Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Muslimat NU Sulsel Bangun Semangat Kaderisasi Muslimat di Takalar

×

Muslimat NU Sulsel Bangun Semangat Kaderisasi Muslimat di Takalar

Sebarkan artikel ini

TAKALAR — Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan terus mendorong penguatan kaderisasi di daerah.

Langkah ini dilakukan untuk melahirkan kader Muslimat yang aktif, proaktif, dan mampu menjadi penggerak umat.

Example 500x700

Pesan tersebut disampaikan dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang dirangkaikan dengan Penguatan Kemuslimatan.

Kegiatan itu sekaligus dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Ranting Muslimat NU Kalabbirang, Sabtu (12/9/2026).

Acara berlangsung di Kosuka Coffee Senja, Galesong Utara, Takalar, dalam suasana penuh keakraban.

Kegiatan dilaksanakan PC Muslimat NU Takalar bekerja sama dengan PAC Muslimat NU Kecamatan Galesong Utara.

Hadir Pimpinan Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan, Dr. Hj. Mardyawati Yunus, M.Pd., Prof. Dr. Fatmawati Hilal, S.Ag., M.Ag.

Turut hadir Marliah Rahim, S.Ag., M.Ag., Ketua PC Muslimat NU Takalar Dra. Hj. Dahliah, S., M.Pd., dan Ketua PAC Muslimat NU Galesong Utara.

Hadir pula jajaran pengurus serta Pengurus Ranting Muslimat NU Kalabbirang yang mengikuti prosesi pelantikan.

Kaderisasi Tak Boleh Berhenti di Jabatan

Mewakili PW Muslimat NU Sulsel, Sekretaris Umum Dr. Hj. Mardyawati Yunus, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan kemuslimatan.

Menurutnya, penguatan kemuslimatan menjadi bagian penting dalam membangun kaderisasi organisasi yang berkelanjutan.

Muslimat NU memiliki peran strategis dalam bidang keagamaan, keluarga, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan perempuan.

Peran tersebut juga mencakup pembinaan generasi muda serta berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Karena itu, pengurus Muslimat NU tidak boleh berhenti hanya pada jabatan dan aktivitas administratif organisasi.

Pengurus harus mampu hadir di tengah masyarakat dan ikut menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat.

Ia berharap pengurus Muslimat NU di Takalar semakin proaktif, kreatif, responsif, dan konsisten dalam menjalankan pengabdian.

Sinergi dengan berbagai Badan Otonom NU juga dinilai penting untuk memperkuat gerakan dan memperluas manfaat organisasi.

“Menjadi pengurus bukan sekadar memiliki jabatan, tetapi bagaimana amanah tersebut dijalankan melalui kerja dan pengabdian.”

Maulid Menjadi Momentum Keteladanan

Hikmah Maulid Nabi sekaligus materi Penguatan Kemuslimatan disampaikan Prof. Dr. Fatmawati Hilal, M.Ag., Pengurus Wilayah Muslimat NU Sulsel.

Prof. Fatmawati menjelaskan bahwa Maulid Nabi menjadi momentum penting untuk mengenal kembali sosok Rasulullah Muhammad saw.

Menurutnya, umat Islam meyakini Nabi Muhammad saw. sebagai teladan dan panutan agung dalam kehidupan.

Untuk dapat meneladani Rasulullah, umat perlu terlebih dahulu mengenal pribadi, akhlak, dan karakter mulia beliau.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua perbuatan Nabi saw. otomatis memiliki status hukum yang sama bagi umat.

Ada perbuatan yang wajib bagi Nabi, tetapi hukumnya sunnah bagi umat, seperti shalat tahajud.

Ada pula hal yang dibolehkan bagi Nabi tetapi tidak berlaku bagi umat, seperti puasa wishal dan beberapa kekhususan perkawinan Nabi.

Sebaliknya, terdapat sesuatu yang haram bagi Nabi tetapi boleh bagi umat, seperti menerima zakat.

Peserta juga diajak memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw. dalam berbagai situasi.

Dari Pengurus Menjadi Penggerak

Dalam penguatan kemuslimatan, Prof. Fatmawati mengajak peserta membangun karakter Muslimat yang sesungguhnya.

Karakter tersebut dibangun melalui penguatan keislaman, ke-NU-an, keperempuanan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Menurutnya, lima aspek tersebut penting menjadi fondasi bagi kader Muslimat dalam menjalankan pengabdian.

Kader Muslimat juga didorong memiliki mentalitas untuk mau hadir di tengah masyarakat dan memahami persoalan umat.

Selain itu, kader harus memiliki kemauan untuk belajar, bekerja, bekerja sama, dan berkorban.

Mentalitas tersebut menjadi modal penting agar kader tidak hanya aktif dalam kegiatan seremonial organisasi.

Kaderisasi harus mampu melahirkan kader yang siap menggerakkan organisasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam semangat “Muslimat NU Bergerak: dari Pengurus menjadi Penggerak.”

Semangat itu menjadi pengingat bahwa struktur organisasi harus diikuti dengan kerja nyata dan pengabdian.

Muslimat NU Harus Terus Bergerak

Kegiatan berlangsung khidmat namun tetap cair dan penuh keakraban di antara para peserta.

Penyampaian Prof. Fatmawati yang lugas dan santai, diselingi humor, membuat peserta lebih rileks.

Suasana tersebut sekaligus membuat pesan-pesan penguatan organisasi lebih mudah diterima oleh peserta.

Melalui kegiatan ini, PW Muslimat NU Sulsel berharap semangat kaderisasi semakin tumbuh di Kabupaten Takalar.

Kepengurusan hingga tingkat ranting diharapkan tidak sekadar menjadi struktur administratif organisasi.

Namun, struktur tersebut harus berkembang menjadi basis gerakan perempuan NU yang aktif dan responsif.

Dengan kader yang solid dan kompak, Muslimat NU diharapkan semakin kuat dalam memberikan manfaat bagi umat.

Kaderisasi pun diharapkan melahirkan lebih banyak perempuan NU yang siap hadir, bergerak, dan berkhidmat di tengah masyarakat.(Irfan)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *