Oleh: Dr. Irfan B, S.Sos., M.A.P.
Ada masa ketika manusia harus berjalan jauh untuk menemukan pengetahuan. Ia mengetuk pintu perpustakaan, menyusuri lorong-lorong buku, lalu menghabiskan malam bersama pikiran para filsuf yang telah lama meninggalkan dunia. Pengetahuan tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia meminta waktu, kesabaran, bahkan kesediaan untuk tersesat sebelum menemukan jalan pulang.
Kini, zaman mengubah cara manusia bertemu dengan pengetahuan. Sebuah pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik. Sebuah tulisan dapat disusun tanpa harus berlama-lama menatap halaman kosong. Bahkan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu menjadi teman percakapan yang seolah mengetahui banyak hal tentang dunia.
Manusia tidak lagi harus selalu mendatangi pengetahuan. Dalam banyak keadaan, pengetahuanlah yang seakan datang menghampiri manusia.
Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan sebuah pertanyaan lama yang kembali mengetuk kesadaran kita: apakah mengetahui sesuatu berarti telah memahaminya? Dan apakah kemampuan menemukan jawaban dengan cepat membuat manusia semakin bijaksana?
Pertanyaan itu terasa semakin penting di tengah kehidupan akademik yang sedang bernegosiasi dengan kecerdasan buatan. Perguruan tinggi menghadapi kenyataan bahwa mahasiswa hidup dalam dunia yang berbeda dari dunia para pendahulunya. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu yang sesekali digunakan, melainkan bagian dari lingkungan tempat pengetahuan diproduksi, dipertukarkan, dan diuji.
Dalam situasi demikian, mahasiswa perlu belajar menerima perubahan tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir. Mereka perlu beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga menjaga integritas akademik. Sebab, kemajuan yang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat manusia memperoleh jawaban, tetapi juga oleh seberapa jujur ia mencari kebenaran.
Di sinilah kita perlu berkaca pada AI dan bermaklum pada zaman.
Pengetahuan yang Datang Terlalu Cepat
Dalam filsafat Plato, manusia diajak merenungkan perbedaan antara penampakan dan kenyataan, antara sesuatu yang tampak benar dan sesuatu yang sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan sebagai kebenaran.
Gagasan itu terasa relevan ketika kita berhadapan dengan AI. Sebuah jawaban dapat tersusun dengan bahasa yang indah, argumen yang meyakinkan, dan susunan kalimat yang tampak ilmiah. Akan tetapi, keindahan bahasa tidak selalu menjadi jaminan kebenaran isinya.
AI dapat menghasilkan penjelasan yang masuk akal, tetapi terkadang menyajikan informasi yang keliru. Ia dapat memberikan daftar referensi yang tampak meyakinkan, tetapi sebagian sumbernya mungkin tidak pernah ada. Ia dapat membantu menyusun argumen, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin bahwa argumen tersebut didasarkan pada bukti yang kuat.
Di sinilah kecanggihan teknologi menuntut manusia untuk tidak mudah terpesona oleh penampilannya.
Dalam kehidupan akademik, persoalannya bukan apakah mahasiswa boleh menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah penggunaan itu membuat mereka semakin memahami sesuatu atau justru semakin bergantung pada sesuatu yang tidak mereka pahami.
Bayangkan seorang mahasiswa yang meminta AI menyusun esai tentang reformasi birokrasi. Dalam beberapa saat, ia memperoleh tulisan dengan struktur yang rapi, teori yang tampak relevan, dan kesimpulan yang terdengar meyakinkan. Namun, ketika diminta menjelaskan dasar argumennya, ia justru kesulitan mempertanggungjawabkan tulisan tersebut.
Esainya selesai, tetapi perjalanan intelektualnya belum tentu dimulai.
Kita sedang menghadapi paradoks zaman: manusia dapat menghasilkan lebih banyak tulisan tanpa selalu menghasilkan lebih banyak pemahaman. Pengetahuan menjadi semakin mudah diakses, tetapi kebijaksanaan tetap membutuhkan usaha yang tidak dapat disingkat begitu saja.
AI dapat membantu manusia menemukan jalan menuju pengetahuan. Namun, manusia tetap harus berjalan di atasnya.
Gemini dan Perubahan Wajah Pendidikan
Perubahan tersebut bukan sekadar dugaan. Perkembangan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bagaimana hubungan manusia dengan pengetahuan terus bergeser.
Pada 2022, kemunculan ChatGPT pada akhir tahun memperluas perhatian publik terhadap kemampuan AI generatif dalam menghasilkan teks dan menjawab pertanyaan. Tahun 2023 menjadi periode ketika perguruan tinggi di berbagai negara semakin serius memperdebatkan penggunaannya, mulai dari manfaat pembelajaran hingga persoalan plagiarisme dan kejujuran akademik.
Pada Februari 2024, Google memperkenalkan Gemini sebagai bagian dari pengembangan model kecerdasan buatannya. Teknologi ini kemudian menjadi salah satu pilihan yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk membantu memahami konsep, merangkum bahan bacaan, mengembangkan kerangka penelitian, dan mendukung berbagai aktivitas akademik.
Penelitian Hasanein, Sobaih, dan Elshaer yang terbit pada 2024 dalam Journal of Applied Learning & Teaching mengkaji penerimaan dan penggunaan Google Gemini dalam pendidikan tinggi. Penelitian terhadap 400 responden dari tujuh universitas negeri di Arab Saudi tersebut menunjukkan bahwa persepsi mengenai manfaat, kemudahan penggunaan, dan pengaruh sosial berkaitan dengan niat mahasiswa untuk menggunakan Gemini.
Temuan ini memberi gambaran bahwa penerimaan AI di lingkungan akademik tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Mahasiswa juga mempertimbangkan manfaat yang mereka rasakan dan kemudahan mengintegrasikannya ke dalam kegiatan belajar.
Pada September 2025, Google mengumumkan bahwa Gemini for Education telah menjangkau lebih dari 10 juta mahasiswa melalui lebih dari 1.000 institusi pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Angka tersebut menunjukkan luasnya jangkauan akses institusional terhadap teknologi AI di pendidikan tinggi, meskipun tidak dapat disamakan dengan jumlah pengguna aktif harian.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Data in Brief pada 2025 menyajikan data penggunaan AI untuk pembelajaran di Indonesia yang melibatkan 535 data responden dari 152 universitas di 20 provinsi. Data ini mencakup penggunaan, persepsi, harapan, sikap, dan motivasi mahasiswa dalam memanfaatkan AI untuk kegiatan akademik.
Rangkaian informasi tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari perbincangan mengenai masa depan pendidikan. Namun, data itu tidak berarti bahwa seluruh mahasiswa telah menggunakan Gemini atau bahwa penggunaan AI secara otomatis meningkatkan mutu pembelajaran.
Teknologi dapat memperluas pintu menuju pengetahuan, tetapi tidak menjamin setiap orang yang melewatinya akan menjadi lebih bijaksana.
Di sinilah perguruan tinggi perlu mengambil posisi yang jernih. Kampus tidak semestinya menutup mata terhadap perubahan, tetapi juga tidak boleh menyerahkan arah pendidikan kepada logika mesin dan kecepatan algoritma.
Sebab, pendidikan bukan sekadar urusan memindahkan informasi dari satu tempat ke tempat lain. Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar mampu memahami makna, menguji kebenaran, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.
Kejujuran sebagai Cahaya yang Tidak Boleh Padam
Ada sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh AI dalam kehidupan akademik: tanggung jawab moral manusia atas pengetahuan yang digunakannya.
AI dapat membantu menyusun kalimat, tetapi manusialah yang harus mempertanggungjawabkan maknanya. AI dapat menyarankan teori, tetapi peneliti tetap harus memeriksa kesesuaian teori tersebut dengan persoalan yang dikaji. AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi manusia tidak boleh mengabaikan ketepatan data dan kejujuran dalam menyajikan hasil penelitian.
Karena itu, integritas akademik tidak cukup dipahami sebagai larangan menyalin tulisan orang lain. Integritas merupakan kesediaan untuk menjaga hubungan yang jujur antara apa yang diketahui, apa yang ditulis, dan apa yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam dunia yang semakin mudah menghasilkan informasi, kejujuran justru menjadi semakin berharga.
Mahasiswa perlu memahami bahwa menggunakan AI tidak selalu berarti melakukan pelanggaran akademik. Persoalannya bergantung pada tujuan, cara penggunaan, aturan institusi, dan keterbukaan mengenai bantuan yang digunakan.
