Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Opini

Mendesak Indonesia Keluar dari BoP

18
×

Mendesak Indonesia Keluar dari BoP

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muhammad Ilham ( Ketua KAMMI Daerah Makassar)

Perkembangan geopolitik global saat ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin mengkhawatirkan. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar konflik regional, melainkan memiliki implikasi global yang berpotensi menyeret banyak negara ke dalam pusaran konfrontasi terbuka. Jika benar terjadi serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, maka respons balasan hampir tidak terelakkan. Situasi seperti ini bukan lagi sekadar krisis diplomatik, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas dunia.

Example 500x700

Dalam konteks tersebut, Indonesia tidak boleh lengah. Sebagai negara yang secara konstitusional mengamanatkan politik luar negeri bebas dan aktif, Indonesia harus konsisten menjaga jarak dari konfigurasi kekuatan global yang sarat rivalitas militer. Prinsip non-blok bukan sekadar simbol historis, melainkan fondasi strategis untuk menjaga kedaulatan dan keselamatan nasional.

Oleh karena itu, gagasan agar Indonesia keluar dari skema Balance of Power (BoP) patut dipertimbangkan secara serius. Konsep keseimbangan kekuatan pada dasarnya lahir dari logika persaingan dan dominasi, bukan dari semangat perdamaian. Ketika negara-negara besar saling unjuk kekuatan, negara berkembang seperti Indonesia berisiko hanya menjadi pion dalam permainan geopolitik yang tidak menguntungkan. Indonesia tidak boleh terjebak dalam orbit kekuatan mana pun yang dapat menyeretnya pada konflik yang bukan kepentingan nasionalnya.

Lebih jauh lagi, klaim perdamaian yang dibangun di atas tindakan militer dan pembunuhan tokoh politik jelas merupakan paradoks. Perdamaian tidak pernah lahir dari peluru dan rudal. Retorika yang membenarkan kekerasan sebagai instrumen stabilitas justru memperlihatkan kegagalan diplomasi. Jika tindakan agresif dibungkus dengan narasi “menciptakan perdamaian”, maka yang lahir bukanlah stabilitas, melainkan spiral kekerasan yang semakin luas.

Indonesia harus mengambil sikap tegas: memperkuat diplomasi multilateral, mendorong penyelesaian konflik melalui hukum internasional, dan menolak segala bentuk normalisasi kekerasan dalam hubungan antarnegara. Kedaulatan politik luar negeri tidak boleh dikompromikan demi kepentingan kekuatan besar. Dalam situasi dunia yang semakin terpolarisasi, sikap independen bukan hanya pilihan moral, tetapi kebutuhan strategis.

Jika dunia benar-benar bergerak menuju fase konflik global yang lebih luas, maka posisi terbaik Indonesia adalah berdiri tegak sebagai pengusung perdamaian yang konsisten, bukan sebagai bagian dari blok kekuatan yang mempertajam perpecahan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *