Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Ramadhan sebagai Simulasi Hidup dalam Menghadapi Krisis

6
×

Ramadhan sebagai Simulasi Hidup dalam Menghadapi Krisis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Tamsil Linrung

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6:  yang Artinya “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Example 500x700

Ayat ini turun pada masa tekanan berat. Ancaman datang dari berbagai arah. Umat berada dalam posisi lemah secara materi. Berkaitan pada fase berat dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah, di mana kaum musyrik Quraisy sering menghina, menindas, dan mencela kaum muslimin karena kemiskinan dan kelemahan mereka. Ayat ini turun untuk menghibur hati Nabi, memberikan harapan, serta menegaskan bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan. 

Saya mengajak kita melihat ayat ini dengan perasaan yang sama dengan turunnya ayat itu. Hari ini kita menyaksikan dunia kembali berada dalam tekanan. Perang berkobar. Rantai pasok terganggu. Nilai mata uang berfluktuasi. Banyak keluarga mulai merasakan sesaknya ekonomi. Masa depan tampak kabur.

Dalam suasana seperti ini, bersamaan dengan hikmah ayat tersebut, Ramadhan sesungguhnya adalah simulasi. Adalah cahaya-cahaya kemudahan.

Sejak fajar, tubuh diletakkan dalam kondisi terbatas. Lapar terasa. Haus menekan. Energi menurun. Aktivitas tetap berjalan. Tanggung jawab tetap ditunaikan. Pikiran dituntut tetap jernih. Emosi dijaga tetap stabil.

Ini latihan hidup dalam krisis sesungguhnya.

Dalam kajian psikologi dikenal konsep stress inoculation training yang diperkenalkan oleh Donald Meichenbaum. Seseorang dilatih menghadapi tekanan dalam kadar terkontrol agar ketika tekanan nyata datang, ia tidak runtuh. Paparan yang terstruktur melahirkan ketahanan.

Ramadhan bekerja dengan mekanisme serupa.

Ramadhan menghadirkan tekanan harian yang terukur. Tubuh belajar beradaptasi. Jiwa belajar menenangkan diri. Nafsu belajar dikendalikan. Setiap hari adalah pengulangan. Setiap hari adalah penguatan.

Umat yang selama sebulan hidup dalam simulasi tekanan akan memiliki daya tahan berbeda ketika tekanan ekonomi benar-benar datang.

Kedzaliman sering menguat saat masyarakat rapuh secara mental. Ketika ketakutan mendominasi, arah perjuangan menjadi kabur. Ramadhan membentuk keteguhan  sebelum badai datang.

Simulasi ini mendidik umat untuk tetap bekerja dalam keadaan lemah. Tetap berbagi dalam keadaan terbatas. Tetap menjaga adab dalam keadaan tertekan. Ini lebih dari ritual spiritualitas. Ini konstruksi mental perlawanan.

Simulasi ini berlangsung kolektif. Jutaan manusia menjalani ritme yang sama. Menjelma solidaritas. Menjelma empati. Menjelma kesadaran bahwa kesulitan dapat dihadapi bersama.

Jika masa depan ekonomi benar-benar memasuki fase berat, Ramadhan telah lebih dahulu menempa saraf kesabaran kita. Kita telah belajar menahan. Kita telah belajar mengatur. Kita telah belajar bertahan tanpa kehilangan martabat.

Perjuangan melawan kedzaliman memerlukan jiwa yang terlatih menghadapi tekanan panjang. Ramadhan adalah ruang pelatihan itu.

Semoga puasa kita membentuk umat yang tidak rapuh oleh krisis, tidak goyah oleh tekanan, dan tetap tegak memperjuangkan keadilan dengan ketenangan dan keyakinan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *