MAKASSAR – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan menjadi momen krusial yang akan menentukan arah dan masa depan organisasi ke depan. Hal ini dikemukakan oleh Pengamat Politik sekaligus Dosen Komunikasi UIN Datokarama, Dr. Attock Suharto. Menurutnya, dinamika internal partai berlambang pohon beringin ini tidak boleh sekadar berhenti pada persaingan antartokoh, melainkan harus diarahkan untuk melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa kemajuan nyata bagi Sulawesi Selatan.
Dalam pandangannya, politik merupakan proses panjang yang mengutamakan ketahanan dan keberlanjutan, bukan sekadar kemeriahan kompetisi sesaat.
“Yang terpenting dalam pertarungan politik bukan siapa yang paling vokal atau menonjol di awal, melainkan siapa yang mampu bertahan hingga akhir dan tetap membawa dukungan luas dari berbagai kalangan,” tegas Attock dalam keterangannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan kepemimpinan antara generasi senior dan kader muda di tubuh Golkar. Mengambil filosofi lambang partai, ia menyatakan bahwa pohon beringin yang rimbun membutuhkan dua unsur utama yang saling menguatkan.
“Akar yang kuat adalah para senior yang membawa pengalaman, jejaring, dan sejarah perjuangan. Sedangkan daun yang lebat adalah generasi muda yang membawa energi baru, gagasan segar, dan semangat pembaruan. Keduanya harus tumbuh bersatu, bukan saling menjatuhkan atau menyingkirkan,” jelasnya.
Attock juga menegaskan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan saat ini sedang mengamati dengan saksama setiap proses yang terjadi di dalam partai besar ini. Oleh karena itu, kontestasi internal jangan sampai berubah menjadi sekadar drama politik yang kosong makna.
“Publik tidak membutuhkan pertunjukan yang ramai namun tanpa arah yang jelas. Masyarakat menanti figur yang membawa perubahan dan kemajuan, bukan sekadar pemimpin yang hanya pandai mempertahankan keadaan yang sudah ada,” tambahnya.
Terkait figur calon pemimpin, Attock secara khusus menyoroti rekam jejak Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mantan Wali Kota Makassar yang pernah memimpin kota ini selama dua periode penuh. Menurutnya, pengalaman eksekutif ini merupakan aset utama dan modal berharga, bukan beban, dalam memimpin organisasi tingkat provinsi.
“IAS telah membuktikan kemampuannya menggerakkan birokrasi secara efektif, menghadirkan pembangunan yang terasa langsung oleh warga, serta menjaga kedekatan emosional dengan masyarakat. Segala dinamika dan pengalaman yang pernah dilaluinya justru menjadikan kematangan politiknya semakin teruji saat ini,” ujar Attock.
Dalam penilaiannya, ia juga mengutip pemikiran besar tokoh intelektual Gowa abad ke-17, Karaeng Pattingalloang, yang menekankan pentingnya pengenalan diri dan pemahaman mendalam atas pengalaman sebagai dasar utama kepemimpinan yang bijaksana.
Di penutup pandangannya, Attock menegaskan kembali makna luas dari Musda yang akan berlangsung. Bagi dia, forum ini bukan sekadar proses pemilihan Ketua DPD I Golkar Sulsel semata.
“Ini adalah titik penentu: apakah Golkar Sulsel akan kembali tumbuh menjadi kekuatan politik yang teduh, luas menaungi, dan kuat berakar—atau justru tetap terjebak dalam situasi yang tidak berkembang dan kehilangan arah,” pungkasnya.
















