Alor NTT, 29 Mei 2026 — Takbir Idul Adha kembali menggema hingga ke pelosok negeri. Di tengah keterbatasan akses dan jauhnya perjalanan menuju daerah pedalaman dan pulau-pulau terluar, semangat berbagi dan kepedulian kemanusiaan tetap hadir melalui program Qurban 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
Lebih dari belasan tahun, Abdullah Sartono bersama jaringan dakwah dan kemanusiaan terus membersamai pelaksanaan dan penyaluran hewan qurban di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Amanah tersebut datang dari para Muhsinin, donatur mandiri, lembaga amil zakat nasional, CSR perusahaan, hingga lembaga kemanusiaan yang mempercayakan penyaluran qurbannya kepada relawan di lapangan.
Perjalanan panjang pengabdian itu dimulai dari wilayah pedalaman Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga menjangkau pulau-pulau terluar di Nusa Tenggara Timur. Di bawah naungan Yayasan Shohwatul Islam, program Qurban 3T terus berjalan sejak tahun 2017 hingga hari ini, menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat muslim dhuafa yang selama ini jarang menikmati daging qurban.
“Menjadi sebuah kebahagiaan karena daging qurban langsung dinikmati dan dibagikan bersama kaum dhuafa muslimin di pelosok negeri,” ungkap Abdullah Sartono saat melaporkan pelaksanaan qurban dari Pulau Pantar, Kabupaten Alor, NTT.
Bagi masyarakat di daerah terpencil, momentum Idul adha bukan sekadar ritual tahunan. Kehadiran hewan qurban menjadi simbol cinta, persaudaraan, dan perhatian umat Islam yang saling menguatkan meski terpisah lautan dan jarak yang jauh. Suasana kebersamaan begitu terasa saat proses penyembelihan, pembagian daging, hingga makan bersama masyarakat.
Anak-anak tampak antusias membantu proses distribusi. Para orang tua berkumpul penuh syukur menyambut hari raya. Di tengah keterbatasan ekonomi masyarakat pesisir dan pedalaman, qurban menghadirkan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Spirit qurban memberikan makna baru bagi generasi dan peradaban. Ia bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi tentang pengorbanan, kepedulian, ukhuwah, dan semangat membangun kemanusiaan,” tambahnya.
Pelaksanaan qurban di wilayah Pulau Terluar Alor sendiri telah berlangsung sejak tahun 2021. Program tersebut mendapat dukungan luas dari para donatur mandiri serta kolaborasi beberapa lembaga filantropi nasional yang memiliki perhatian terhadap dakwah dan kemanusiaan di kawasan 3T Indonesia.
Tahun 2026 ini, Yayasan Shohwatul Islam kembali mendapatkan amanah beberapa ekor sapi qurban dari para donatur melalui LAZ Nurul Hayat. Pelaksanaan qurban dilakukan di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Alor NTT yang menjadi salah satu titik distribusi prioritas.
Medan yang berat, akses transportasi terbatas, hingga tantangan cuaca tidak menyurutkan semangat relawan dan masyarakat setempat. Proses pengiriman hingga pelaksanaan qurban dilakukan dengan penuh perjuangan agar amanah para Muhsinin dapat tersampaikan tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kolaborasi kemanusiaan yang dibangun selama ini mengusung semangat besar: “Bangkitkan Umat dan Negeri.” Sebuah tagline yang tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata, gotong royong, pelayanan umat, dan penguatan dakwah di daerah-daerah yang minim akses.
Program qurban 3T juga menjadi ruang penguatan ukhuwah lintas daerah. Banyak relawan muda terlibat langsung dalam proses distribusi dan pelayanan masyarakat. Mereka belajar tentang arti pengorbanan, pengabdian, dan pentingnya menghadirkan manfaat bagi sesama.
Abdullah Sartono menyampaikan apresiasi dan rasa syukur kepada seluruh pihak yang selama ini membersamai perjuangan tersebut.
“Jazakumullahu khaeran atas kerja sama semua pihak terkait. Semoga Allah Ta’ala membalas dengan kebaikan yang berlimpah dan menjadikan qurban bapak ibu Muhsinin sebagai kendaraan terbaik menuju surga Allah Ta’ala. Amin. Barakallahu fikum,” tuturnya.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, semangat qurban dari pelosok negeri menjadi pengingat bahwa kepedulian dan persaudaraan umat masih terus hidup. Dari pedalaman Sulawesi hingga Pulau Pantar di Alor NTT, gema takbir dan semangat berbagi terus menyalakan harapan bagi Indonesia yang lebih berdaya dan berkeadaban.
Abdullah Sartono
Pegiat Kemanusiaan
Melaporkan dari Pulau Pantar, Alor Nusa Tenggara Timur
