AI dapat menjadi teman berpikir ketika mahasiswa memintanya menjelaskan teori yang sulit, menguji kelemahan argumen, atau menunjukkan kemungkinan sudut pandang lain. Akan tetapi, AI berubah menjadi jalan pintas yang bermasalah ketika mahasiswa menggunakannya untuk menghindari proses belajar, menyamarkan asal-usul gagasan, atau menyerahkan pekerjaan yang tidak benar-benar dipahaminya.
Perbedaannya mungkin tidak selalu tampak pada hasil tulisan. Dua esai dapat terlihat sama-sama rapi, padahal perjalanan intelektual di baliknya sangat berbeda.
Yang satu lahir dari pembacaan, perdebatan, keraguan, dan pemeriksaan. Yang lain mungkin hanya lahir dari keinginan menyelesaikan tugas secepat mungkin.
Di sinilah pendidikan harus kembali kepada makna dasarnya. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengajarkan manusia menghasilkan jawaban, tetapi juga membentuk watak agar manusia tidak mengkhianati kebenaran demi sebuah jawaban.
Sebab, kecerdasan tanpa kejujuran dapat menjadi alat untuk menyesatkan, sementara pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat menjauhkan manusia dari kebijaksanaan.
Kampus dan Tugas Menjaga Akal Budi
Perkembangan AI semestinya menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi untuk meninjau kembali cara mengajar, belajar, dan menilai kemampuan mahasiswa.
Jika tugas akademik hanya dinilai berdasarkan tulisan akhir, dosen akan semakin sulit membedakan kemampuan berpikir mahasiswa dari kemampuan mesin menghasilkan teks. Karena itu, penilaian perlu memberi ruang lebih besar bagi proses: bagaimana mahasiswa membangun argumen, memeriksa sumber, menjelaskan metode, mempertahankan pendapat, dan mengakui keterbatasan penelitiannya.
Diskusi kelas, presentasi, ujian lisan, pembacaan kritis, dan penjelasan mengenai proses penyusunan karya dapat menjadi bagian penting dari pembelajaran. Mahasiswa juga perlu dibiasakan memverifikasi informasi yang dihasilkan AI, bukan menerima jawaban hanya karena susunan bahasanya tampak meyakinkan.
Pada saat yang sama, perguruan tinggi perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas, adil, dan mudah dipahami. Larangan yang terlalu umum berisiko mengabaikan manfaat teknologi, sedangkan kebebasan tanpa batas dapat mengaburkan tanggung jawab akademik.
Yang dibutuhkan bukan sekadar kampus yang melarang atau mengizinkan AI, melainkan kampus yang mampu mendidik mahasiswa memahami kapan teknologi membantu proses berpikir dan kapan penggunaannya justru menggantikan proses tersebut.
Dosen pun perlu terus memperbarui pengetahuan mengenai teknologi digital. Bukan untuk berlomba dengan mesin dalam menghasilkan teks, melainkan untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap memiliki ruang bagi dialog, penalaran, dan pembentukan karakter.
Kampus harus menjadi tempat ketika manusia belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Dari Ruang Kuliah Menuju Ruang Publik
Bagi mahasiswa Administrasi Publik, persoalan AI bahkan memiliki konsekuensi yang lebih luas. Mereka kelak berhadapan dengan persoalan kebijakan, pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan kebutuhan masyarakat yang tidak selalu dapat disederhanakan menjadi angka.
AI dapat membantu pemerintah mengolah data, memetakan kebutuhan warga, mempercepat pelayanan, dan mendukung evaluasi kebijakan. Namun, penggunaan teknologi dalam pemerintahan juga membawa pertanyaan mengenai akuntabilitas, transparansi, perlindungan data, bias algoritma, dan keadilan sosial.
Sebuah sistem digital mungkin dapat menentukan siapa yang dianggap layak menerima bantuan berdasarkan data tertentu. Namun, bagaimana jika datanya tidak akurat? Bagaimana jika warga yang paling membutuhkan justru tidak tercatat dalam sistem? Dan kepada siapa masyarakat harus mengajukan keberatan ketika keputusan yang merugikan mereka dibuat melalui proses otomatis?
Pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi tidak menghapus kebutuhan akan kebijaksanaan manusia. Justru, semakin besar kekuatan teknologi dalam memengaruhi kehidupan masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi administrator publik, ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa cepat mesin bekerja, melainkan seberapa adil pelayanan diberikan. Inovasi bukan hanya tentang memperbarui sistem, melainkan juga memastikan bahwa perubahan membawa manfaat bagi masyarakat.
