agama bisa kehilangan ruhnya, meskipun secara lahir tampak dijalankan.

Menghadapi realitas ini, nampaknya perlu dicermati kembali pemikiran Muhyidin Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyah. Ia menegaskan bahwa beragama seharusnya membawa manusia pada mi’raj ruhani—sebuah proses kenaikan batin yang terus berlangsung sepanjang kehidupan. Agama bukan sekadar aturan yang dijalankan, tetapi jalan transformasi diri yang mengangkat manusia dari kesadaran yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas dan mendalam. Ketika proses ini berjalan, hati mengalami pemurnian: dari keras menjadi lembut, dari sempit menjadi lapang, dari penuh prasangka menjadi jernih. Namun ketika proses ini terhenti, keberagamaan mudah berubah menjadi kaku, formal, dan kehilangan daya pencerahannya.

Dari mi’raj ruhani inilah lahir pandangan yang jernih sekaligus peka. Kejernihan membuat seseorang mampu melihat realitas tanpa tertutup oleh prasangka dan kepentingan sempit, sementara kepekaan menjadikannya mampu merasakan penderitaan dan harapan orang lain. Ia tidak mudah menghakimi, tidak mudah membenci, dan tidak mudah terprovokasi. Semakin tinggi kualitas spiritual seseorang, semakin luas pula cakrawala kemanusiaannya. Ia melihat dunia dengan sudut pandang keindahan dan cinta, bukan dengan kecurigaan dan permusuhan.

Yang tidak kalah penting, spiritualitas dalam pengertian ini tidak berhenti pada wilayah batin. Ia menampakkan diri dalam kehidupan nyata. Hati yang jernih melahirkan tindakan yang adil, sikap yang empatik, dan kehadiran yang membawa manfaat. Ia menghadirkan ketenangan di tengah ketegangan, membangun kepercayaan di tengah kecurigaan, dan menumbuhkan harapan di tengah krisis. Dengan kata lain, mi’raj ruhani bukan hanya perjalanan ke dalam diri, tetapi juga gerak keluar yang menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan sosial.

Di titik inilah pemurnian Islam perlu dimaknai kembali. Pemurnian tidak cukup dipahami sebagai penegasan bentuk dan simbol, tetapi sebagai proses menjernihkan iman dari kepentingan sempit sekaligus menghidupkan kembali dimensi kemanusiaan dalam beragama. Ketika batin kembali bergerak dan bertumbuh, cara pandang pun menjadi luas, dan agama kembali hadir dalam wajahnya yang menenangkan.

Pada akhirnya, Islam yang jernih adalah Islam yang humanis—Islam yang melihat manusia sebagai subjek yang harus dimuliakan, bukan objek yang dihakimi. Ia berorientasi pada peradaban, bukan sekadar simbol; pada kemajuan, bukan kemunduran; pada kemaslahatan, bukan kepentingan sempit. Islam seperti ini memartabatkan manusia, menghadirkan keadilan, serta menumbuhkan rasa aman dalam kehidupan bersama. Ia tidak datang dengan wajah yang menakutkan, tetapi dengan sikap yang menenangkan; tidak memecah, tetapi menyatukan; tidak mengerdilkan, tetapi mengangkat harkat kemanusiaan.

Lebih jauh, Islam yang jernih adalah Islam yang mendamaikan dan membebaskan. Ia membebaskan manusia dari kebodohan, dari kebencian, dan dari cara berpikir yang sempit. Ia membuka ruang dialog, merangkul perbedaan, dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman. Dalam praktiknya, ia hadir dalam tindakan nyata: membangun, merawat, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama. Islam seperti inilah yang menjadi rahmat bagi semesta—yang tidak hanya diyakini, tetapi juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan. Dan semua itu berawal dari satu hal yang mendasar: hati yang terus bergerak naik, tidak berhenti dalam mi’raj ruhaninya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *