Oleh Afiq Naufal (Kolumnus Tali Foundation)
_Kita mesti sangat-sangat bersyukur atas hadirnya program Makan Bergizi Gratis. Kenapa begitu?_
Saya ingin memulai dari satu kesadaran yang sering kali luput dalam perdebatan publik bahwa keputusan untuk memulai dari pemenuhan kebutuhan dasar melalui Program Makan Bergizi Gratis lebih dari kebijakan sosial. Adalah langkah ekonomi yang benang-benang halusnya saling merajut atas kondisi yang kini kita hadapi dalam tekanan krisis global.
Pada situasi ketika banyak negara mengandalkan instrumen makro yang kompleks, pendekatan ini justru kembali pada fungsi paling awal dari ekonomi, yaitu menjamin keberlangsungan hidup manusia.
Saya mau memulai dari satu pengertian mendasar bahwa ekonomi merupakan sistem yang dibangun untuk mengatur produksi, distribusi, dan konsumsi guna menjamin keberlangsungan hidup manusia. Jadi keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur melalui angka-angka pertumbuhan. Ekonomi diuji sejatinya melalui kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar secara stabil. Akan tetapi, ketika sistem ekonomi gagal menjalankan fungsi dasarnya tersebut, maka yang terjadi bukan lagi apa yang kita kenal “perlambatan ekonomi”. Pada dasarnya krisis terjadi pada tingkat yang lebih fundamental. Konsep sistem ekonomi itu sendiri.
Data dari sistem ekonomi dunia saat ini sedang berada dalam tekanan yang bersifat struktural. Total utang global telah mencapai sekitar 348 triliun dolar Amerika Serikat dengan rasio lebih dari 235 persen terhadap produk domestik global. Atau sederhananya total uang semua yang ada di dunia itu jumlah 100 triliun USD, sedangkan total utang di seluruh dunia jumlah 300 triliun USD. Jadi uang menciptakan uang.
Nah, dengan struktur ekonomi seperti itu, beberapa pekan terakhir kita mulai memasuki babak baru dari konfigurasi krisis geopolitik yang melibatkan berbagai kawasan seperti Timur Tengah, Eropa Timur, dan Asia Timur lantas menciptakan gangguan simultan terhadap energi, pangan, dan rantai pasok global.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberikan gambaran konkret bagaimana satu titik konflik dapat mengganggu keseluruhan sistem ekonomi dunia. Gangguan pada jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak yang sempat mendekati 150 dolar per barel. Dan laporan terkini jika perang ini belum juga usai hingga beberapa bulan kedepan, diperkirakan bahkan dapat menyentuh 200 dolar per barel. Kenaikan ini tidak berhenti pada sektor energi, dia juga merambat ke sektor pangan melalui biaya produksi dan distribusi. Sektor energi LNG. Dan dalam waktu yang relatif singkat, krisis energi ini dapat berubah menjadi krisis pangan.
Kondisi tersebut diperkuat oleh konflik Rusia dan Ukraina yang sejak awal telah mengganggu distribusi gandum global, serta ketegangan di kawasan Asia Timur yang berpotensi mengganggu produksi teknologi dunia. Dunia saat ini tidak lagi menghadapi satu pusat krisis, tetapi berbagai tekanan yang saling berkelindan. Agaknya kita akan melihat kedepannya, sistem ekonomi global yang bertumpu pada stabilitas dan efek mengganda uang justru menunjukkan keterbatasannya dalam menjamin kebutuhan dasar manusia.
Saya kira begitulah ekonomi fundamental menjadi penting kita desain dengan menyeluruh. Maksudnya apa? Jadi, ketika sistem global gagal menjamin distribusi pangan dan energi, maka negara perlu membangun fondasi yang lebih mandiri. Dan kembali bahwa program Makan Bergizi Gratis dapat dibaca sebagai langkah awal dalam membangun fondasi tersebut. Program ini pada dasarnya melebihi intervensi pada konsumsi. Program ini juga adalah instrumen untuk menciptakan permintaan yang stabil terhadap sektor produksi domestik.
Untuk memahami lebih jauh, kita perlu melihat struktur ekonomi Indonesia. Produk domestik bruto Indonesia berada pada kisaran 1,4 triliun dolar Amerika Serikat dengan pertumbuhan sekitar lima persen. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional. Di sisi lain, sektor pertanian menyerap hampir 30 persen tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap PDB hanya sekitar 13 hingga 14 persen. Data ini menunjukkan adanya ketimpangan antara struktur tenaga kerja dan struktur produksi.
Ketimpangan ini berkaitan erat dengan efisiensi investasi. Atau seberapa efektif kita pakai uang negara dan menciptakan produktivitas. Ini sering digambarkan dengan nilai ICOR. Atau nilai Incremental Capital Output Ratio. ICOR Indonesia berada di kisaran 6 hingga 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa negara di kawasan yang berada di kisaran 4. Sederhanya uang yang kita belanjakan selama ini itu tidak efektif atau kasarnya banyak terbuang tidak jelas. Angka-angka itu juga menunjukkan bahwa setiap tambahan output memerlukan investasi yang relatif besar. Dengan kata lain, terdapat persoalan dalam konversi modal menjadi output riil.
Melihat itu, pendekatan pembangunan yang terlalu bertumpu pada investasi besar memiliki keterbatasan. Belanja infrastruktur yang dalam satu periode mencapai lebih dari Rp2.000 triliun memang menghasilkan pertumbuhan, tetapi distribusi manfaatnya tidak merata. Hal ini terlihat dari indikator kesejahteraan sektor pertanian yang dalam waktu lama tidak mengalami peningkatan signifikan.
Di sini kita akan menyaksikan program Makan Bergizi Gratis dapat dipahami sebagai upaya untuk mengoreksi struktur tersebut. Dengan pagu anggaran sekitar Rp335 triliun, program ini menciptakan permintaan riil dalam skala besar yang langsung terhubung dengan sektor produksi domestik. Jika sekitar 60 hingga 70 persen dari anggaran tersebut terserap pada bahan pangan lokal, maka terdapat potensi aliran dana lebih dari Rp200 triliun yang langsung masuk ke sektor pertanian, perikanan, dan usaha kecil di daerah.
Dari perspektif ekonomi, ini merupakan perubahan arah yang signifikan. Belanja negara tidak lagi hanya berfungsi sebagai pendorong investasi besar, tetapi juga sebagai penggerak konsumsi produktif yang langsung menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dalam teori ekonomi, kelompok berpenghasilan rendah memiliki kecenderungan konsumsi yang tinggi, sehingga setiap tambahan pendapatan akan segera beredar kembali dalam sistem ekonomi.
Dengan demikian, program ini memiliki potensi multiplier yang relatif tinggi. Estimasi menunjukkan bahwa belanja pada konsumsi dasar dapat menghasilkan multiplier di kisaran 1,5 hingga 1,8, lebih tinggi dibandingkan belanja infrastruktur yang berada di kisaran 1,3 hingga 1,6 dan sering terkoreksi oleh komponen impor. Artinya, setiap rupiah yang dibelanjakan memiliki dampak yang lebih besar terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Jika dikaitkan dengan persoalan efisiensi investasi, pendekatan ini juga membuka kemungkinan untuk menurunkan ICOR secara bertahap. Dengan mendorong pertumbuhan dari sisi konsumsi produktif dan produksi lokal, konversi antara modal dan output menjadi lebih efisien. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperbaiki struktur ekonomi nasional yang selama ini cenderung berat pada investasi besar dengan dampak yang terbatas pada lapisan bawah.
Arah ini tidak berdiri sendiri. Program lain seperti penguatan koperasi desa, pengembangan kampung nelayan, serta berbagai inisiatif berbasis komunitas menunjukkan adanya upaya untuk membangun ekonomi dari bawah. Jika seluruh program ini terintegrasi, maka akan terbentuk suatu sistem ekonomi yang lebih tersebar dan tidak bergantung pada satu pusat pertumbuhan.
Kembali pada konteks global yang sedang mengalami fragmentasi, pendekatan ini memiliki nilai strategis. Dunia mulai bergerak menuju sistem perdagangan yang lebih terfragmentasi, di mana efisiensi tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan. Keamanan pasokan dan ketahanan nasional menjadi faktor yang semakin penting. Dan dengan kondisi seperti ini, kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri menjadi indikator utama kekuatan ekonomi.
Dengan demikian, ekonomi fundamental yang berorientasi pada kebutuhan dasar dapat dipahami sebagai respons terhadap perubahan struktur global. Desain ekonomi yang mulanya adalah MBG adalah adaptasi terhadap kondisi dunia yang semakin tidak stabil. Dalam situasi normal, ekonomi dapat berkembang menuju kompleksitas yang lebih tinggi. Akan tetapi, dalam situasi krisis, prioritas harus kembali pada fungsi dasarnya.
Jadi saya ingin mengulang kita mesti sangat bersyukur kita memulai babak ini dengan Makan Bergizi Gratis. Karena arah yang sedang dibangun menunjukkan adanya upaya untuk menggeser paradigma ekonomi dari sekadar pertumbuhan menuju ketahanan. Dunia hari ini memberikan pelajaran bahwa sistem yang terlalu bergantung pada stabilitas global akan sangat rentan terhadap guncangan. Dan pendekatan itu mesti dimulai dari kebutuhan dasar memberikan landasan yang lebih kokoh.
Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan model ekonomi yang lebih seimbang antara pertumbuhan dan ketahanan. Dengan memanfaatkan basis domestik yang kuat serta sumber daya yang tersedia, pendekatan ini dapat menjadi jalan untuk menghadapi krisis global dengan lebih terukur. Sehingga ekonomi kembali ditempatkan pada tujuan utamanya, yaitu menjaga keberlangsungan hidup manusia secara berkelanjutan.
Dunia sedang bergerak dari ekonomi pertumbuhan menuju ekonomi ketahanan.
Dan MBG adalah entry point menuju sistem ekonomi berbasis survival capacity.
Refrensi
International Monetary Fund. Fiscal Monitor and Global Debt Database, 2024–2026.
Institute of International Finance. Global Debt Monitor, 2025.
World Bank. International Debt Report, 2025.
United Nations Conference on Trade and Development. World of Debt Report, 2024.
International Energy Agency. Global Energy Market Outlook, 2026.
Badan Pusat Statistik. Produk Domestik Bruto Indonesia, 2024–2025.
Badan Pusat Statistik. Nilai Tukar Petani, 2015–2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional. Proyeksi Dampak Ekonomi Program Makan Bergizi Gratis, 2025.
Reuters. Iran War Disrupts Global Oil Market, 2026.
Reuters. Global Conflict Economic Impact Analysis, 2026.
The Guardian. Iran War and Global Economic Shock, 2026.
Karl Polanyi. The Great Transformation. Beacon Press, 1944.
Amartya Sen. Development as Freedom. Oxford University Press, 1999.
Greta Krippner. Capitalizing on Crisis. Harvard University Press, 2011.
Giovanni Arrighi. The Long Twentieth Century. Verso, 1994.
