Efisiensi tanpa keadilan dapat melahirkan ketimpangan yang lebih cepat. Digitalisasi tanpa akuntabilitas dapat menciptakan jarak baru antara pemerintah dan warga. Sebaliknya, teknologi yang dipandu oleh etika dan kepentingan publik dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang lebih baik.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar melihat AI bukan hanya sebagai perangkat teknis, melainkan juga sebagai persoalan tata kelola dan tanggung jawab sosial.
Mereka harus mampu memahami teknologi sekaligus mempertanyakan dampaknya. Mereka perlu menguasai data tanpa melupakan manusia yang diwakili oleh angka-angka di dalamnya.
Sebab, di balik setiap angka statistik, selalu ada kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat diterangkan oleh statistik itu sendiri.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Diri di Hadapan Mesin
Barangkali, persoalan paling mendasar dalam perkembangan AI bukanlah apakah mesin suatu hari akan menjadi lebih pintar daripada manusia. Persoalan yang lebih dekat justru apakah manusia masih bersedia menggunakan pikirannya ketika segala sesuatu dapat dikerjakan oleh mesin.
Kita mungkin tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari informasi awal. Kita dapat meminta AI membantu menyusun kerangka tulisan atau menjelaskan teori yang belum dipahami. Kita bahkan dapat memanfaatkannya untuk menemukan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Namun, kita tetap perlu membaca, memeriksa, meragukan, dan merenungkan.
Sebab, ada perbedaan antara memperoleh jawaban dan mengalami proses memahami. Ada jarak antara mengumpulkan informasi dan membentuk pengetahuan. Dan ada perjalanan panjang antara menjadi orang yang pintar berbicara tentang kebenaran dan menjadi manusia yang sungguh-sungguh bersedia hidup dalam kebenaran.
Perjalanan itulah yang tidak boleh dihilangkan dari pendidikan.
Kita perlu bermaklum bahwa zaman telah berubah. Menolak seluruh perkembangan teknologi sama tidak bijaksananya dengan menerima setiap hasil teknologi tanpa pertimbangan. Adaptasi menuntut keterbukaan, tetapi kebijaksanaan menuntut kemampuan untuk menentukan batas.
Dalam menghadapi AI, mahasiswa tidak harus memilih antara menjadi manusia yang sepenuhnya bergantung pada teknologi atau manusia yang menolaknya sama sekali. Mereka dapat menjadikan teknologi sebagai mitra belajar, sambil tetap menjaga kemandirian berpikir dan integritas akademik.
AI boleh membantu kita menyusun kata, tetapi jangan sampai ia menentukan seluruh isi pikiran kita. AI boleh membantu kita menemukan informasi, tetapi jangan sampai kita berhenti mencari kebenaran. AI boleh mempercepat pekerjaan, tetapi jangan sampai kecepatan membuat kita melupakan tanggung jawab.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin jauh dari dirinya sendiri. Sebaliknya, kemajuan itu semestinya menjadi kesempatan untuk memahami kembali apa yang membuat manusia berharga: kemampuannya berpikir, kesediaannya belajar, keberaniannya mengakui kesalahan, dan keteguhannya menjaga kejujuran.
Mungkin, di tengah kecanggihan AI, tugas paling penting pendidikan justru mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana: bagaimana menjadi manusia yang tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami; tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Sebab, pengetahuan dapat tumbuh melalui bantuan mesin, tetapi kebijaksanaan menuntut kesadaran untuk mempertimbangkan makna dan akibat dari setiap tindakan.
Berkacalah pada AI untuk mengenali kemungkinan-kemungkinan baru. Bermaklumlah pada zaman untuk menerima perubahan. Namun, jangan pernah menyerahkan seluruh akal budi kepada mesin, sebab pendidikan kehilangan maknanya ketika manusia berhenti menjadi pencari kebenaran dan sekadar menjadi pengumpul jawaban.
Barangkali, di situlah kita akan menemukan makna kemajuan yang sesungguhnya: bukan ketika mesin semakin menyerupai manusia, melainkan ketika manusia, di tengah segala kecanggihan mesin, tetap berusaha menjadi lebih bijaksana.
















