Oleh: Baharuddin Moenta (Praktisi Komunikasi – Arsitek Narasi Publik)
Alhamdulillah. Pada pagi Kamis, saya menerima undangan langsung dari Ustadz Muzayyin untuk menghadiri Grand Launching SPIDI Makkah – SPIDI Islamic Edufest yang akan digelar pada 10 Oktober mendatang. Undangan itu disertai sapaan menanyakan kabar, yang tentu membuat saya senang.
Namun di balik undangan tersebut, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sebuah acara peluncuran. Saya telah mengikuti perjalanan SPIDI dalam beberapa waktu terakhir — termasuk dinamika yang melibatkan Pesantren Darul Istiqamah, orang tua siswa, dan berbagai pihak lain yang sempat mengemuka di ruang publik. Persoalan itu berkembang menjadi konflik terbuka yang menyita perhatian banyak orang.
Karena itu, ketika membaca konsep acara tersebut, saya memaknainya bukan sekadar peluncuran program pendidikan.
SPIDI tampaknya sedang berupaya menggeser panggung.
Menggeser dari konflik menuju pendidikan. Dari persoalan masa lalu menuju masa depan. Dari pemberitaan tentang sengketa dan bentrokan menuju narasi tentang Makkah, Saudi Arabia, kepemimpinan, universitas, dan generasi mendatang.
Sebagai orang yang bekerja di bidang komunikasi, saya tertarik membaca momentum ini dari sudut pandang lain: bagaimana sebuah institusi membangun kembali kepercayaan setelah krisis, dan apa tantangan yang mengikutinya?
Cerita Baru di Panggung Baru
Ada cara menarik untuk memahami sebuah peluncuran — bukan hanya melihat apa yang diluncurkan, melainkan mengapa dilakukan saat ini dan narasi apa yang sedang dibangun.
Grand Launching SPIDI Makkah mengusung kata-kata kunci yang mencolok: Makkah, Saudi Arabia, Kepemimpinan, Pendidikan Islam, Universitas, Masa Depan. Acara ini menampilkan bincang publik, program kepemimpinan, pameran pembelajaran, hingga pengenalan universitas, dengan kehadiran sejumlah tokoh.
Di permukaan, ini adalah agenda pendidikan. Namun dalam perspektif komunikasi publik, ini lebih dari itu. SPIDI sedang menawarkan cerita baru.
Selama ini, ketika nama SPIDI muncul di ruang publik, asosiasi yang terbentuk tidak selalu positif. Konflik yang terjadi menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan tersebut. Kini panggungnya berubah: SPIDI mengajak publik berbicara tentang masa depan, pengalaman belajar di luar negeri, dan kualitas generasi muda.
Ini adalah reposisi narasi — upaya mengubah cara masyarakat melihat sebuah institusi dengan menghadirkan kisah yang berbeda.
Reputasi Tidak Pulih Hanya dengan Kata
Dalam manajemen reputasi, ada satu hal yang dipahami: terlalu banyak membahas krisis justru membuat krisis itu tetap hidup. Setiap klarifikasi bisa melahirkan pertanyaan baru; setiap bantahan berpotensi menghidupkan kembali isu lama.
Karena itu, menciptakan topik baru adalah salah satu jalan memulihkan kepercayaan. SPIDI tampaknya mengambil arah ini — tidak terus-menerus membahas apa yang terjadi, melainkan menunjukkan apa yang sedang dibangun.
Namun perlu diingat: reposisi bukan berarti menghapus masa lalu. Peluncuran acara tidak otomatis menyelesaikan persoalan reputasi. Sebab kepercayaan tidak dibangun melalui satu acara besar, melainkan melalui pengalaman yang dirasakan — oleh siswa, orang tua, guru, mitra, hingga masyarakat sekitar.
