Oleh: Tamsil Linrung
Allah ﷻ berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 75 ” Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa agar diselamatkan dari negeri yang penduduknya zalim.”
Sungguh ayat ini turun dalam suasana penindasan. Menggugah kesadaran moral umat saat itu agar tidak diam ketika kedzaliman terjadi pada patahan-patahan zaman.
Hari ini, perang berkecamuk di berbagai penjuru. Ekonomi global bergetar. Harga melonjak. Masa depan terasa tidak menentu. Sehingga Ramadhan bagu Umat Islam saat ini sangat terang diuji lebih dari hanya secara fisik, tetapi juga secara moril.
Ramadhan sungguh hadir di tengah gejolak itu.
Dan puasa adalah bentuk boikot paling mendasar. Dalam teori boikot, kekuatan lahir dari penarikan dukungan. Ketika partisipasi dihentikan, sistem yang mapan dapat melemah. Senjata kaum yang tidak memiliki dominasi materi adalah disiplin kolektif.
Ramadhan melatih disiplin-disiplin itu sejak fajar. Dalam hari-harinya.
Seorang mukmin menarik dukungan dari hawa nafsunya sendiri;menghentikan konsumsi, mengendalikan dorongan, menata ulang relasinya dengan materi. Ramadhan sungguh adalah latihan revolusioner yang sunyi.
Kedzaliman sering bertumpu pada kerakusan dan ketakutan. Ketika manusia takut kehilangan kenyamanan, ia mudah berkompromi dengan ketidakadilan. Dan saya kira Ramadhan memutus rantai itu. Ramadhan membentuk jiwa kita untuk sanggup hidup dalam keterbatasan tanpa kehilangan kehormatan.
Jika krisis ekonomi benar-benar menguat, Ramadhan telah lebih dahulu menempa mental kita. Kita telah belajar mengurangi. Kita telah membiasakan diri mengelola lapar dan haus dengan tenang. Kita telah membuktikan bahwa nilai diri tidak diukur oleh kelimpahan.
Dari boikot terhadap nafsu menjelma ketahanan menghadapi tekanan. Dari pengendalian diri tumbuh keberanian moral.
Umat yang terlatih menahan diri akan lebih sulit ditundukkan oleh propaganda, lebih sulit diguncang oleh kepanikan, dan lebih teguh berdiri di sisi keadilan.
Ramadhan lebih dari ibadah personal. Ramadhan adalah pembentukan karakter perlawanan yang bermartabat.
Semoga puasa kita melahirkan generasi yang kokoh dalam krisis, jernih dalam membaca zaman, dan teguh melawan setiap bentuk kedzaliman dengan ketenangan dan integritas.
















