MAKASSAR — Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang, Akademisi Universitas Hasanuddin, Dr. Wahyuni Salewe, mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum bersejarah ini sebagai pengingat untuk senantiasa menjaga kondusivitas di tengah dinamika politik kebangsaan yang sedang berlangsung.
Menurut Dr. Wahyuni Salewe, semangat Sumpah Pemuda yang mengikat kita sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa, harus kembali menjadi kompas utama di tengah beragamnya perbedaan pandangan politik saat ini. Perbedaan pilihan dan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh merenggangkan ikatan persaudaraan kebangsaan yang telah dirajut para pendahulu.
“Momentum tanggal 28 Oktober ini sangat tepat untuk kita renungkan kembali: bahwa di atas segala perbedaan, kita tetap satu bangsa. Semangat Sumpah Pemuda adalah pengingat bahwa persatuan jauh lebih berharga daripada kepentingan sesaat,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memanaskan suasana, terutama di ruang media sosial. Diperlukan kedewasaan dalam menyikapi informasi yang beredar, agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi permusuhan yang merusak kerukunan.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar seremonial. Ia adalah janji kita kepada sesama anak bangsa. Mari kita wujudkan dengan sikap yang saling menghargai, menjaga kebenaran, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya,” pesannya
















