Oleh: Dr. Irfan B, S.Sos.,M.A.P
Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, sejarah menyimpan pelajaran tentang keberanian, keteguhan, kehormatan, dan kemampuan seorang pemimpin membaca perubahan zaman. Dalam perjalanan sejarah Sulawesi Selatan abad ke-17, nama Arung Palakka menempati ruang yang tidak sederhana. Ia dikenang sebagai tokoh penting dalam kebangkitan politik Bone, tetapi sekaligus menjadi figur yang mengundang perdebatan karena pilihan aliansi dan konsekuensi perjuangannya.
Bagi masyarakat Bone, Arung Palakka bukan sekadar nama yang tertinggal dalam buku sejarah. Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif tentang perjuangan, martabat, dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri. Dari perjalanan hidupnya, kita dapat belajar bahwa keteguhan seorang pemimpin mampu mengubah arah sejarah. Namun, sejarah juga mengingatkan bahwa keberanian dan kemenangan harus selalu diuji melalui pertimbangan moral serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Siri’ dan Keteguhan Menghadapi Zaman
Untuk memahami Arung Palakka, kita perlu menengok lanskap politik Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Saat itu, kerajaan-kerajaan di kawasan ini terlibat dalam persaingan kekuasaan, perdagangan, dan pengaruh politik. Kerajaan Gowa berkembang sebagai kekuatan besar, sementara Bone dan sejumlah kerajaan lainnya menghadapi dinamika hubungan yang diwarnai persaingan maupun persekutuan.
Dalam konteks tersebut, Arung Palakka tampil sebagai figur yang berupaya mengubah keadaan politik yang dihadapinya. Perjuangannya berkaitan erat dengan konflik antara Bone dan Gowa serta keinginannya untuk memulihkan posisi politik Bone. Ia kemudian membangun aliansi dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dalam Perang Makassar yang berlangsung pada 1666–1669. Persekutuan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perubahan keseimbangan kekuasaan di Sulawesi Selatan.
Sejarawan Leonard Y. Andaya dalam The Heritage of Arung Palakka menjelaskan bahwa perjuangan Arung Palakka perlu dipahami melalui hubungan kekuasaan, konflik antarkerajaan, dan perubahan politik pada zamannya. Karena itu, kiprahnya tidak cukup dijelaskan hanya sebagai kisah keberanian seorang tokoh, tetapi juga sebagai bagian dari strategi politik yang membentuk sejarah kawasan.
Di sinilah nilai siri’ memperoleh relevansinya sebagai lensa kebudayaan. Dalam pemahaman masyarakat Bugis, siri’ berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan martabat yang harus dijaga. Akan tetapi, kehormatan bukanlah alasan untuk membenarkan setiap tindakan. Siri’ yang bermakna justru menuntut keberanian untuk mempertanggungjawabkan pilihan dan menjaga agar kehormatan tidak berubah menjadi kesombongan atau pembenaran atas kekuasaan.
Perjalanan Arung Palakka dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana perasaan terancamnya martabat dan aspirasi politik dapat mendorong seseorang mengambil tindakan besar. Keteguhannya menunjukkan bahwa perubahan tidak lahir dari sikap pasrah terhadap keadaan. Namun, keteguhan yang layak diwariskan bukan sekadar kemampuan bertahan atau memenangkan pertarungan, melainkan juga kemampuan menimbang akibat dari setiap keputusan.
Getteng: Teguh pada Tujuan, Cermat Memilih Jalan
Dalam khazanah nilai Bugis, getteng kerap dimaknai sebagai keteguhan pendirian, konsistensi, dan ketegasan dalam memegang prinsip. Nilai ini penting dalam kepemimpinan karena pemimpin akan selalu berhadapan dengan tekanan, kepentingan yang saling bertentangan, dan situasi yang tidak pasti.
Arung Palakka memperlihatkan bahwa perjuangan politik membutuhkan keteguhan tujuan sekaligus kecakapan membaca peluang. Ia tidak hanya berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar, tetapi juga harus menentukan strategi untuk mencapai tujuan politiknya. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, kemampuan membangun aliansi dan memanfaatkan perubahan keseimbangan kekuasaan menjadi bagian dari perjalanan politiknya.
Namun, ada pelajaran yang perlu digarisbawahi: teguh tidak berarti keras kepala, dan konsisten tidak berarti menolak evaluasi. Pemimpin yang teguh adalah pemimpin yang memiliki prinsip, tetapi tetap bersedia menguji strategi berdasarkan kenyataan dan akibatnya.
