Oleh: Ismawan Amir
Turkiye Indonesia Scholars Network
Di lantai dua sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan, gambar Menara Eiffel terpampang di dinding. Percakapan mengalir di antara aroma kopi yang baru diseduh. Orang datang untuk menyeruput kopi, bertemu kawan, atau sekadar membicarakan pekerjaan dan Indonesia dari sisi paling kecil.
Saya pernah mampir ke sana beberapa tahun lalu. BOSKA Coffee namanya. Pemiliknya Darwis Ismail, seorang pengusaha, sarjana kelautan Universitas Hasanuddin yang sudah lama menetap ke Jakarta.
Ada hal menarik dari tempat itu. BOSKA bukan sekadar kedai kopi. Ia juga menjadi ruang pertemuan para alumni, pengusaha, dan profesional dari berbagai daerah di Indonesia. Tempat itu menajdi ruang temu, jaringan pertemanan yang bisa menjadi modal yang tidak kalah penting dari uang.
Saya biasa memanggilnya Kak Darwis. Kami sama-sama alumni Universitas Hasanuddin, Makassar. Hanya saja, saya adik angkatannya, terpaut sekitar sepuluh tahun di bawahnya.
Ada sisi menarik dari perjalanan Kak Darwis. Ia bukan hanya seorang sarjana kelautan yang berhasil membangun usaha. Melalui bisnis yang dikembangkannya, ia juga membuka kesempatan kerja bagi banyak alumni kelautan, sekaligus terlibat dalam pemberdayaan nelayan dan petani tambak di berbagai daerah.
lita memiliki banyak sarjana yang memahami potensi laut Indonesia. Tetapi mengubah pengetahuan menjadi kegiatan ekonomi yang menghidupi masyarakat tentu membutuhkan kemampuan berbeda.
Kak Darwis memilih menempuh jalan itu.
Hal lain yang saya perhatikan adalah kepeduliannya terhadap sesama alumni. Kepedulian yang tidak selalu muncul dalam forum resmi atau kegiatan organisasi.
Ketika ada alumni yang jatuh sakit, Kak Darwis boleh dikata termasuk orang pertama yang mengulurkan tangan. Ia tidak menunggu diminta. Ada kepekaan untuk hadir ketika orang lain sedang menghadapi kesulitan.
Begitu pula terhadap alumni muda yang baru menyelesaikan pendidikan. Ia tidak sekadar memberi nasihat agar mereka bekerja keras. Kak Darwis berusaha membuka jalan, mempertemukan mereka dengan peluang pekerjaan, atau membantu menghubungkan dengan kesempatan melanjutkan studi.
Ia memahami bahwa anak muda tidak selalu kekurangan kemampuan atau gagasan. Sering kali yang mereka butuhkan adalah kesempatan, kepercayaan, dan seseorang yang bersedia membuka pintu.
Saya kira di sinilah nilai penting seorang senior. Bukan sekadar menunjukkan jalan keberhasilannya sendiri, melainkan ikut membuka jalan agar generasi setelahnya dapat melangkah lebih jauh.
Kepedulian itu ditopang oleh jejaring yang luas. Kak Darwis memiliki hubungan baik dengan berbagai tokoh dan lembaga di tingkat nasional. Jejaring yang dibangunnya selama bertahun-tahun, baik melalui dunia usaha maupun organisasi, menjadi modal sosial yang tidak kecil.
Tetapi jaringan seluas apa pun tidak banyak berarti jika hanya menjadi daftar nama dalam telepon genggam. Nilainya justru terlihat ketika hubungan tersebut dapat digunakan untuk mempertemukan orang dengan kesempatan, membantu sesama, dan membangun kerja sama.
Pengalaman Kak Darwis dalam organisasi juga cukup panjang.
Pada 2016, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin (ISLA Unhas). Lima tahun kemudian, pada 2021, ia kembali terpilih melalui musyawarah mufakat. Ketika itu, ISLA Unhas memiliki sekitar 3.000 anggota yang tersebar di berbagai daerah.
Di tingkat nasional, Kak Darwis pernah mengemban amanah sebagai Bendahara Umum ISKINDO periode 2016–2018, Sekretaris Dewan Pakar periode 2018–2020, dan Wakil Ketua Umum periode 2021–2026.
Artinya, ia mengenal organisasi ini bukan hanya dari ruang rapat saja, tetapi juga dari tanggung jawab yang pernah dijalankannya.
Kini, ketika ISKINDO bersiap memilih Ketua Umum periode 2026–2031, perjalanan Kak Darwis menjadi menarik untuk diperhatikan.
Menurut saya, tantangan ISKINDO ke depan bukan sekadar memperbesar organisasi atau memperluas jumlah anggota. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kekuatan para sarjana kelautan dapat diubah menjadi kontribusi nyata.
Indonesia memiliki begitu banyak persoalan kelautan yang membutuhkan pemikiran sekaligus tindakan. Mulai dari kesejahteraan nelayan, produktivitas tambak, keberlanjutan lingkungan, hingga terbatasnya kesempatan profesional bagi generasi muda kelautan.
ISKINDO seharusnya mampu menjadi jembatan antara dunia akademik, industri, pemerintah, dan masyarakat pesisir.
Dalam konteks inilah pengalaman Kak Darwis menjadi relevan. Ia mengenal dunia usaha, memiliki pengalaman mengelola organisasi, memahami pentingnya membangun jaringan, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap sesama.
Tentu, setiap calon Ketua Umum ISKINDO memiliki pengalaman dan gagasan yang patut dihargai. Pengalaman panjang pun tidak otomatis menjamin keberhasilan seorang pemimpin.
Tetapi saya melihat Kak Darwis mempunyai bekal yang penting, pengalaman membangun usaha, memberdayakan masyarakat pesisir, menggerakkan alumni, merawat solidaritas, dan menjalin hubungan dengan berbagai tokoh serta lembaga nasional.
Jika dirangkum, ada perpaduan yang cukup lengkap dalam dirinya. Kemampuan berusaha, pengalaman berorganisasi, keluasan jejaring, dan kepedulian terhadap orang lain. Sebuah bekal kepemimpinan yang, bagi saya, nyaris paripurna.
rekam jejaknya patut diperhitungkan.
Saya memandang Kak Darwis memiliki pengalaman yang relevan untuk memimpin ISKINDO dan membawa organisasi ini semakin dekat dengan kebutuhan para anggotanya serta masyarakat pesisir.
….j
