Pertumbuhan dan Persepsi yang Harus Dijaga
Di sinilah kehati-hatian diperlukan. Jika salah satu akar konflik sebelumnya berkaitan dengan persepsi tentang sumber daya, ruang, dan pengaruh, maka pertumbuhan SPIDI bisa menimbulkan pandangan baru. Saya menggunakan kata persepsi secara sengaja — dalam dinamika sosial, apa yang dirasakan orang sering kali sama pentingnya dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
Ketika satu pihak terlihat semakin berkembang, sementara pihak lain merasa ruangnya menyempit, kemajuan itu bisa dipersepsikan sebagai ancaman. Semakin berhasil SPIDI membangun citra barunya, semakin besar pula perhatian yang muncul. Maka panggung baru jangan sampai melahirkan ketegangan baru.
Bukan Panggung Kemenangan, Melainkan Panggung Bersama
Prinsip penting yang saya harap dipegang: jangan tampil sebagai pemenang. Jadikan acara ini sebagai panggung pertumbuhan, bukan kemenangan.
Tidak perlu membandingkan. Tidak perlu mengungkit siapa yang pernah berkonflik dengan siapa. Tidak memberi kesan bahwa SPIDI telah memenangkan sebuah pertarungan.
Narasi yang lebih sehat justru ini: kemajuan SPIDI adalah bagian dari kemajuan pendidikan Islam. Dengan demikian, pertumbuhannya tidak menciptakan pihak yang merasa dikalahkan. SPIDI tidak tampil merebut ruang, melainkan membuka ruang.
Menjadi Jembatan, Bukan Tembok
Jika SPIDI ingin menjadi lembaga pendidikan Islam yang diakui hingga ke mancanegara, pertumbuhannya tidak boleh berhenti pada pembangunan dirinya sendiri. SPIDI dapat berperan sebagai pusat penghubung — menyatukan sekolah, pesantren, universitas, alumni, orang tua, tokoh pendidikan, dunia usaha, serta jaringan pendidikan Indonesia–Saudi Arabia.
Dengan begitu, keberadaannya tidak dipersepsikan mengambil milik orang lain, melainkan memperluas akses bagi banyak pihak. Bukan membatasi peluang, melainkan membuka jalan. Inilah yang membuat pemulihan kepercayaan menjadi berkelanjutan.
Masa Lalu Diatasi dengan Karya, Bukan Dihapus
Di era digital, jejak tidak mudah hilang. Yang bisa dilakukan adalah menumpuk begitu banyak karya baru sehingga publik memiliki alasan yang lebih kuat menilai institusi ini dari apa yang dilakukannya hari ini.
Maka yang dibutuhkan bukan sekadar panggung megah, melainkan bukti nyata: kualitas pendidikan yang terjaga, lulusan yang bermanfaat, tata kelola yang transparan, jejaring yang menguntungkan banyak pihak, serta kemampuan tumbuh berdampingan dengan lingkungan sekitar.
Awal dari Perjalanan yang Sebenarnya
10 Oktober bukanlah akhir dari pemulihan citra, melainkan permulaan. SPIDI kini berada di persimpangan: apakah tetap diingat sebagai lembaga yang pernah terlibat konflik, atau justru dikenal sebagai institusi yang mampu belajar, memperbaiki diri, dan tumbuh menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan Islam?
Jawabannya tidak ditentukan oleh satu acara. Ia ditentukan oleh apa yang dilakukan sesudahnya.
Karena pada akhirnya, reputasi bukanlah apa yang dikatakan sebuah institusi tentang dirinya. Reputasi adalah apa yang dipercaya orang setelah melihat apa yang dilakukan secara konsisten.
Tantangan terbesarnya kini bukan sekadar menggeser panggung, melainkan memastikan panggung baru itu benar-benar membawa cerita baru — cerita yang tidak hanya tentang seberapa besar ingin tumbuh, tetapi seberapa besar manfaat pertumbuhan itu bagi orang lain.
Sebab lembaga pendidikan yang besar bukanlah yang hanya berhasil membangun dirinya sendiri. Ia adalah lembaga yang ketika tumbuh, membuat lingkungan di sekitarnya ikut merasa tumbuh.