Dalam kehidupan pemerintahan masa kini, getteng dapat diterjemahkan sebagai konsistensi menjalankan kebijakan, ketegasan memberantas penyimpangan, serta keberanian mengambil keputusan untuk kepentingan publik. Keteguhan seorang pemimpin tidak semestinya diukur dari seberapa kuat ia mempertahankan kekuasaan, tetapi dari seberapa konsisten ia memperjuangkan kepentingan masyarakat, bahkan ketika keputusan itu tidak menguntungkan dirinya sendiri.
Bone dan daerah-daerah lain di Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak mudah goyah oleh tekanan kepentingan. Namun, keteguhan tersebut harus berjalan bersama akuntabilitas, keterbukaan, dan kesediaan mendengar suara masyarakat. Tanpa ketiga hal itu, ketegasan dapat berubah menjadi otoritarianisme, sementara konsistensi dapat menjelma menjadi penolakan terhadap kritik.
Lempu dan Sipakatau: Kehormatan Harus Berjalan Bersama Etika
Keteguhan saja tidak cukup untuk membangun kepemimpinan yang bermartabat. Ia harus disertai lempu, yakni nilai kejujuran dan kelurusan moral, serta sipakatau, yang menekankan penghormatan terhadap sesama manusia.
Dalam pemikiran politik dan kebudayaan Bugis, nilai-nilai tersebut memberikan ukuran etis bagi perilaku seorang pemimpin. Kekuasaan bukan hanya persoalan kemampuan memerintah, mengalahkan lawan, atau mengendalikan sumber daya. Kekuasaan juga merupakan tanggung jawab untuk menjaga keadilan, menghormati manusia, dan memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak semata-mata menguntungkan kelompok tertentu.
Karena itu, membaca Arung Palakka sebagai tokoh sejarah perlu dilakukan secara jujur dan seimbang. Ia berperan penting dalam mengubah peta kekuasaan di Sulawesi Selatan, tetapi persekutuannya dengan VOC juga mengingatkan kita pada kompleksitas perjuangan politik ketika kepentingan lokal bertemu dengan kekuatan kolonial.
Perang Makassar berakhir dengan perubahan besar dalam tatanan politik kawasan. Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667 menjadi salah satu tonggak penting dalam proses tersebut, sedangkan jatuhnya pusat kekuasaan Gowa di Somba Opu pada 1669 menandai babak baru dalam sejarah Sulawesi Selatan. Perubahan itu tidak dapat dipahami hanya sebagai kemenangan satu pihak, sebab ia juga berkaitan dengan pergeseran kekuasaan dan meningkatnya pengaruh VOC.
Maka, kebesaran seorang tokoh sejarah sebaiknya tidak dinilai hanya dari kemenangan yang diraihnya. Kita juga perlu mempertanyakan harga yang harus dibayar, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung akibat, dan bagaimana keputusan tersebut membentuk masa depan masyarakat.
Di sinilah lempu menjadi penting: sejarah harus dibaca dengan kejujuran, bukan sekadar untuk mengagungkan tokoh. Sementara itu, sipakatau mengingatkan bahwa tujuan kepemimpinan semestinya tidak menghilangkan martabat manusia. Kedua nilai ini menjadikan penghormatan terhadap sejarah lebih bermakna karena disertai kemampuan untuk belajar secara kritis.
Perlu ditegaskan bahwa getteng, lempu, siri’, dan sipakatau digunakan di sini sebagai kerangka nilai budaya Bugis untuk membaca persoalan kepemimpinan. Penggunaan kerangka tersebut tidak berarti bahwa Arung Palakka sendiri merumuskan keempatnya sebagai satu doktrin kepemimpinan yang utuh.
Mengembalikan Kejayaan Bone: Bukan Sekadar Mengenang Masa Lalu
Menyebut kejayaan Arung Palakka sering kali membangkitkan kebanggaan terhadap sejarah Bone. Kebanggaan itu wajar, sebab sejarah dapat menjadi sumber identitas, inspirasi, dan energi kolektif. Akan tetapi, kebanggaan sejarah perlu diterjemahkan menjadi agenda kemajuan yang nyata.
Kejayaan masa lalu tidak akan kembali hanya melalui peringatan, simbol, atau pengulangan kisah kemenangan. Kejayaan harus dimaknai kembali sesuai dengan tantangan zaman. Jika pada masa lalu kekuatan politik berkaitan erat dengan kemampuan mempertahankan wilayah dan membangun aliansi, maka pada masa kini kekuatan daerah lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, mutu pendidikan, kapasitas ekonomi, inovasi, tata kelola pemerintahan, dan kemampuan menciptakan keadilan sosial.
Bone dapat mengambil inspirasi dari keteguhan Arung Palakka untuk membangun masyarakat yang percaya diri, mandiri, dan berani menghadapi perubahan. Namun, orientasi kebangkitan itu harus diarahkan pada pembangunan yang memberi manfaat bagi seluruh warga, bukan hanya kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan.
Pemimpin daerah yang ingin menghidupkan kembali semangat kejayaan Bone harus berani membenahi pelayanan publik, memperkuat pendidikan, membuka peluang ekonomi, melindungi kebudayaan, serta memastikan pembangunan menjangkau masyarakat hingga ke pelosok. Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang ditakuti, melainkan pemerintahan yang dipercaya karena bekerja secara jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Dalam konteks ini, warisan sejarah Arung Palakka dapat ditempatkan sebagai sumber refleksi tentang keberanian menentukan arah. Akan tetapi, ukuran keberhasilan kepemimpinan masa kini harus lebih luas daripada kemenangan politik. Ia harus tercermin dalam kesejahteraan masyarakat, kualitas institusi, keadilan dalam pengambilan keputusan, dan keberlanjutan pembangunan.
Kebangkitan Bone juga membutuhkan generasi muda yang tidak hanya mengenal nama tokoh sejarah, tetapi memahami konteks perjuangan dan mampu menghubungkannya dengan persoalan kontemporer. Sejarah harus hadir dalam ruang pendidikan, diskusi publik, kegiatan kebudayaan, dan proses pembentukan karakter. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi bahan pembelajaran untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Belajar dari Sejarah, Menentukan Masa Depan
Arung Palakka adalah figur sejarah yang fenomenal karena kiprahnya berkaitan dengan perubahan besar dalam politik Sulawesi Selatan. Keteguhan dan kecakapan strategisnya layak dikaji, tetapi warisannya juga mengandung pertanyaan moral tentang pilihan politik, persekutuan, dan konsekuensi kekuasaan.
Justru karena kompleksitas itulah, Arung Palakka relevan untuk dibicarakan kembali. Kita tidak perlu mengubahnya menjadi tokoh tanpa cela agar dapat mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya. Sebaliknya, penghormatan yang matang terhadap sejarah lahir dari keberanian melihat kelebihan dan keterbatasan seorang tokoh secara bersamaan.
Dari Arung Palakka, kita belajar bahwa seseorang tidak harus menyerah kepada keadaan. Dari nilai getteng, kita belajar pentingnya keteguhan prinsip. Dari siri’, kita belajar menjaga martabat. Dari lempu, kita belajar bahwa kejujuran merupakan fondasi kekuasaan yang bermoral. Dari sipakatau, kita belajar bahwa penghormatan terhadap manusia harus tetap menjadi bagian dari setiap keputusan.
Namun, pelajaran terpentingnya ialah bahwa keteguhan harus disertai kebijaksanaan. Keberanian tanpa pertimbangan moral dapat melahirkan kerusakan, sedangkan kekuasaan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan ketidakadilan. Pemimpin yang besar bukan hanya mereka yang mampu mengubah sejarah, melainkan juga mereka yang memastikan perubahan itu membawa kebaikan bagi masyarakat.
Maka, menyalakan kembali semangat kejayaan Bone bukan berarti menghidupkan kembali pertarungan masa lalu. Yang perlu dibangkitkan adalah keberanian untuk berdiri tegak, keteguhan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, kejujuran dalam mengelola kekuasaan, serta kesediaan membangun masa depan bersama.
Sejarah telah menunjukkan bahwa keteguhan seseorang dapat mengubah arah zaman. Tantangan bagi generasi sekarang adalah memastikan bahwa perubahan yang kita perjuangkan tidak hanya menciptakan kemenangan, tetapi juga menghadirkan kemajuan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan.
Sebab, kejayaan sejati bukan hanya ketika nama seorang pemimpin dikenang oleh sejarah, melainkan ketika nilai-nilai baik yang diperjuangkannya terus hidup dalam tindakan generasi sesudahnya.
Daftar Pustaka
Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
Andaya, Leonard Y. (1981). “The Makassar War.” Dalam The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
Brown, Michael E., Treviño, Linda K., & Harrison, David A. (2005). “Ethical Leadership: A Social Learning Perspective for Construct Development and Testing.” Organizational Behavior and Human Decision Processes, 97(2), 117–134.
Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pelras, Christian. (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers.
Walumbwa, Fred O., Avolio, Bruce J., Gardner, William L., Wernsing, Tara S., & Peterson, Suzanne J. (2008). “Authentic Leadership: Development and Validation of a Theory-Based Measure.” Journal of Management, 34(1), 89–126.
















